Kamis, 29 April 2010

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al Baqarah ayat 30

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al Baqarah ayat 30



وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
o
Tafsir
Allah Ta'ala memberitahukan ihwal pemberian karunia kepada Bani Adam dan penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di al-Mala'ul A'la, sebelum mereka diadakan. Maka Allah berfirman,
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat."
Maksudnya, hai Muhammad, ceritakanlah hal itu kepada kaummu.
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi."
Yakni, suatu kaum yang akan menggantikan satu sama lain, kurun demi kurun, dan generasi demi generasi, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Dialah yang menjadikankamu sebagai khalifah-khalifah di bumi." (Faathir ayat 39)

Itulah penafsiran khalifah yang benar, bukan pendapat orang yang mengatakan bahwa Adam merupakan khalifah Allah di bumi dengan berdalihkan firman Allah, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi."

Abdur Razaq, dari Muammar, dan dari Qatadah berkata berkaitan dengan firman Allah,
"Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan padanya."
Seolah-olah Allah memberitahukan kepada para malaikat bahwa apabila di bumi ada makhluk, maka mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana. Perkataan malaikat ini bukanlah sebagai bantahan kepada Allah sebagaimana diduga orang, karena malaikat disifati Allah sebagai maklilulc yang tidak dapat menanyakan apa pun yang tidak diizinkan-Nya.

Ibnu Juraij berkata baliwa sesungguhnya para malaikat itu berkata menurut apa yang telah diberitahukan Allah kepadanya ihwal keadaan penciptaan Adam. Maka malaikat berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya?" Ibnu Jarir berkata, "Sebagian ulama mengatakan, 'Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti itu, karena Allah mengizinkan mereka untuk bertanya ihwal hal itu setelah diberitahukan kepada mereka baliwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam. Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya?" Sesungguhnya mereka bermaksud mengatakan bahwa di antara keturunan Adam itu ada yang melakukan kerusakan. Pertanyaan itu bersifat meminta informasi dan mencari tahu ihwal hikmah. Maka Allah berfirman sebagai jawaban atas mereka, "Allah berkata,
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"
yakni Aku mengetahui kemaslahatan yang baik dalam penciptaan spesies yang suka melakukan kerusakan seperti yang kamu sebutkan, dan kemaslahatan itu tidak kamu ketahui, karena Aku akan menjadikan diantara mereka para nabi, rasul, orang-orang saleh, dan para wali. Insya Allah, saya akan mengemukaan pendapat Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas dan beberapa sahabat dan tabi'in tentang hikmah yang terkandung dalam firman Allah,"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Diperoleh dari "http://superpedia.rumahilmuindonesia.net/wiki/Tafsir_Ibnu_Katsir_Surah_Al_Baqarah_ayat_30"
Kategori: Al Quran Al Karim | Tafsir Al Quran | Al Baqarah | Tafsir Ibnu Katsir


Di dalam ayat-ayat sebelumnya Allah berbicara tentang nikmat-nikmat materi-‎Nya yang tak terhitung jumlahnya bagi para penghuni bumi. Sedangkan ayat ‎ini menjelaskan posisi dan kedudukan maknawi manusia, yang membuatnya ‎pantas menerima segala nikmat itu. Setelah menciptakan manusia, Allah swt ‎menyodorkan permasalahan ini kepada para Malaikat, yaitu bahwa Adam ‎memiliki kelayakan dan kepantasan sedemikian besar, sehingga Allah telah ‎menetapkannya sebagai wakil-Nya di bumi, dan mencapai pangkat ‎khalifatullah. ‎‎
Akan tetapi para Malaikat menyatakan kekhawatiran mereka dan mengatakan ‎bahwa bagaimana mungkin seseorang yang keturunannya bakal membuat ‎kerusakan dan pertumpahan darah diangkat sebagai khalifatullah di bumi?‎
Para Malaikat berpikir bahwa jika Allah ingin mengangkat wakil di bumi , maka ‎wakil tersebut haruslah jauh dari segala macam dosa dan kejahatan, serta ‎sepenuhnya mentaati Allah. Dan dengan pengetahuan yang mereka miliki ‎tentang alam dan watak-watak manusia, maka mereka merasa heran, apa ‎sebabnya Allah swt bukannya memberikan kedudukan mulia seperti itu ‎kepada para Malaikat-Nya yang selalu berada dalam ibadah dan ketaatan ‎kepada-Nya, tetapi memberikannya kepada manusia. ‎
Dalam menjawab pertanyaan para Malaikat, Allah swt menyebutkan, kalian ‎hanya melihat titik kelemahan manusia. Sedangkan kalian tidak mengetahui ‎segi-segi positifnya yang sangat berharga. Akan tetapi Aku mengetahui ‎sesuatu yang kalian tidak mengetahuinya. Jika kalian menganggap bahwa ‎tasbih dan tahmid yang selalu kalian lakukan itu sebagai alasan kelebihan ‎kalian terhadap manusia dalam mencapai kedudukan sebagai khalifatullah, ‎maka ketahuilah bahwa diantara umat manusia terdapat banyak orang yang ‎lebih unggul dari pada kalian dan memiliki kelayakan untuk menduduki ‎pangkat mulia ini. ‎
Tentu saja perlu ditegaskan bahwa bukan semua manusia merupakan ‎khalifatullah di muka bumi, dan yang dimaksudkan dengan khalifah Allah di ‎bumi ialah bahwa Allah yang telah menciptakan manusia "fi ahsanit taqwim" ‎dengan sebaik-baik penciptaan, dan telah meniupkan ruh-Nya ke dalam tubuh ‎manusia , maka hendaklah manusia memelihara sebaik-baiknya semua ‎potensi yang telah Allah berikan itu, sehingga mampu berperan sebagai ‎khalifah Allah di bumi.‎
Contoh dari orang-orang yang demikian itu, yang telah terpilih sebagai ‎khalifatullah di bumi, ialah para Nabi, para Imam, mukminin dan solihin serta ‎para syuhada. Ketika manusia tidak mampu memelihara potensi-potensi Ilahi ‎itu dan merusaknya, jadilah mereka sama seperti hewan bahkan keadaan ‎mereka lebih buruk lagi, sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Quran: "Ulaa ‎ika kal an'am bal hum adhal" "Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan ‎lebih sesat lagi". Jelas sekali bahwa ditunjuknya manusia sebagai wakil untuk ‎mengelola bumi, sama sekali tidak menunjukkan kelemahan Allah dalam ‎mengatur bumi. Tetapi menunjukkan kemuliaan dan keutamaan kedudukan ‎manusia yang memperoleh kelayakan untuk menduduki jabatan khalifatullah; ‎selain bahwa sistem penciptaan dan pengaturan alam ini berjalan di atas ‎dasar kausalitas.‎
Artinya, meskipun Allah swt mampu secara langsung mengatur dan ‎mengelola alam jagat raya ini, namun untuk menjalankan segala urusan Allah ‎menciptakan perantara-perantara dan sebab-sebab; sebagaimana berkenaan ‎dengan para Malaikat Allah berfirman yang artinya, "Dan demi para Malaikat ‎yang mengatur urusan alam." Artinya, Allah swt juga menyerahkan sebagian ‎urusan alam ini kepada para Malaikat. Meskipun pengatur yang sebenarnya ‎segala urusan alam ini ialah Allah sendiri sebagaimana yang Dia firmankan: ‎‎"Yudab birul Amr", Dia-lah yang mengatur segenap urusan. ‎

Dari ayat tadi terdapat delapan poin pelajaran yang dapat dipetik:‎
‎1. Posisi dan kedudukan manusia di alam ini sangat tinggi, sebagaimana yang ‎Allah paparkan masalah tersebut di hadapan para Malaikat-Nya.‎
‎2. Pengangkatan wakil dan pemimpin Ilahi, ada di tangan Allah. ‎
‎3. Penjelasan topik-topik penting yang menimbulkan pertanyaan, dan ‎pemberian jawaban bagi soal-soal serta hal-hal yang belum jelas, adalah ‎perbuatan yang sangat berharga, sebagaimana yang Allah perbuat berkenaan ‎dengan penciptaan manusia, sehingga hilanglah ketidakjelasan dan keraguan ‎para Malaikat.‎
‎4. Pemimpin dan khalifah Allah haruslah seorang yang adil bijaksana, bukan ‎orang yang fasik dan pembuat kerusakan. Oleh karena itu para Malaikat ‎bertanya, bagaimana mungkin manusia yang suka menumpahkan darah ‎berperan sebagai wakil Allah di bumi?‎
‎5. Dalam membandingkan diri kita dengan orang lain, hendaknya kita tidak ‎melihat hanya segi-segi negatif dan titik-titik kelemahan orang lain, dan ‎melihat diri kita sendiri hanya dari segi-segi positif, lalu kita tergesa-gesa ‎mengambil kesimpulan.‎
‎6. Ukuran kemuliaan dan keutamaan bukan hanya ibadah. Akan tetapi ‎diperlukan hal-hal lain. Meskipun para Malaikat memiliki kelebihan dibanding ‎dengan manusia dalam hal ibadah kepada Allah, namun mereka tidak dipilih ‎oleh Allah untuk menjadi khalifah-Nya di bumi.‎
‎7. Penyimpangan dan kesesatan sejumlah manusia, tidak menghalangi ‎perkembangan dan kesempurnaan manusia-manusia yang lain. Meskipun ‎Allah mengetahui bahwa sekelompok manusia akan memilih jalan kesesatan, ‎namun Allah tidak mencegah penciptaan dan pengangkatan manusia sebagai ‎khalifah-Nya.‎
‎8. Mengajukan pertanyaan dengan tujuan menambah pengetahuan dan ‎menyingkirkan ketidakjelasan, sama sekali tidak terlarang, bahkan merupakan ‎kebaikan. Pertanyaan para Malaikat bukan untuk memprotes perbuatan dan ‎rencana Allah, tetapi untuk menghapus ketidakjelasan yang ada pada ‎mereka.‎

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar