Selasa, 16 Agustus 2011

Manajemen Bimbingan Konseling di Sekolah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan dengan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Dalam hal ini, tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Dimana suatu progam pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak mungkin akan tersusun, terselenggara dan tercapai apabila tidak dikelolah dalam suatu sistem manajemen yang bermutu. Manajemen yang bermutu sendiri akan banyak ditentukan oleh kemampuan manajer pendidikan di sekolah dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, dan mengendalikan sumber daya yang ada.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, dapat kita tarik kesimpulan tentang rumusan masalah yang akan dibahas sebagai berikut :
1. Pengertian Manajemen Bimbingan dan Konseling !
2. Paradigma Baru dalam Manajemen Bimbingan dan Konseling !
3. Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling !
4. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif !
C. Tujuan Penulisan
1. Agar Mahasiswa mengetahui tentang Manajemen Bimbingan dan Konseling.
2. Supaya Mahasiswa mengerti tentang Paradigma Baru dalam Manajemen Bimbingan dan Konseling.
3. Agar Mahasiswa mengetahui hal tentang Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling.
4. Supaya Mahasiswa mengetahui hal-hal tentang Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Manajemen Bimbingan dan Konseling
Istilah manajemen berasal dari kata management dalam bahasa Inggris. Banyak pakar yang mengartikan istilah manajemen dalam berbagai versi. Namun pada prinsipnya manajemen memuat makna segala upaya menggerakkan individu atau kelompok untuk bekerja sama dalam mendayagunakan sumber daya dalam suatu system untuk mencapai tujuan.
Apabila diterapkan ke dalam pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah, maka manajemen bimbingan dan konseling adalah segala upaya atau cara yang digunakan kepala sekolah untuk mendaya gunakan secara optimal semua komponen atau sumber daya (tenaga, dana, sarana/prasarana) dan system informasi berupa himpunan data bimbingan untuk menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling dalam ranga mencapai tujuan.
Hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah, diantara sebagai berikut :
1. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor
Dalam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistik-profesional. Dimana dalam pendekatan sentralistik-birokratik, konselor melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat, melalui berbagai aturan, ketentuan, petunjuk pelaksanaan, petunjuk teknis dan sebagainya. Sehingga mengakibatkan ruang gerak konselor menjadi terbatasi, sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif.
Sedangkan pendekatan desentralistik-profesional menjadikan ruang gerak konselor menjadi leluasa, dimana proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan barbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. Dalam hal ini konselor dituntut untuk bekerja secara professional.
Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan ketrampilan yang saat ini di milikinya, namun justru harus senantiasa berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya.
Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dimana kita memaklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam, baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya.
Sedangkan untuk menungkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan, salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus-menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. Misalnya, untuk menguasai teknik-teknik konseling, tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung, dan setiap selesai mempraktekkan diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Kemudian, membandingkannya dengan teori-teori yang ada, sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan.
Walaupun demikian perlu dicatat, bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh, hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara, sejalan dengan tunutnan profesionalisme.
2. Akuntabilitas Kerja Konselor
Pada masa sebelum diberlakukan Manajeman Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), akuntailitas memang tidak jelas. Sekalipun ada barang kali hanya sebatas dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai tugas mewakili pihak pemerintah. Namun, pada kenyataannya, sering kali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukan konslor, padahal hasil kerja yang ditunjukan sama sekali tidak bermutu. Akunbilitas seperti ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kerja dan produktivitas konselor.
Dengan adanya akuntabilitas ini, jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap siswa. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus siap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakan.
Apalagi dengan kehadiran Komite Seklah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakilli kepentingan masyarakat, maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidak puasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. Dan seberapa besarnya dan yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar, yang penting perstasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik, baik dalam akademik maupun non akademik.
3. Konsellor Sebagai Agen Informasi
Konselor dianggap sebagai orang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. Informasi atau data tentang siswa ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan berbagai keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. Oleh sebab itu, iinformasi harus diadministrasikan sedimikian rupa dan siap saji, kapan saja diperlukan.
Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa, yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, khususnya dalam forum komite sekolah, konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas, yang berpihak pada kepentingan siswa itu swndiri.
Dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama, koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas, akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. Untuk itulah, konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut.
B. Paradigma Baru Dalam Manajemen Bimbingan dan Konseling
Bimbingan adalah proses pemberianbantuan (proses of helping) kepada individu agar mampu memahami dan menerima diri dan lingkungannya, mengarahkan diri, dan menyesuaikan diri secara positif dan konstruktif terhadap tuntutan norma kehidupan (agama dan budaya) sehingga mencapai kehidupan yang bermakna (beerbahagia, baik secara personal maupun sosial).
Sedangkan konselinng adalah proses interaksi anatara konelor dengan klien/konsele baik secara langsunng atau tidak langsung dalam rangka membantu klien agar dapat mengembangkan potensi dirinya atatu memecahkan masalah yang dialaminya.
Menurut Akhmad Sudrajat terdapat empat komponen utama program bimbingan konseling:
1. Layanan Dasar yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatan-kegiatan kelas, yanng disajikan secara sistematis, dalam rangka membatu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinnya secara opitmal. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yanng normal, memiliki mental yang sehat, memperoleh keterampilan hidup, yanng dapat dilakkukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok.
2. Layanan Responsif yakni layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strattegi layanan konsultasi, komselinng individual, konseling kelompok, referal dan bimbingan teman sebaya.
3. Layanan Perencanaan Individual yakni bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya, berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya/. Tujuan layanan ini adalah agra peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan, merenacanakan , atau mengelola pengembanngan dirinya, baik mennyangkut aspek pribadi, sosual, belajar, maupun karier, dapat melakukan kegiatan atau aktifitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya, yang dapat dilakkukan melalui strategi penilaian individual, penasihatan individual atau kelolmpok.
4. Layanan Dukungan Sistem yakni kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan dan konseling disekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi denngan guru lain, staf lain, dan masyrakat yanng lebih luas, manajemen program, dan penellitian dan pengembangan.
Kemampuan mensiasati dan memillih strategi yanng sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan akan menjadi amunisi yanng ampuh untuk mampu menghadapi berbagai dinamika dan perubahan yang dihadapi. Untuk itu pemahaman mengenahi beberapa peran yang lazim dilakukan oleh seorang konselor perlu diperhatikan denngan baik.
Barruth dan Robinson dalam Muhammad Nur Wangid menjelaskan berbagai peran yang lazim dilakukan oleh seorang konselor:
1. Konselor sebagai seorang konselor
Pemaknaan konseli sebagai suatu layanan bagi siapapun juga yang mencari bantuan dari seseorang yang terlatih secara profesional (konselor), dan layanan yang diberikan bisa secara individu atau kelompok dengan cara mengarahkan konseli untuk memahami dan menghadapi situasi kehidupan nyata sehingga bisa membuat suatu keputusan berdasarkan pemahaman tersebut untuk kebahagiaan hidupnya adalah peranan kunci bagi konselor profesional disemua seting layanan.
2. Konselor sebagai seorang konsultan
Konselor yang efektif akan membangun atau memiliki jalinan kerja sama dengan berbagai pihak demi kepentingan konseli, ssehingga peran yang dilakukan tidak hanya terbatas pada “koselor sebagai konselor” saja. Apalagi dalam masa keterbukaan sekarang ini peran “ konselor sebagai konsultan” menjadi tuntutan yang harus dipenuhi. Konselor diharapkan dapat bekerja sama denngan berbagai pihak lain yang dapat mempengaruhi diri konseli seperti kepala sekolah, orang tua, guru, dan sebagainya yang mempengaruhi kehidupan konseli.
3. konselor sebagai agen perubahan
Keseluruhan lingkungan dari konseli harus dapat berfungsi sehingga dapat mempengaruhi kesehatan mental menjadi lebih baik, dan konselor dapat mempergunakan lingkungan tersebut untuk memperkuat atau mempertinggi berfungsinya komseli. Fungsi yang berkaitan dengan peranan ini antara lain analisis sistem, testing dan evaluasi, perencanaan rogram, perlindungan konseli, networking, dsb.
4. konselor sebagai seorang agen pencegahan utama
Sebagai agen untuk mencegah perkembangan yang salah satu dan atau mengulang kembali kesulitan. Penekanan dilakukan terutama dengan memberikan strategi dan pelatihan pendidikan sebagai cara untuk memperoleh atau meningkatkan keterampilan interpersonal.
5. konselor sebagai seorang manajer
Konselor selalu memiliki sisi peran selaku administator. Sehubungan dengan itu konselor harus sanggup menangani berbagai segi program pelayanan yanng memiliki ragam variasi pengharapan dan peran seperti telah dikemukakan diatas. Untuk itu perlu keahlian dalam perencanaan program, penilaian kebutuhan, strategi evaluasi program, penetapan tujuan, pembiayaan, dan pembuatan keputusan.

Berbagai peran yang ditanggung atau disandang seorang konselor dapat menjadi sesuatu yang berakibat konstruktif atau sebaliknya negatif. Berakibat negatif jika peran yang seharusnya dilakukan oleh konselor dipandang sebagai beban, sehingga justru menurunkan kinerja dan penghargaan dari pihak lain. Bermakna konstrutif apabila konselor dapat melaksanakan peran-peran tersebut secara tepat sesuai dengan kebutuhan dan konteks sehingga menjadikan kinerjanya semakin efektif baik dalam arti prestasi sesuai keinginan ataupun dalam prsepsi pihak lain. Dari perspektif ini berarti kemampuan konselor untuk mengatur perannnya menjadi sangat penting.
C. Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling
Perubahan yang terjadi dari faktor-faktor yang melandasi pelayanan bimbingan dan konseling (filosofi, psikologi, sosiologi dan IPTEK), telah membawa konsekuensi terhadap perubahan pola manajemen dan proses pelayanan bimbingan dan konseling. Adapun arah pergeseran perubahan tersebut dapat dilihat dalam tabel
Manajemen Bimbingan dan Konselinng
Pola Lama Pola Baru
Mentik beratkan pada siswa yang beresiko/bermasalah Melayani seluruh siswa (guidance for all)
Dilaksanakn karena adanya krisi/masalah Dilaksanaakan berdasarkan kurikulum
Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender)
Disampaikan dan dilaksanakan hanya oleh konselor Kolaborasi antara konselor, guru, orang tua dan masyarakat
Dimiliki hanya oleh staf konseling (konselor) Didukunng dan dimiliki oleh seluruh komunitas
Menngukur jumlah usaha yang dilakukan Mengukur dampak yabg dikaitkan dengan tujuan
Berurusan dengan proses melaksanakan pekerjaan Berurusan dengan pencapaian tujuan, sasaran dan hasil
Memfokuskan pada tujuan dan yang dianggap baik Memfokuskan pada pencapaian (accomplisment0
Bekerja untuk memelihara sistem yang ada Responsif dan beradaptasi dengan perubahan
Membicarakan tentang bagaimana bekerja keras Membicarakan tentang efektifitas kerja
Proses konseli Bersifat klinis Bersifat pedagogis
Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa)
Berorientasi pemecahan masalah klien (siswa) Berorientasi pengembangan potensi positif klien (siswa)
Konselor serius Menggembirakan klien (siswa)
Dialog menekan perasaan klien dan klien (siswa)sring tertutup Dialog konselor menyentuh klien (siswa), klien (siswa) terbuka
Klien sebagai objek Klien (siswa) sebagai subjek
Konselor dominan dan bertindak sebagai problem solver
Konselor hanya membantu dan memberi alternatif-alternatif

D. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif
Dalam proses konseling, seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukan perilaku secara efektif, baik perilaku verbal maupun non verbal. Barbara F.Okun telah mengidentifikasi beberapa perialku verbal non verbal konselor yang fektif sebagaimana tampak pada tabel berikut:
1. Perilaku Verbal
Efektif Tidak Efektif
Menggunakan kata-kata yang dapat diahami klien Memberi nasehat
Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa”
Penafsirn yang baik/sesuai Bersifat menentramkan klien
Membuat kesimpulan-kesimpulan Menyalahkan klien
Merespon pesan utama klien Menilai klien
Memberi dorongan minimal Membujuk klien
Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Menceramahi
Memberi informasi sesuai denngan keadaan Mendesak klien
Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri
Menggunakan humor secara tepat tentang pernnyatan klien Menggunakan kata-kata yanng tidak dimengerti
Penafsiran yang sesuai dengan situasi Penafsiran yang berlebihan
Sikap merendahkan klien
Sering menuntut/meminta klien
Menyimpang dari topk
Sok intelektual
Analisis yang berlebihan
Selalu mengarahkan klien

2. Perilaku Non Verbal
Efektif Tidak Efektif
Nada suara disesuaikan dengan klien (tenang, sedang) Berbicara terlalu cepat dan terlalu pelan
Memelihara kontak mata dengan baik Duduk menjauh dari klien
Sesekali mennganggukan kepala Senyum menyeringai/senyum sinis
Wajah yang bersemangat Menggerakan dahi
Kadanng-kadang memberi isyarat tangan Cemberut
Jarak dengan klien relatif dekat Merapatkanmilit
Ucapan tidak terlalu cepat/lambat Menggoyng-goyangkan jari
Duduk agak condong kearah klien Menguap
Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Gerak-gerak isyarat yang mengcaukan
Air muka ramah dan senyum Menutup mata atau mengntuk
Nada suara tidak menyenangkan
Membuang pandangan

E. Prinsip-prinsip Manajemen Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Secara umum seperti telah disebutkan di atas, prinsip-prinsip manajemen meliputi perencanaan (planing), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling). Prinsip-prinsip manajemen diatas secara terintegrasi dalam pelayanan bimbingan dan konseling akan berkenaan dengan bagaimana secara umum pelayanan bimbingan dan konseling itu dikelola.
Pertama, perenacanaan (planing). Perencanaan dalam bimbingan dan konselinng akan sangat menentukan proses dan hasil pelayanan bimbinngan dan konseling itu sendiri. Pelayanan bimbingan dan konseling sebagai suatu proses kegiatan, membutuhkan perencanaan yang matang dan sistematis dimulai dari penyusunan program hinngga pelaksanaannya. Agar pelayanan bimbingan dan konseling memperoleh hasil sesuai tujuan yang telah dirumuskan, maka harus dilakukan perencanaan. Disekolah dan di madrasah fungsi ini dilaksanakan oleh kepala sekolah, koordinasi BK (apabila disekolah dan dimadrasah yang bersangkutan memiliki banyak tenaga atau petugasbimbingan dan konseling ) dan guru BK.
Kedua, pengorganisasian (organizing). Pengorganisasian dalam pelayanan bimbingan dan konseling berkenaan dengan bagaimana pelayanan bimbinngan dan konseling dikelola dan diorganisasi. Pengelolaan dan pengorganisasian pelayanan bimbingan dan konseling berkaitan dengan model atau pola yang dianut oleh suattu sekolah dan madrsah. Apabiladiseklah dan dimadrasah yang bersangkutan memiliki banyak tenaga bimbingan, maka harus disusun organisasi pelayanan BK tersendiri yang terdiri atas koordinator, anggota, dan staf administrasi palayanan BK, fungsi ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan koordinator layanan BK (apabila sekolah dan madrasah memiliki banyak petugas bimbingan).
Ketiga, penyusunan personalia (stafing). Prinsip ini dalam pelayanan bimbingan dan konsling berkenaan dengan bagaimana para personalia atau orang-orang yang terlibat dalam aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling ditetapkan, disusun dan diadakan pembagian tugas (job discription) sebagaimana telah disebutkan dalam penyusunan program BK diatas. Guru BK akan memerlukan orang lain dalam memberikan pelayanan BK. Dengan kata lain, pelayanan BK disekolah dan dimadrasah melibatkan banyak orang. Untujk itu harus disusun para personalia atau orng-orang yang terlibat dalam layanan agar pelaksanaanya afektifdan efisien pula. Funngsi ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan madrasah yang bersangkutan memiliki beberapa orang.
Keempat, pengarahan dan kepemimpinan (leading). Prinsip ini berkenaan dengan bagaimana mengarahkan dan memimpin para personalia layanan bimbingan dan konseling, sehingga mereka bekerja sesuai dengan job atau bidang tugasnya masing-masing. Pengarahan dan kepemimpinan diperlukan agar aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling terarah pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Fungsi ini dilaksanakan oleh kepalasekolah dan madrsah yang bersangkutan hanya memiliki sattu orang guru BK. Apabila disekolah dan madrasah yang bersangkutan memiliki beberapa orang guru BK harus ditunjukan salah seorang sebagai koordinatorlah dan yanng melaksanakan fungsi pengarahan dan kepemimpinan. Secara umum fungsi ini disekolah dan madrasah dilaksanakan oleh kepala sekolah dan madrasah.
Kelima, pengawasan (controling). Prinsip ini dalam pelayanan konseling berkenaan dengan bagaimana melakukan pengawasan dan penilaian terhadap kegiatan bimbingan dan konseling mulai dari penyusunan rencana program hingga pelaksanaannya. Pengawasan penting dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling agar tidak dapat terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaannya. Iimplementasi program dalam bentuk aktivitas-aktivitas layanan BK pu perllllu pengawasan dan penilaian atau evaluasi agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangna dalam pelaksanaanya dan dapat diketahui pencapaian hasil-hasilnya. Fungsi ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan madrasah apabila disekolah dan dimadrasah yang bersangkutan hanya memiliki satu orang guru BK. Tetapi apabila disekolah dan madrasah yang bersangkutan memiliki beberapa orang guru BK. Fungsi ini dilaksanakan oleh koordinator layanan BK sekaligus juga kepala sekolah dan madrasah.



















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari makalah ini dapat kita ambil beberapa kesimpulan mengenai Manajemen Bimbingan dan Konseling, yaitu :
Manajemen bimbingan dan konseling adalah segala upaya atau cara yang digunakan kepala sekolah untuk mendaya gunakan secara optimal semua komponen atau sumber daya (tenaga, dana, sarana/prasarana) dan system informasi berupa himpunan data bimbingan untuk menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling dalam ranga mencapai tujuan.
Bimbingan adalah proses pemberianbantuan (proses of helping) kepada individu agar mampu memahami dan menerima diri dan lingkungannya, mengarahkan diri, dan menyesuaikan diri secara positif dan konstruktif terhadap tuntutan norma kehidupan (agama dan budaya) sehingga mencapai kehidupan yang bermakna (beerbahagia, baik secara personal maupun sosial).
Perubahan yang terjadi dari faktor-faktor yang melandasi pelayanan bimbingan dan konseling (filosofi, psikologi, sosiologi dan IPTEK), telah membawa konsekuensi terhadap perubahan pola manajemen dan proses pelayanan bimbingan dan konseling.
Dalam proses konseling, seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukan perilaku secara efektif, baik perilaku verbal maupun non verbal.
Secara umum seperti telah disebutkan di atas, prinsip-prinsip manajemen meliputi perencanaan (planing), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling). Prinsip-prinsip manajemen diatas secara terintegrasi dalam pelayanan bimbingan dan konseling akan berkenaan dengan bagaimana secara umum pelayanan bimbingan dan konseling itu dikelola
B. Saran
1. Semoga makalah yang kami buat bisa membantu para pembaca untuk mengetahui tentang pengertian manajemen bimbingan dan konseling.
2. Makalah yang kami buat memang tidak sempurna, sekiranya para pembaca bisa memberi kritik dan saran yang membangun untuk makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

1. Drs. Heru Mugiarso, M. Pd., dkk., Bimbingan dan Konseling. cet. 2., Semarang:UPT MKK Universitas Negri Semarang. 2005.
2. Drs. Maswan, MM dan Kuswanto, S. Ag, MM., Bimbingan dan Konseling di Sekolah – Madrasah, cet. 1., Indonesia Jepara: Karsa Manunggal. 2010
3. Drs. Thorin, M.Pd. Bimbingan dan konseling disekolah Dan Dimadrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta:PT Raja Grafindo Persada. 2007.



















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar