Minggu, 21 April 2013

LANDASAN FILOSOFIS DAN PSIKOLOGIS PENGEMBANGAN KURIKULUM PAI



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Tanpa ada kurikulum proses pembelajaran tidak akan berhasil yang baik, bagai kapal tanpa nahkoda.[1] Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan, khususnya kurikulum PAI di Madrasah, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan kurikulum tersebut sama-sama membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal dalam pendidikan.
            Agar tujuan dari suatu kurikulum PAI di madrasah dapat benar-benar tercapai, maka perlu adanya suatu pengembangan kurikulum yang berdasarkan pada landasan-landasan serta prinsip-prinsip yang berlaku. Hal ini mengingat bahwa suatu kurikulum tersebut diharapkan dapat memberikan landasan dan menjadi pedoman bagi pengembangan kemampuan siswa secara optimal sesuai dengan tuntutan dan tantangan perkembangan masyarakat serta dapat menjadi siswa yang beriman dan bertakwa.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka dapat diambil sebuah rumusan masalah, diantaranya yaitu :
1.      Apa pengertian landasan filosofis pengembangan kurikulum PAI ?
2.      Apa pengertian landasan psikologis pengembangan kurikulum PAI ?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui landasan filosofis pengembangan kurikulum PAI
2.      Mengetahui landasan psikologis pengembangan kurikulum PAI
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Landasan Filosofis Pengembangan Kurikulum PAI
Filsafat berasal dari kata Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan “Sophia”. Philos, artinya cinta yang mendalam¸dan Sophia adalah kearifan atau kebijaksanaan. Tujuan pendidikan harus mengandung ketiga hal berikut:
1.      Autonomy: artinya memberik kesadaran, pengetahuan dan kemampuan yang prima kepada setiap individu dan kelompok untuk dapat mandiri dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik.
2.      Equity: artinya pendidikan harus memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam kebudayaan dan  ekonomi.
3.      Survival: artinya pendidikan bukan saja harus dapat menjamin terjadinya pewarisan dan memperkaya kebudayaan dari generasi ke generasi akan tetapi juga harus memberikan pemahaman akan saling ketergantungan antara manusia.

Orang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang mengerti dan berbuat secara bijak. Untuk dapat mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, ia harus tahu atau berpengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh melelui proses berfikir, yaitu berfikir secara sistematis, logis, dan mendalam. Pemikiran demikian dalam filsafat sering disebut sebagai pemikiran radikal, atau berpikir sampai ke akar-akarnya (radic berarti akar).
Filsafat mencakup keseluruhan pengetahuan manusia,berusaha melihat segala yang ada ini sebagai satu kesatuan yang menyeluruh dan mencoba mengetahui kedudukan manusia didalamnya.
Filsafat membahas segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia termasuk masalah-masalah pendidikan ini yang disebut filsafat pendidikan. Walaupun dilihat sepintas, filsafat pendidikan ini hanya merupakan aplikasi dari pemikiran-pemikiran filosofis untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan, tetapi antara keduanya yaitu antara filsafat dan filsafat pendidikan terdapat hubungan yang sangat erat. Menurut Donald Butler, filsafat memberikan arah dan metodologi terhadap praktik pendidikan, sedangkan praktik pendidikan memberikan bahan-bahan bagi pertimbangan-pertimbangan filosofis.
Tujuan pendidikan diarahkan untuk mencapai suatu kehidupan yang demokratis. Demokratis bukan dalam arti politik, melainkan sebagai cara hidup bersama sebagai way of life, pengalaman bersama dan komunikasi bersama. Tujuan pendidikan terletak pada proses pendidikan itu sendiri, yaitu kemampuan dan keharusan individu meneruskan perkembangannya. John Dewey menegaskan bahwa pendidikan itu tidak mempunyai tujuan, hanya orang tua, guru, dan masyarakat yang mempunyai tujuan.
Untuk mengetahui bagaimana proses belajar terjadi pada anak, baiklah kita lihat bagaimana syarat-syarat unyuk pertumbuhan. Pendidikan sama dengan pendidikan. Syarat-syarat pertumbuhan adalah adanya kebelum dewasaan (immaturity), yang berartikemampuan untuk berkembang. Immaturity tidak berarti negative, tetapi positif, kemampuan, kecakapan, dan kekuatan untuk tumbuh. Ini menunjukan bahwa anak adalah hidup, ia memiliki semangat untuk berbuat. Pertumbuhan bukan suatu yang haruskita berikan, pertumbuhan adalah sesuatu yang harus mereka lakukan sendiri.
Ada dua sifat dari immaturity yakni kebergantungan dan plastisitas. Kebergantungan berarti kemampuan untuk menyatakan hubungan social dan ini akan menyebabkan individu itu matang dalam hubungan social. Sebagai hasilnya, akan tumbuh kemampuan interpendensi atau saling kebergantungan antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lain. Plastisitas mengandung pengertian kemampuan untuk berubah. Plastisitas juga berarti habitat yaitu kecakapan menggunakan keadaan lingkungan sebagai alat untuk mencapai tujuan, bersifat aktif mengubah lingkungan.
Kapankah proses belajar itu dimulai dan kapankah berakhir ? Sesuai dengan pandangan John Dewey, bahwa pendidikan itu adalah pertumbuhan itu sendiri. Karena itu, pendidikan itu dimulai sejak lahir dan berakhir pada saat kematian. Demikian pula proses belajar tidak dapat dilepaskan dari proses pendidikan. Pendidikan adalah pengalaman, yaitu suatu proses yang berlangsung terus menerus. Bagaimana hubungan antara proses belajar, pengalaman, dan berpikir ?
Pengalaman itu bersifat pasif dan aktif. Pengalaman yang bersifat aktif berarti berusaha, mencoba, dan mengubah, sedangkan pengalaman pasif berarti menerima dan mengikuti saja. Kalau kita mengalami sesuatu maka kita berbuat, sedangkan kalau mengikuti sesuatu kita memperoleh akibat atau hasil. Belajar dari pengalaman berarti menghubungkan kemunduran dengan kemajuan dalam perbuatan kita, yakni kita merasakan kesenangan atau penderitaan sebagai suatu akibat atau hasil.
Menurut dewey syarat-syarat penyusunan bahan-bahan ajar sebagi berikut :
1.      Bahan ajaran hendaknya konkret, dipilih yang betul-betul bergunadan dibutuhkan, dipersiapkan secara sistematis dan mendetail.
2.      Pengetahuan yang telah diperoleh sebagai hasil belajar, hendaknya ditempatkan dalam kedudukan yang berarti, yang memungkinkan dilaksanakannya kegiatan baru, dan kegiatan yang lebih menyaluruh.
Bahan pelajaran bagi anak tidak bias semata-mata diambil dari buku pelajaran, yang diklasifikasikan dalam mata-mata pelajaran yang terpisah. Bahan pelajaran harus berisikan kemungkinan-kemungkinan, harus mendorong anak untuk bergiat dan berbuat. Bahan pelajaran harus memberikan rangsangan pada anak-anak untuk bereksperimen. Demikianlah dengan bahan pelajaran ini, kita mengharapkan anak-anak yang aktif, anak-anak yang bekerja, anak anak yang bereksperimen. Bahan pelajaran tidak diberikan dalam disiplin-disiplin ilmu yang ketet, tetapi kegiatan yang berkenaan dengan sesuatu masalah (problem).
Metode mengajar merupakan penyusunan bahan pelajaran yang memungkinkan diterima oleh para siswa dengan lebih efektif. Sesuatu metode tidak pernah terlepas dari bahan pelajaran, kita dapat membedakan cara berbuat, tetapi cara ini hanya ada sebagai cara berhubungan dengan bahan atau atau materi tertentu. Metode mengajar harus fleksibel dan menimbulkan inisiatif kepada para siswa.
 Didalam kontrol social ini tidak ada peraturan umum, sebab kontrol social tidak datang dari luar, tetapi timbul dari kegiatannya sendiri. Tugas guru sdalah memberikan bimbingan dan mengusahakan kerjasama secara individual. Para siswa dibagi dalam kelompok-kelompok, dan bekerja dalam kelompok, bahkan guru termasuk sebagai anggota kelompok. Tentu saja sebagai orang dewasa, ia mempun yai tanggung jawab yang khusus, yaitu memelihara interaksi dan komunikasi, mendorong kelompok untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti dalam kehidupan masyarakat.

B.     Landasan Psikologis Pengembangan Kurikulum PAI
Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antar individu manusia, yaitu antara peserta didik dengan pendidik dan juga antara peserta didik dengan orang-orang yang lainnya. Manusia berbeda dengan mahluk lainnya, karena kondisi psikologisnya.
Secara psokologis, anak didik memiliki keunikan dan perbedaan-perbedaan baik perbedaan minat, bakat, maupun potensi yang dimilikinya sesuai dengan tahapan perkembangannya. Dengan alasan itulah, kurikulum harus memperhatikan kondisi psikologis perkembangan dan belajar anak.
Apa yang dimaksud dengan kondisi psikologis itu ? kondisi psikologis merupakan karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk prilaku dalam interaksi dalam lingkungannya.perilaku-perilaku tersebut merupakan manifestasi dari cirri-ciri kehidupannya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, perilaku kognitif, afektif dan psikomotor.
Interaksi pendidikan dirumah berbeda dengan di sekolah, interaksi antara anak dan guru pada jenjang sekolah dasar berbeda dengan jenjang sekolah lanjutan pertama dan sekolah lanjutan atas.
Tanpa pendidikan di sekolah, anak tetap berkembang, tetapi dengan pendidikan di sekolah tahap perkembangannya menjadi lebih tinggi dan lebih luas.
Ada dua bidang psikologi yang mendasar Psikologi Perkembangan dan Psikologi Belajar.
1)      Psikologi perkembangan
Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid dengan sel telur sampai dengan dewasa.
a.       Metode dalam psikologi perkembangan
1)      Studi longitudinal menghimpun informasi tentang perkembangan individu melalui pengamatan dan pengkajian perkembangan sepanjang masa perkembangan, dari saat lahir sampai dengan dewasa, seperti yang pernah dilakukan oleh Williard C. Olson.
2)      Metode cross sectional
Mempelajari beribu-ribu anak dari berbagai tingkatan usia, mencatat cirri-ciri fisik dan mebtal, pola-pola perkembangan dan kemampuan serta perilaku mereka.
3)      Studi psikoanalitik
Mempelajari perkembangan anak pada masa-masa sebelumnya, terutama pada masa kanak-kanak (balita)
4)      Sosiologik
Mempelajari perkembangan anak dilihat dari tuntutan akan tugas-tugas tang harus dihadapi dan dilakukan dalam masyarakat sebagai tugas-tugas perkembangan.
5)      Studi kasus
Dengan mempelajari kasus-kasus tertentu, para ahli psikologi perkembangan menarik beberapa kesimpulan tentang pola-pola perkembangan anak.
b.      Teori perkembangan
1)      Pendekatan pentahapan
Pendekatan individu berjalan melalui tahap-tahap perkembangan. Setiap tahap perkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan tahap yang lainnya.
2)      Pendekatan diferensisl
Melihat bahwa individu memiliki persamaan dan perbedaan. Atas dasar persamaan dan perbedaan tersebut individu dikategorikan atas kelompok-kelompokyang berbeda
3)      Pendekatan isaptif
Pendekatan yang berusaha melihat karakteristik individu –individu.
2)      Psikologi belajar
Belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman . segala perubahan tingkah laku baik yang berbentuk kognitif, afektif, maupun psikomotor yang terjadi karena proses pengalaman dapat dikategorikan sebagai perilaku belajar. Perubahan – perubahan perilaku yang terjadi karena instink atau karena kematangan serta pengaruh hal – hal yang bersifat kimiawi tidak termasuk belajar.



























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

1.      Filsafat pendidikan dipengaruhi oleh dua hal yang pokok, yaitu cita-cita masyarakat dan kebutuhan peserta didik yang hidup di masyarakat.  Filsafat adalah cinta pada kebijaksanaan (love of wisdom). Agar seseorang dapat berbuat bijak, maka harus berpengetahuan, pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berpikir secara sistematis, logis dan mendalam. Filsafat dipandang sebagai induk segala ilmu karena filsafat mencakup keseluruhan pengetahuan manusia yaitu meliputi metafisika, epistimologi, aksiologi, etika, estetika, dan logika.[2]
2.      Landasan psikologis ,kurikulum belajar mengetengahkan beberapa teori belajar yang masing-masing menelaah proses mental dan intelektual perbuatan belajar tersebut. Kurikulum yang dikembangkan sebaiknya selaras dengan proses belajar yang dilakukan oleh siswa sehingga proses belajarnya terarah dengan baik dan tepat.[3]

B.     Kata Penutup

Sebagai akhir kata dalam makalah ini, kami mengucapkan puji syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami sangat menyadari bahwa didalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan juga kesalahan yang butuh pembenahan, yang mungkin disebabkan oleh terbatasnya tenaga, waktu, biaya dan keterbatasan data dan pengetahuan yang kami miliki.
Oleh karena itu kami mengharapkan adanya kritik atau saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini.
Akhirnya kami berharap tulisan ini dapat bermanfat bagi pembaca dan masyarakat luas, khususnya bagi mahasiswa-mahasiswi INISNU Jepara. Dan segala puji bagi Allah SWT dan sholawat serta salam atas Rosul-Nya, semoga kami selalu dalam bimbingan, lindungan dan ridho-Nya. Aminnnn…

























DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi. Yogyakarta: Teras. 2009.

Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008.





[1] Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi. ( Yogyakarta: Teras, 2009), hlm 21.

[2] Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm 57.

[3] Ibid, hlm. 58.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar