Selasa, 16 Agustus 2011

A. Pengertian Tela’ah Penjelasan Materi Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akidah akhlak merupakan mata pelajaran yang sangat penting bagi kehidupan manusia, yang bisa mendidik manusia supaya menjadi manusia yang bermoral dan berakhlakul karimah. Maka dari itu dalam pembelajaran, akidah akhlak diajarkan mulai dari tingkat dasar kepada anak-anak disekolah.
Dengan penjelasan materi akidah akhlak di tingkat MTs yang akan kami paparkan, hal ini bisa membantu siswa didik untuk lebih mengetahui tentang materi ajar itu sendiri, dan tentang akhlakul karimah yang baik serta pengembangan moral siswa didik dalam kehidupan sehari-hari.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka kita dapati rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengertian tentang Tela’ah Penjelasan Materi Akidah Akhlak pada MTs ?
2. Bagaimana Penjelasan materi Akidah Akhlak pada MTs ?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian dari Tela’ah Penjelasan Materi Akidah Akhlak pada MTs.
2. Untuk mengetahui penjelasan materi akidah akhlak pada MTs.
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang dapat diamlbil dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Manfaat Teoritis
Dapat mengetahui tentang Tela’ah Penjelasan Materi Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah.
2. Manfaat Praktis
a. Manfaat untuk Guru
1. Dengan adanya penjelasan mengenai Tela’ah Penjelasan Materi Akidah Akhlak MTs, akan memudahkan guru untuk memahami tentang Tela’ah dan Penjelasan Materi Akidah Akhlak.
2. Dengan adanya penjelasan ini, guru akan lebih mudah untuk memberikan materi kepada peserta didik.


b. Manfaat untuk Siswa
1. Siswa dapat mengerti tentang pentingnya menela’ah untuk memahami suatu materi ajar.
2. Untuk memudahkan siswa dalam proses pembelajaran.
c. Manfaat untuk Mahasiswa
1. Mengetahui tentang penjelasan materi akidah akhlak pada madrasah tsanawiyah.
2. Supaya mahasiswa dapat menjelaskan tentang materi akidah akhlak dengan baik kepada siswa didiknya kelak, dengan adanya tela’ah ini.

E. Sistematika Penulisan Makalah
Pada makalah yang kami buat, kami menyusun sistematika penulisan pada makalah, dimana pada makalah kami terdapat halaman judul, serta adanya kata pengantar dan daftar isi sebagai kata pembuka pada makalah kami.
Pada Bab I pada makalah kami, terdapat bab pendahuluan dimana dalam bab tersebut terdapat latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, dan manfaat penulisan serta sistematika penulisan.
Pada Bab II makalah kami berisi tentang kajian pustaka, dimana dalam bab ini menerangkan tentang pengertian tela’ah penjelasan materi akidah akhlak pada MTs dan penjelasan materi akidah akhlak pada tingkatan MTs.
Pada Bab III, kami pemakalah mencantumkan analisis, yang terdiei dari hasil analisis tentang materi penjelasan akidah akhlak pada MTs dan menganalisis aspek-aspek yang terkandung dalam materi penjelasan akidah akhlak pada MTs.
Pada Bab IV makalah kami berisi tentang penutup, dimana pada makalah kami terdapat kesimpulan dan saran serta kata penutup. Dan yang terakhir yang terdapat pada makalah kami yaitu daftar pustaka.







BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Tela’ah Penjelasan Materi Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah
a. Pengertian Tela’ah
1. Secara Etimologi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tela’ah merupakan suatu penyelidikan, kajian, pemeriksaan dan penelitian.
2. Secara Terminologi
Tela’ah adalah penyelidikan mengenai beberapa materi tentang kesulitan-kesulitan yang mungkin ada pada materi yang dikaji.
b. Pengertian Penjelasan
1. Secara Etimologi
Penjelasan berasal dari kata jelas yang berarti nyata, dan gamblang.
2. Secara Terminologi
Penjelasan adalah keterangan yang lebih jelas, uraian yang menjelaskan tentang bahan yang disampaikan.
c. Pengertian Materi
1. Secara Etimologi
Materi mempunyai arti benda.
2. Secara Terminologi
Materi adalah sesuatu yang menjadi bahan untuk diujikan, dipikirkan, dibicarakan, dikaryakan, dll.
d. Pengertian Akidah Akhlak
1. Pengertian Akidah
a. Secara Etimologi
Akidah merupakan kepercayaan dasar atau keyakinan pokok.
b. Secara Terminologi
Akidah adalah sesuatu yang dipercayai atau diyakini atau perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.

2. Pengertian Akhlak
a. Secara Etimologi
Akhlak yaitu budi pekerti atau kelakuan.
b. Secara Terminologi
Akhlak yaitu perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah.
Jadi yang dimaksud dengan akidah akhlak adalah suatu kepercayaan atau keyakinan yang berupa budi pekerti atau kelakuan baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah.
e. Pengertian Madrasah Tsanawiyah
1. Pengertian Madrasah
a. Secara Etimologi
Madrasah dilihat dari segi bahasa Arab berasal dari kata darasa yang artinya belajar, sedangkan madrasah itu sendiri berarti tempat belajar.
b. Secara Terminologi
Madrasah berarti lembaga pendidikan yang mempunyai porsi lebih terhadap mata pelajaran agama Islam.
2. Pengertian Tsanawiyah
a. Secara Etimologi
Tsanawiyah adalah tengah
b. Secara Terminologi
Tsanawiyah adalah sebuah tingkatan yaitu tingkatan menengah dalam suatu pendidikan.
Jadi yang dimaksud dengan Madrasah Tsanawiyah adalah lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran tingkat menengah dan menjadikan mata pelajaran agama islam sebagai mata pelajaran dasar.

Dari pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Tela’ah Penjelasan Materi Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah adalah penyelidikan mengenai beberapa materi tentang kesulitan-kesulitan yang mungkin ada pada materi yang dikaji, dengan menjelaskan tentang bahan yang disampaikan yaitu yang mengenai suatu kepercayaan atau keyakinan yang berupa budi pekerti atau kelakuan baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah pada lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran tingkat menengah dan menjadikan mata pelajaran agama islam sebagai mata pelajaran dasar.



B. Penjelasan Materi Akidah Akhlak MTs

1. Penjelasan Materi Akidah Akhlak Kelas VII MTs

a. Semester I Kelas VII
Bab I : Akidah Islam
A. PENGERTIAN AKIDAH ISLAM
1. Pengertian Akidah Islam Menurut Bahasa
Akidah adalah kata sifat dalam bahasa Arab yang berarti dari kata aqada Menurut bahasa, kata tersebut mempunyai arti ikatan.
2. Pengertian Akidah Islam Menurut Istilah
Akidah menurut istilah adalah beberapa urusan yang harus dibenarkan oleh hati yang mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan, dan tidak tercampur sedikitpun dengan keraguan.
B. DASAR-DASAR HUKUM AKIDAH ISLAM
1. Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah firman Allah swt. Yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW. Dengan perantara malaikat Jibril. Di dalam kitab suci Al-Qur’an diterangkan akidah islam yang sesuai kehendak Allah swt. Akidah islam termuat didalam kedua kalimah syahadat yang artinya sebagai berikut.
“Aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah”.
2. Hadist
Hadist ialah segala ucapan, perbuatan dan takrir (sikap diam) nabi Muhammad saw. Hadist dijadikan sebagai dasar hukum kedua dengan beberapa alasan, antara lain sebagai berikut.
a. Segala yang diucapkan rasulullah saw berdasarkan petunjuk wahyu dari Allah swt sebagai berikut firman-Nya dalam Q.S. al-Haqqah/69:44-46
b. Allah SWT telah member petunjuk kepada manusia agar menguti kebenaran yang disampaikan Rasulullah SAW sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. al-Hasyr/59:7
c. Banyak hadist yang menjelaskan maksud beberapa Al-Qur’an yang masih bersifat global, termasuk masalah akida Islam. Contohnya Allah SWT berfiman dalam Q.S. an-Nisa’/4:36



C. Tujuan Mempelajari Akidah Islam
1. Untuk mengetahui petunjuk hidup yang benar dan dapat membedakan mana yang benar dan yang salah sehingga hidupnya diridhoi AllahSWT. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Baqarah/2:185.
2. Untuk menghindarkan diri dari pengaruh kehidupan yang sesat atau jauh dari petunjuk hidup yang benar. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. al-An’am/6:153.
D. Manfaat Mempelajari Akidah Islam
1. Dapat memperoleh petunjuk hidup yang benar, yang sesuai kehendak Allah SWT yang telah mencipta alam semesta, termasuk diri kita sendiri.
2. Selamat dari pengaruh kepercayaan lain yang hanya akan membawa kerusakan dan hidup yang jauh dari kebenaran.
3. Memperileh ketentraman dan kebahagiaan hidup yang hakiki karena mempunyai hubungan batin yang dekat dengan Allah SWT.
E. Hubungan Iman, Islam, dan Ihsan
1. Pengertian Iman, Islam, dan Ihsan
a. Iman
Pengertian iman terungkap dalam percakapan antara rasulullah SAW dan malaikat Jibril sebagai berikut.
“ Jibril bertanya, “Apakah iman itu?” Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab, nabi-nabi, kematian dan hisup sesudah mati, surge dan neraka, hisab dan mizan, serta takdir yangbaik maupun yang buruk….” (H.R.Ahmad nomor 16851dari Abi Malik)
Menurut hadist diatas, iman meliputi enam perkara, yaitu
1) Iman kepada Allah SWT
2) Iman kepada hari akhir (termasuk kematian dan hidup sesudah mati, surga dan neraka, hisab dan mizan)
3) Iman kepada malaikat
4) Iman kepada kitab-kitab Allah
5) Iman kepada rasu-rasul Allah
6) Iman kepada takdir
b. Islam
Pengertin islam terungkap dalam hadist berikut ini
“ Islam dibangun (ditegakkan) di atas lima pekara, yaitu persaksian bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, melaksanakan haji, dan puasa Ramadan.” (H.R. al-Bukhari nomor 8dan dari ibnu Umar)

c. Ihsan
Ihsan ada dua macam, yakni Ihsan kepada Allah dan Ihsan kepada sesame manusia. Pengertia Ihsan kepada Allah terungkap dalam hadist berikut.
“ Apakah Ihsan? Ihsan adalah bahwasannya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya (di depanmu) . Apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.” (H.R. al-Bukhari nomor 48 dari Abu Hurairah)
2. Hubungan Islam, Iman, Ihsan
Untuk mengetahui hubungan iman, islam, dan ihsan, kita perlu memerhatikan sunnah (praktik) Rasulullah SAW sebagai pengemban amanah dari Allah SWT. Dalam praktiknya, Rasulullah SAW menyatukan ketiga hal tersebut. Iman sebagai landasan keyakinannya, sedangkan islam dan ihsan sebagai bukti nyata adanya keimanan tersebut. Islam dan ihsan berupa perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pengakuan iman seseorang tidak ada artinya sama sekali apabila tidak dibuktikan dengan amal nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, islam dan ihsan (perbuatan nyata) dalam kehidupan sehari-hari tidak diterima Allah apabila tidak dilandasi dengan iman yang benar. Dengan demikian, jelaslah kiranya bahwa iman, islam, dan ihsan merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.
F. Perilaku yang Sesuai dengan Nilai-NIlai Akidah Islam
1. Beribadah kepada Allah SWT dengan hati yang ikhlas, tanpa perasaan terpaksa dan terbebani. Dan Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memurnikan niat dalam beribadah hanya kepada AllahSWT.
2. Berusaha menghindarkan diri dari segala bentuk kemusyrikan, baik dalam beribadah maupun perbuatan lain dalam kehidupan sehari-hari, senagaimana pernyataan pada setiap melakukan shalat yang berbunyi sebagai berikut.
Bab II : Sifat-sifat Allah SWT
A. Sifat - Sifat Wajib, Mustahil, dan Jaiz Allah SWT
Sifat-sifat Allah berarti keadaan yang berhubungan dengan zat Allah, sesuai dengan keagungan-Nya. Zat dan sifat Allah tidak dapat dibayangkan oleh pikiran manusia. Sifat Allah dibagi menjadi tiga macam, yaitu sifat wajib, mustahil dan jaiz.



1. Sifat wajib Allah SWT
Yang dimaksuk sifat wajib Allah SWT ialah sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh Allah SWT yang sesuai dengan keagungan-Nya sebagai pencipta alam seisinya. Dalam ilmu aqa’id, disebutkan bahwa sifat wajib Allah SWT ada 13, antara lain sebagai berikut.
a. Allah SWT bersifat Ada (wujud)
Adanya Allah SWT dapat dibuktikan dengan adanya alam ini. Semua barang yang ada di lingkungan kita pasti ada yang menbuat. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ali Imran/3:2
b. Allah SWT bersifat Terdahulu (Qidam)
Allah SWt adalah pencipta alam semesta. Dia lebih dahulu ada sebelum ala mini ada. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. al-Hadid/57:3
c. Allah SWT berdifat Kekal (Baqa’)
Semua mahkluk ciptaan Allah SWT akan rusak, sedangkan Dia sebagai pencipta tidak akan rusak. Allah SWT akan kekal selamanya dan Dia tidaka akan pernah mati, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. ar-Rahman/55:26-27
d. Allah SWY berdifat Berbeda dengan Ciptaan-Nya (Mukhalafatu lil Hawadisi)
Allah SWY memiliki sifat yang sempurna dan istimewa. Sifat Allah SWT berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Jika ada kesamaan, hanya sama namanya, sedangkan kesempunaan-Nya tidak sama. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. asy-Syura/42:11
e. Allah SWT berdifat berdiri dengan sendirinya (Qiyamuhu Binafsihi)
Allah SWT sebagai pencipta alam adalah Mahakuasa. Dia tidak memerlukan bantuan dari kekuatan lain karena mempunyai kekuatan yang ada pada diri-Nya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ali ‘Imran/3:2
f. Allah SWT bersifat Maha Esa (Wahdaniyyah)
Manusia dituntut untuk meyakini bahwa wujud Allah Naha Esa, artinya Dia tidak terbilang dua, tiga, dan seterusnya. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Q.S. al-Ikhlas/112:1-4
g. Allah SWT bersifat Maha Kuasa (Qudrah)
Dia kuasa menciptakan alam, mampu memelihara, dan sanggup menghancurkannya tanpa bantuan kekuasaan lain. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-Baqarah/2:20
h. Alah SWT bersifat Berkehendak (Iradah)
Jika Allah berkehendak, tidak satu pun yang dapat menolak. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. Yasin/36:82
i. Allah SWT bersifat Maha Mengetahui (‘Alim)
Allah SWT adalah pencipta alam ini dan Dia mengetahui semua cptaan-Nya. Allah berfirman sebagai berikut.
“….dan Allah Maha Mengetahui segala sesuati.” (Q.S. al-Hujarat/ 49:16)
j. Allah SWT bersifat Hidup (Hayat)
Seluruh kehidupan makhluk tunduk kepada Allah SWT. Dia yang mengatur semua kehidupan makhluk hidup. Allah tidak akan mati dan kekal selamanya. Firman Allah dalam Q.S.Ali ‘Imran/3:2
k. Allah SWT bersifat Maha Mendengar (Sama’)
Tidak ada sesuatu yang tidak didengar oleh Allah SWT. Walaupun jumlah suara manusia ratusan juta, semua akan didengar oleh Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Hujarat/49:1
l. Allah SWT bersifat Maha Melihat (Basar)
Allah yang mengatur, yang menjalankan , dan mengawasi benda-benda, seperti matahari, bulan, bintang, dan planet-planet lainnya. Semua itu bagi Allah tidak ada yang lepas dari penglihatan-Nya. Allah SWT berfirman sebagai berikut.
“…..Akkah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Baqarah/2:265)
m. Allah SWT bersifat Berfirman (Kalam)
Kalam berarti Allah berbicara melalui firman-Nya yang berupa wahyu. Allah berfirman sebagai berikut.
“…..Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung.” (Q.S. an- Nisa’/4:164)
Adapun sebagian ulama yang menambahkan dengan tujuh sifat wajib Allah sehingga menjadi dua puluh. Tujuh sifat wajib yang dimaksud adalah sebagai berikut.
a. Qadiran
Berarti Allah maha kuasa
b. Muridan
Berarti Allah maha berkehendak
c. ‘Aliman
Berarti Allah maha menegtahui
d. Hayyan
Berarti Allah maha hidup
e. Sami’an
Berarti Allah maha mendengar
f. Basiran
Berarti Allah maha melihat
g. Mutakalliman
Berarti Allah maha berbicara
2. Sifat Mustahil Allah SWT
Sifat mustahil Allah berarti sifat yang secara akal tidak mungkin dimiliki Allah. Dalam ilmu Tauhid , dinyatakan bahwa sifat mustahil Allah ada 13, yaitu
a. ‘adam, artinya tidak ada
b. Hudus, artinya tidak ada
c. Fana’, rudak
d. Mumasalatu lil-hawadisi, artinya menyerupai makhluk
e. Qiyamuhu bigairihi, artinya membutuhkan sesuatu selain diri-Nya
f. Ta’addud, artinya lebih dari Satu
g. ‘ajzun, artinya lemh
h. Karahah, rtinya terpaksa
i. Jahlun, artinya bodoh
j. Mautun, artinya mati
k. Summun, artinya tuli
l. ‘umyun, artinya buta
m. Bukyun, artinya bisu
3. Sifat Jaiz Allah SWT
Sifat jaiz Allah berarti sifat kebebasan Allah, yakni bebas yang dimiliki-Nya sebagai Tuhan semesta alam. Sifat jaiz Allah ialah kebebasan untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya yang mutlak. Berikut ini kebebasan-kebebasan mutlak yang diiliki Allah.
a. Kebebasan untuk Menciptakan atau tidak Menciptakan Sesuatu
Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-Qasas/28:68
Ayat di atas menjelaskan bahwa apa yang hendak diciptakan Allah tergantung pada kehendak-Nya semata.
Manusia hanya diberi hak untuk memohon kepada-Nya. Jika Allah mengabulkan, jadilah apa yang dikehendaki manusia. Sebaliknya, jika Allah tidak menghendaki, apapun yang diinginkan manusia tidak akan terjadi. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. an-Nur/24:45
b. Kebebasan untuk Mengatur Semua Makhluk Sesuai yang Dia Kehendaki
Kebebasan Allah dalam mengatur semua makhlik telah ditegaskan dalam firman-Nya yang sekaligus merupakan do’a tuntunan bagi kita. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. Ali Imran/ 3:26
Semua perjalanan hidup yang dialami manusia ada pada kekuasaan Allah SWT. Naiknya seseorang ke derajat yang tinggi atas turunnya dari derajat rendah tidak terlepas darikuasa dan kehendak-Nya.
B. Klasifikasi Sifat-Sifat Allah SWT
1. Sifat Nafsiyah
Sifat nafsiyah adalah sifat yang berhubungan dengan zat Allah semata,. Yang tergolong sifat nafsiyah adalah difat wujud. Wujud adalah zat Allah yang mutlak atas diri-Nya, bukan merupakan tambahan dari zat-Nya. Allah SWT sebagai penyebab pertama adanya sesuatu dengan sendiri-Nya. Seandainya wujud Allah disebabkan atau dicptakan oleh sesuatu selain Dia, berarti Allah tidak sempurna sifat-Nya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. as-Sajadah/32:4-5
Dari kedua ayat tersebut, dapat diambil pokok-pokok pengertian sebagai berikut.
a. Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, yakni
1) Masa pertama, semua alam masih berupa asap atau kabut raksasa, lalu kabut raksasa pecah dan sakah satunya menjadi bumi;
2) Masa kedua, asap atau kabut berubah menjadi air;
3) Masa ketiga, mulai timbul kekeringan yang akhirnya menjadi perbukitan;
4) Masa keempat, mulai ada kehidupan di air dan di bumi;
5) Masa kelima dan kekenam, seperti yang kita saksikan sekarang ini.
b. Tidak ada penolong dan pemberi syafaat selain Allah SWT. Ini berarti kekuasaan tunggal ada pada Allah.
c. Semua urusan ada di tangan Allah dan tidak ada pihak lain yang ikut campur tangan dengan-Nya.
2. Sifat Salbiyah
Salbiyah berarti negative atau buruk. Sifat salbiyah berarti sifat yang tidak sesuai atau tidak layak untuk zat Allah. Sifat salbiyah ada lima macam yang berlawanan dengan sifat qidam, baqa’, mukhalafatu lil hawadisi, qiyamuhu binafsihi, dan wahdaniyyah.
Kelima sifat itu adalah sebagai berikut.
a. Hudus
Hudus berarti permilaan. Sifat qidam menolak adanya sifat hudus. Berdasarkan teori ad-Daur, alam ini adalah ciptaan Allah, adanya Allah juga karena adanya alam. Pendapat demikian adalah mustahil karena Allah disamakan dengan makhluk ciptaan-Nya.
Allah SWT berfirman.
“Dialah Yang Awal, dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. al-Hadid/57:3)
Allah tidak berawal dan tidak berakhir. Jika Allah berawal, sebelum Allah berarti ada kekosongan. Hal ini sangat bertentangan dengan akal. Oleh karena itu, sifat qidam menolak sifat qudum.
b. Fana’
Jika Allah SWT bersifat fana’, berarti Allah mengalami kerusakan dan kepunahan. Dia tidak akan mengalami kerusakan dan kepunahan sebagaimana makhluki-Nya.
“….segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah ….”(Q.S. al-Qasa/28:88)

c. Mumasalatu lil Hawadisi
Jika Allah bersifat Mumasalatu lil Hawadisi yang artinya Allah serupa dengan makhluk-Nya. Allah tidak akan pernah memerlukan apa yang diperlukan makhlk-Nya. Allah berfirman
“…tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Q.S. asy-Syura/42:11)
d. Ihtiyajun ila Ghairihi atau qiyamuhu Ligairihi
Jika Allah bersifat ini berarti Allah memerlukan bantuan pihak lain. Allah tidak memerlukan bantuan pihak lain dalam menciptakan alam seisinya. Allah berfirman sebagai berikut.
“….Sunnguh Allah Maha Kaya..” (Q.S. al-Ankabut/29:6)
e. Ta’addud
Ta’adud berarti bebilang dua, tiga, atau lebih. Seandainya Allah lebih dari satu, pasti timbul perebutan kekuasaan dan aturan-aturan yang berbeda. Tuhan yang satu akan menyaingi Tuhan yang lain sehingga akan mengakibatkan kehancuran. Allah berfirman dalam surat al- Ikhlas/112:1
3. Sifat Ma’ani
Sifat ma’ani adalah sifat wajib Allah yang dapat digambarkan olah akal pikiran manusia dan dapat meyakinkan orang lain karena kebenarannya dapat dibuktikan dengan panca indra. Sifat wajib Allahyang tergolong dalam sifat ma’ani ialah qudrah, iradah, ilmu, hayat, sama’, basar, dan kalam.
a. Qudrah
Allah bersifat qudrah berarti Mahakuasa. Mustahil Allah bersifat ‘ajzun yang berarti lemah atau tidak berdaya.
Alla SWT berfirman.
“ Dan Dialah yang berkuasa atas hamba-hamba-Nya. Dan Dia Maha bijaksana, Maha Mengetahui.” (Q.S. al-An’am/6:18)
b. Iradah
Allah SWT bersifat iradah yang berarti berkehendak, mustahil bersifat karahah yang berarti dipaksa. Allah adalah zat yang mengatur segala-galanya karena Dialah yang berkuasa dan memiliki alam ini.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S.an-Nahl/16:40
c. ‘Ilmu
Ilmu berarti mengetahui segala sesuatu. Lawan katanya adalah jalun yang berarti bodoh. Allah mengetahui segala sesuatu, baik yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-Hujarat/49:18
d. Hayat
Hayat berarti hidup, sedangkan kebalikannya adalah mautun yang berarti mati. Allah adalah zat yang hidup dan muastahil mati. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-Furqan/25:58
e. Sama’
Sama’ berarti mendengar, sedangkan kebalikannya adalah summon yang berarti tuli. Allah Maha Mendengar segala macam bunyi dan suara makhluk, baik yang keras maupun yang pelan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-Baqarah/2:127
f. Basar
Basar berarti melihat sesuatu, baik yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi. Penglihatan Allah tidak dibatasi oleh alat dan waktu. Kebalikannya adalah ‘umyun yang berarti buta. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat al-Hujarat/49:18.
g. Kalam
Kalm berarti berbicara, sedangkan kebalikannya adalah bukmun yang berarti bisu. Karena Allah berbicara, Dia dapat berfirman, member janji, dan peringatan yang ditunjukkankepada makhluk-Nya. Firman-firman-Nya tersusun dengan rapi di dalam kitab suci yang diturunkan lepda rasul-rasul-Nya. Hal itu menunjukkan bahwa Allah tidak mungkin brsifat bisu. Allah berfirman dalam surat an-NIsa’/4:164
4. Sifat Ma’nawiyah
Sifat ma’nawiyah adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan sifat ma’ani atau merupakan kelanjutan sifat-sifat ma’ani. Dengan kata lain, adanya tujuh sifat ma’ani berarti ada tujuh sifat ma’nawiyah. Ketujuh sifat ma’nawiyah dimaksud adalah sebagai berikut.
a. Qadiran (Mahakuasa)
Allah SWT bersifat qadiran yang berarti Dia Mahakuasa.
Allah berfirman dalam surat al- An’am/6:37.
b. Muridan (Maha Berkehendak)
Allah bersifat muridan yang berarti Dia Maha Berkehendak. Allah berfirman dalam surat an-NIsa’/4:26.
c. ‘Aliman (Maha Mengetahui)
Allah bersifat ‘aliman yang berarti Dia Maha Mengetahui.
Allah berfirman dalam suratal-Hujarat/49:16.
d. Hayyan (Maha Hidup)
Allah bersifat hayyan yang berarti Dia maha hidup.
Allah berfirman dalam surat Ali Imran/3:2.
e. Sami’an (Maha Mendengar)
Allah bersifat sami’an yang berarti Dia Maha Mendengar. Allah berfirman dalam surat an-NIsa’/4:134.
f. Basiran (Maha Melihat)
Allah bersifat basiran yang berarti Dia Maha Melihat.
Allah berfirman dalam surat al-Isra’/17:17.
g. Mutakalliman (Maha Berbicara)
Allah bersifat mutakalliman yang berarti Dia Maha Berbicara. Allah berfirman dalam surat at-Taubah/9:6.
C. Perilaku Orang Yang Beriman kepada Sifat-Sifat Alla SWT
1. Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya denganselain Dia ksrena Dia berbeda dengan semua makhluk ciptaan-Nya.
2. Tidak berprasangka buruk krpada Allah walaupun hanya dalam hati karena Dia Maha Mendengar terhadap segala sesuatu meskipun tidak bersuara.i dari segala yang buruk. Dan berusaha tidak sombong.
Bab III : Akhlak Terpuji Kepada Allah SWT
A. Ikhlas
1. Pengertian Ikhlas
Kata ikhlas kata ikhlas berasal dari bahasa arab akhlasa, yukhlisu, ikhlasan yang artinya memurnikan niat hanya semata-mata mencari rida Allah. Atau semata-mata menaati perintah-Nya. Sebagaimana terungkap dalam surat al-An’am/6:162.
2. Perintah untuk Beramal secara Ikhlas
Orang yang beramal baik, tetapi tidak ikhlas, ia akan rugi sendiri. Allah tidak akan menerima amal tersebut, dalam hadis Qudsi Allah berfirman.
“ Aku adalah sebaik-baik sekutu (teman). Barang siapa memperskutukan Aku bersama yang lain, dia (diserahkan) kepada sekutu itu. Wahai sekalian manusia, ikhlaskan amalmu karena Allah tidak akan menerima akal seseorang, kecuali amal yang diikhlaskan kepada-Nya.” (H.R. al- Bazzar)
3. Bentuk-Bentuk (contoh) Perilaku Ikhlas
a. Tidak pernah mengeluh dan tak mengharapkan penghargaan setiap ia menjalankan tugas
b. Melaksanakan sesuatu karena semata-mata melaksanakan perintah Allah dalam kandungan Surah al-Ma’un.
4. Dampak Positif Beramal secara Ikhlas
a. Memperoleh kepuasan batin karena merasa bahwa kebaikan yang dilakukan sesuai kehendak Allah yang menyuruhnya.
b. Merasa senang karena adanya harapan rida dari sisi-Nya.
c. Dapat menjaga kerutinan dalam berbuat baik, walaupun amal baiknya tidak dilihat orang lain.
5. Membiasakan Diri Beramal secara Ikhlas
a. Melatih diri agar tidak merasa bangga jika perbuatan baiknya dipuji orang.
b. Tidak kecewa apabila perbuatan baiknya diremehkan orang lain.
c. Melatih diri untuk beramal baik saat tidak dilihat orang lain, misalnya sedekah secara sembunyi-sembunyi.
d. Tidak suka memuji perbuatan baik yang dilakukan seseoranga karena hal itu dapat mendorong pelakunya menjadi ria.
B. Taat
1. Pengertian Taat
Kata taat berasal dari bahasa Arab yang berarti tunduk, patuh, dan setia kepada si fulan atau Allah dan rasul-Nya, baik dalam bentuk pelaksanaan perintah Maupin meninggalkan larangan-Nya.
2. Perintah untuk Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
Taat termasuk perkara yang diwajibkan dalam islam. Dengan demikian, seorang mukmin adalah orang yang setia dan taat kepada Allah dan rasul-Nya. Allah berfirman dalam surat an-Nisa’/4:59.
3. Bentuk-Bentuk (Contoh) Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya
a. Taat kepada syariat Islam dalam pembagian warisan
b. Meskipun saling mencintai, Karena Islam muslimah melarang menikah dengan lelaki nonmuslim, akhirnya Nur Hasanah menolak lamaran tersebut dengan sopan.


4. Dampal Positif Ketaatan kepada Allah dan Rasul-NYa
a. Memperoleh kepuasan batin karena telah mampu melaksanakan salah satu kewajibannya lepada Allah dan Rasul-Nya.
b. Memperoleh ida Allah karena telah mampu menaati perintah-Nya, dan
c. Memperoleh kemenangan (keuntungan) yang besar sesuai firman Allah dalam surat an-Nisa’/4:13.
5. Membiasakan Diri Taat lepada Allah dan Rasul-Nya
a. Segera mempersiapkan diri untuk salat apabila sudah tiba waktunya.
b. Melatih diri untuk disiplin dalam berbagai hal, termasuk belajar dan mengrjakan tudas sekolah.
c. Selalu disiplin dalam mengikuti tata tertib sekolah, baik dilihat guru maupun tidak.
C. Khauf
1. Pengertian Khauf
Kata khauf berasal dari bahasa arab khafa, yakhafu, khaufan yang artinya takut. Islam mendidik umatnya agar memiliki sifat khauf, yakni takut akan murka Allah apabila terkena ancaman atau siksa-Nya.
2. Perintah untuk Memiliki Khauf
Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-A’raf/7:56
Yang dimaksud rasa takut dan penuh harap pada ayat di atas ialah sebagai berikut.
a. Takut akan dilepaskan oleh Allah hidup sendirian sehingga tersesat dari jalan yang benar, yakni tuntunan Islam.
b. Takut akan mendapat siksa karena melanggar aturan-arturan-Nya.
c. Sangat mngharapkan rida Allah sehingga hidupnya senantiasa memperoleh bimbingan dari wahyu-Nya.
3. Contoh khauf
Senantiasa meningkatkan kualitas beribadah, baik yang berhubunagn secara langsung kepada Allah maupun yang berhubungan dengan sesama manusia.
4. Dampak Positif Khauf
a. Dapat menjaga kerutinan perbuatan baiknya karena belum yakin bahwa kebaikan yang telah lalu diterima dan diridai Allah.
b. Dapat meningkatkan kualitas perbuatan baiknya karena mengharapkan rida Allah.
5. Membiasakan Diri Bersifat Khauf
a. Mengingat-ingat dosanya si masa lalu sebab belum tentu dimaafkan Allah.
b. Melupaka kebaikan di masa lalu karena belum tentu Allah berkenan menerimnya.
c. Mengukur dirinya dengan orang –orang yang saleh agar bersemangat untuk mengikuti amal baik seperti mereka.
D. Tobat
1. Pengertia Tobat
Kata tobat berasal dari kata taba, yatubu, taubatan yang berarti kembali, menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan.
Orang yang bertobat berarti berhenti dari perbuatan dosa yang telah dilakukan, kemudian kembali kejalan yang benar.
2. Hukum Bertobat
Bertobat termasuk pekara yang diwajibkan dalam agama. Firman Allah dalam surat an-Nur/24:31.
Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda sebagai berikut.
“ Sesungguhnya Allah Yang Mahamulia dan Mhaagungmembentangkan tangan-Nya diwaktu malam untuk menerima tobat hamba yang berbuat dosa pada siang harinya, dan membentangkan tangan-Nya diwaktu siang untuk menerima tobat hamba yang berbuat dosa pada malam hrinya sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya (hari akhir) .” (H.R . Muslim)
Tobat nasuha harus memenuhi tiga perkara yakni :
a. Harus segera menghentikan perbuatan disa yang dilakukan.
b. Harus menyesali sedalam-dalamnya atas perbuatan dosa tersebut.
c. Harus bertekad yang sungguh-sungguh tak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut.
3. Contoh Perilaku Tobat Kepada Allah
a. Memperbanyak membaca istigfar dan menemui orang yang pernah dijahtinya untuk minta maaf.
b. Menyesali perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan serta berjamji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.
4. Dampak Positif Perilaku Bertobat
a. Bagi Pelakunya Sendiri
1) Memperoleh semangat dan gairah hidup baru karena Allah berkenan menerima tobatnya
2) Dapat memperoleh kembali jalan yang benar
3) Memperoleh simpati msyarakat lagi, seperti dahulu sebelum bertobat.

b. Bai Orang lain Termasuk keluarga
1) Lambat laun dapat mengembalikan nama baik keluarga.
2) Hilangnya kecemasan keluarga dan masyarakat.
5. Perilaku Membiasakan Diri Bertobat
a. Tidak memandang remeh terhadap perbuatan dosa sekecil apapun,
b. Berusaha menutup perbuatan dosanya dengan perbuatan baik sesuai kemampuan yang dimiliki
c. merasa tidak senang apabila melihat oramg lain berbuat dosa

Menurut hasil tela’ah kami tentang materi penjelasan pada semester I kelas VII MTs, penjelasannya sudah baik, akan tetapi terdapat kekurangan dalam penyusunannya.

b. Semester II Kelas VII
Bab IV : Asmaul Husna
A. Pengertian Asmaul Husna
1. Arti secara bahasa dan istilah
Kata asmaul husna berasal dari bahasa arab al asma’ yang berarti nama, beberapa nama dan al husna yang berarti baik, indah. Menurut istilah, asmaul husna berarti nama-nama yang indah bagi Allah.
2. Sejarah diturunkannya Ayat tentang Asmaul Husna
Di dalam kitab asbabunnuzul diterangkan bahwa pada suatu hari Rasulullah saw melakukan shalat di mekkah dan berdoa dengan kata-kata, “ Ya Rahman, Ya Rahim”. Do’a tersebut terdengar oleh sebagian kaum musyrikin. Kala itu berkatalah mereka, “perhatikan orang yang murtad dari agamanya! Ia melarang kita menyeru dua Tuhan, dan dia sendiri menyeru dua Tuhan.” Dengan adanya ucapan mereka itu, turunlah Ayat sbb:
Yang artinya:
Katakanlah: "Serulah Allah atau Serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)..(Q.S. al-isra’/17:110)
B. Memahami Sepuluh Asma’ul Husna
Asma’ul Husna Allah swt. Amat banyak, namun menurut keterangan yang masyhur ada 99 macam. Sepuluh diantaranya adalah Al- ‘Azi, Al-Gaffar, Al-Basit, An-Nafi’, Ar-Rauf, Al-Barr, Al-Hakim, Al-Fattah, Al-‘Adl, dan Al-Qayyum.
1. اَ لْعَزِ يْزُ(Yang Maha Perkasa)
Allah maha perkasa atas segala mahluk-Nya. Segala yang dikehendaki Allah swt pasti terlaksana, tak satupun mahluk yang dapat menghalangi-Nya.
2. ) اَ لْغَفَّا رُYang Maha Pengampun)
Allah adalah zat yang maha pengampun, ampunan Allah diberikan kepada siapapun yang bersalah, selama orang tersebut mau bertobat, memohon ampun atas dosa-dosanya.
3. اَ لْبَا سِطُ(Yang Melapangkan Rezeki)
Allah swt. senantiasa membentangkan rahmat-Nya (kasih sayang-Nya) untuk menerima taubat hamba yang terlanjur berbuat dosa. Dia membentangkan rezeki (memperbanyak rezeki) yang dibutuhkan hamba-Nya, dan Dia pula mempersempit rezeki kepada hamba yang dikehendaki.
4. ا لنَّا فِعُ (Yang Memberi Manfaat)
Allah swt. mencipta segala sesuatu yang dikehendaki dan memberi manfaat atas sesuatu buat siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dialah yang mampu memberi manfaat dan Dialah yang mampu memberi madarat ( kerugian ) atas sesuatu.
5. اَلرَّ ءُ وْ فُ( Yang Maha Pengasih)
Allah swt. adalah zat Yang Maha Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya.
6. اَ لْبَرُّ(Yang Melimpahkan Kebaikan)
Allah Maha Pengasih dan Allah juga yang Maha Melimpahkan kebaikan.
7. اَ لْحَكِيْمُ(Yang Maha Bijaksana)
Allah zat yang Maha Bijaksana, kebijaksanaan Allah mencakup segala hal.
8. اَ لْفَتَّا حُ(Yang Maha Memberi Keputusan)
Pada hari akhir kelak, Allah swt akan memutuskan perkara hamba-Nya, kemudian memasukkan hamba-Nya ke jannah atau nar.
9. اَ لْعَدْ لُ(Yang Maha Adil)
Dalam hidup didunia ini, Allah memberlakukan hamba-Nya secara adil. Ia memberikan rezeki terhadap semua manusia, baik yang taat maupun yang durhaka kepada-Nya. Diakhirat kelak Allah juga berlaku adil. Hamba yang taat selama hidupnya di dunia akan diberi balasan nikmat di jannah, sedangkan hamba yang durhaka diberi balasan siksa di nar.
10. اَ لْقَيُّوْ مُ(Yang Terus-menerus Mengurus)
Sesuai dengan kebesaran dan kekuasaan-Nya, Allah tidak memerlukan bantuan dari siapapun dalam mencipta, mengatur, dan memelihara alam semesta.


C. Bukti Tanda-Tanda Kebesaran Allah Melalui Pemahaman terhadap Sepuluh Asma’ul Husna
a. Al-‘Aziz : Apapun yang dikehendaki Allah pasti terjadi, tak satupun mahluk yang dapat menghalangi kehendak-Nya.
b. Al-Gaffar : Allah senantiasa membuka kesempatan bertobat bagi hamba-Nya yang berbuat salah sampai datangnya yaumus-sa’ah.
c. Al-Basit : Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki kepada hamba yang di kehendaki-Nya.
d. An-Nafi’ : Hanya Allah yang dapat memberi manfaat atau madarat terhadap sesuatu buat hamba-Nya.
e. Ar-Rauf : Allah tidak menyia-nyiakan iman hamba-Nya, terbukti Dia memberi bimbingan hidup berupa petunjuk agama.
f. Al-Barr : Allah melimpahkan nikmat-Nya kepada hamba yang beriman, baik di dunia maupun diakhirat dengan kenikmatan di jannah.
g. Al-Hakim : Allah bijaksana dalam mencipta dan mengatur alam semesta serta memberi balasan manusia di akhirat sesuai amalnya selama hidup di dunia.
h. Al-Fattah : Allah yang menentukan keberhasilan usaha manusia sesuai kehendak-Nya.
i. Al-‘Adl : Allah adil dalam memberi rezeki terhadap hamba-Nya. Manusia yang memiliki kemampuan berusaha secara baik dan menggunakan teori yang baik dapat memperoleh hasil yang baik pula.
j. Al-Qayyum : Allah swt mencipta dan mengatur alam semesta dengan sendiri-Nya, tanpa bantuan pihak lain.
D. Perilaku Orang yang Mengamalkan Asma’ul Husna
a. Tunduk dan rela menerima ketentuan Allah yang berlaku atas dirinya.
b. Tidak putus asa atas perbuatan dosa yang terlanjur dilakukan dan memohon ampunan-Nya.
c. Bersikap qanaah, tidak mengangan-angan nikmat yang diterima orang lain.

Bab V : Iman Kepada Malaikat Allah SWT. Dan Makhluk Gaib selain Malaikat
A. Malaikat-Malaikat Allah swt.
1. Pengertian Iman Kepada Malaikat Allah swt.
Malaikat adalah mahluk yang diciptakan Allah swt. dari cahaya. Dia selalu menaati perintah Allah swt. dan tidak mendurhakai-Nya. Adapun inti beriman kepada malaikat ialah meyakini keberadaannya sebagai mahluk ciptaaan Allah swt. Serta meyakini jenis-jenis tugas yang diamanahkan kepadanya. Keyakinan tersebut dibuktikan dengan perbuatan sehari-hari.
2. Sifat-Sifat Malaikat Allah swt.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa malaikat adalah hamba Allah swt. yang mulia karena Allah memuliakannya, tidak pernah durhaka, tidak pernah maksiat, dan tidak pernah menentang perintah Allah swt.
3. Nama-Nama Malaikat dan Tugasnya
a. Jibril : menyampaikan wahyu Allah swt. kepada para rasul-Nya.
b. Mikail : bertugas untuk menurunkan hujan dan membagi rezeki.
c. Israfil : bertugas meniup sangkakala.
d. Izrail : bertugas mencabut nyawa.
e. Munkar dan Nakir : bertugas menanyai manusia di alam kubur.
f. Raqib dan Atid : bertugas mencatat amal perbuatan manusia selama hidup di dunia.
g. Malik : bertugas menjaga neraka.
h. Ridwan : bertugas menjaga surga.
B. Mahluk Gaib Selain Malaikat
Mahluk gaib yang diciptakan Allah bermacam-macam, antara lain: jin, iblis atau setan.
1. Jin
Jin adalah Mahluk Allah mahluk gaib yang diciptakan dari nyala api. Sebagian taat kepada Allah swt. (seperti yang menjadi tentara Nabi Sulaiman a.s.) dan sebagian lagi kafir serta durhaka kepada Allah swt.
2. Iblis atau Setan
Iblis adalah Mahluk gaib yang dicipta Allah dari api. Sifat dasar iblis adalah sombong dan durhaka kepada Allah swt. Setan adalah mahluk yang sifatnya menggoda manusia agar terjerumus ke lembah dosa.
3. Perbedaan antara Malaikat, Jin, dan Iblis atau Setan
No. Nama Asal Kejadian Sifatnya
1. Malaikat Cahaya Selalu taat kepada Allah swt. Dan tidak mendurhakai-Nya.
2. Jin Nyala Api Ada yang beriman dan ada pula yang kafir.
3. Iblis atau Setan Api Mendurhakai Allah swt. Dan selalu berusaha untuk menjerumuskan manusia ke jalan yang sesat.

C. Perilaku yang Mencerminkan Iman Kepada Malaikat-Malaikat Allah swt. dan Mahluk Gaib Selain Malaikat.
Iman terdiri dari tiga unsur, yaitu kemantapan hati, ucapan, dan perbuatan. Iman kepada malaikatpun perlu dibuktikan dengan perbuatan nyata setiap hari, antara lain meneladani sifat taat malaikat kepada Allah swt.
Adapun sikap meneladani ketaaatan malaikat kepada Allah swt. antara lain:
a. Senantiasa berusaha untuk menaati Allah swt. sebagaimana ketaatan malaikat kepada Allah swt.
b. Bersikap tawaduk kepada Allah swt. dan mengagungkan-Nya.
c. Bersikap hati-hati dalam hidup ini, tidak melanggar hukum Allah swt. sebagaimana malaikat tidak maksiat kepada-Nya.
Bab VI : Akhlak Tercela kepada Allah SWT
A. Ria
1. Pengertian Ria
Ria berarti beramal baik dengan tujuan memperoleh pujian dari orang lain.
2. Contoh Perbuatan Ria
Seorang siswa mau melaksanakan tugas piketnya secara baik sesudah guru masuk ke kelas, dengan harapan agar guru menilai bahwa siswa tergolong siswa yang rajin melaksanakan tugas.
3. Larangan Berbuat Ria
Ria termasuk larangan dalam islam. Islam mendidik umatnya agar perbuatan baik yang dilakukan didasari dengan niat ikhlas, yakni semata-mata mencari ridha Allah atau menaati perintah-Nya.
4. Akibat Buruk Ria
a. Menghapus pahala amal baik
b. Mendapat dosa besar karena ria termasuk perbuatan syirik
c. Tidak selamat dari bahaya kekafiran karena ria sangat dekat hubungannya dengan sikap kafir.
5. Perilaku Menghindari Ria
a. Melatih diri untuk beramal secara ikhlas, walaupun sebesar apapun yang dilakukan.
b. Mengendalikan diri agar tidak merasa bangga apabila ada orang lain memuji amal baik yang dilakukan.
B. Nifak
1. Pengertian Nifak
Secara bahasa nifak berarti pura-pura pada agamanya. Secara istilah berarti sikap yang tidak menentu, tidak sesuai antara ucapan dan perbuatannya. Orang yang mempunyai sifak nifak disebut munafik.
2. Ciri-Ciri Sifat Nifak
Perlu diketahui bahwa orang yang munafik pandai bersilat lidah dan memutar balikkan persoalan sehingga banyak orang terpedaya karenanya. Kepandaian bersilat lidah sebagai hasil dari sikapnya yang selalu mendua (bermuka dua). Disamping itu munafik juga suka mengobral janji terhadap orang lain, tetapi janji-janji-Nya banyak yang di ingkari sendiri.
3. Larangan Bersifat Nifak
Islam melarang umatnya bersifat nifak. Sebaliknya, islam mewajibkan bersifat jujur atau benar. Allah swt. berfirman yang terjemahnya “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah petkataan yang benar”. (Q.S. al-Ahzab/33: 70).
4. Akibat Buruk Sifat Nifak
a. Bagi Diri Sendiri
1) Tercela dalam pandangan Allah swt. dan sesama manusia sehingga dapat menjatuhkan nama baiknya sendiri.
2) Hilangnya kepercayaan dari orang lain atas dirinya
3) Tidak disenangi dalam pergaulan hidup sehari-hari.
4) Mempersempit jalan untuk memperoleh rezeki karena orang lain tidak mempercayai lagi.
5) Mendapat siksa yang amat pedih kelak di hari akhir.
b. Bagi Orang Lain
1) Menimbulkan kekecewaan hati sehingga dapat merusak hubungan persahabatan yang terjalin baik.
2) Membuka peluang munculnya fitnah karena ucapan atau perbuatannya yang tidak menentu.
3) Mencemarkan nama baik keluarga dan masyarakat sekitarnya sehingga merasa malu karenanya.
5. Membiasakan Diri Menghindari Sifat Nifak
a. Nifak merupakan larangan agama yang harus di jauhi dalam kehidupan sehari-hari.
b. Nifak akan merugikan diri sendiri dan orang lain sehingga dibenci dalam kehidupan masyarakat.
Menurut hasil tela’ah kami, Pada semester II kelas VII MTs, dalam penjelasan materinya sudah baik, akan tetapi terdapat kurangnya penjelasan dalam bab IV tentang asmaul husna.

2. Penjelasan Materi Kelas VIII MTS
a. Semester 1 Kelas VIII
Bab I : Iman kepada kitab-kitan Allah SWT
A. Pengertian iman kepada kitab-kitab Allah SWT.
Beriman kepada kitab suci berarti menyakini adanya kitab tersebut serta meyakini kebenaran ajarannya.
a. Inti beriman kepada kitab-kitab Allah SWT, yaitu :
Iman kepada kitab-kitab Allah SWT meliputi tiga perkara pokok, yaitu :
1. Meyakini bahwa Allah SWT memiliki beberapa kitab suci yang diwahyukan kepada rasul-Nya untuk dijadikan pedoman hidup manusia.
2. Meyakini kebenaran ajaran yang ada di dalamnya secara mutlak tanpa keragu-raguan sedikit pun.
3. Mengamalkan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai individu, anggota keluarga, maupun anggota masyarakat.
b. Kitab dan Suhuf
Kitab adalah kumpulan firman Allah SWT yang diwahyukan kepada rasul-Nya.
Suhuf adalah lembaran-lembaran yang berisi kumpulan wahyu Allah SWT.
c. Fungsi Iman kepada kitab-kitab Allah SWT
Fungsi iman kepada kitab-kitab Allah SWT adalah sebagai petunjuk hidup manusia di dunia.
B. Bukti/dalil kebenaran adanya kitab-kitab Allah SWT
Adapun dalil-dalil kebenaran adanya kitab-kitab suci Allah, antara lain sebagai berikut :
1. Kitab Taurat
Dalil kebenaran Taurat antara lain :
• Surat Al-Isra’ ayat 2
Dan Kami berikan kepada Musa, Kitab (Taurat) dan Kami jadikannya petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman),”Janganlah kamu mengambil (pelinding) selain Aku.”
• Surat Ali-Imran ayat 3
“Dia menurunkan Kitab(Al-Qur’an) kepada (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil.”
• Surat Al-A’la ayat 18-19
“Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab terdahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.
2. Kitab Zabur
Dalil kebenaran Zabur antara lain :
• Surat Al-Isra’ ayat 55
“…..Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Dawud.”
3. Kitab Injil
Dalil kebenaran Injil antara lain :
• Surat Ali-Imran ayat 3
“Dia menurunkan Kitab(Al-Qur’an) kepada (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil.”
4. Kitab Al-Qur’an
Dalil kebenaran Injil antara lain :
• Surat Al-Baqarah ayat 185
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia…….”
• Surat Ibrahim ayat 1
“Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engakau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji.”
C. Macam-macam Kitab Allah SWT
1. Kitab Turat
a. Pengertian dan Sejarah Turunnya Kitab Taurat
Pada saat Nabi Musa a.s. remaja beliau pernah memukul seorang pemuda dari suku Qibti hingga mati. Karena suku Qibti termasuk pendukung Raja Fir’aun, maka raja pun berusaha menangkap Nabi Musa.a.s. Pada saat beliau melarikan diri ke Madyan, Allah menakdirkan beliau bertemu dengan Nabi Syu’aib a.s. dan beliau dijodohkan dengan anaknya yang bernama Safira. Setelah cukup lama di Madyan, beliau minta izin kepada Nabi Syu’aib a.s. untuk kembali ke Mesir menengok orang tuanya. Dalam perjalanan di atas bukit Tuwa, beliau melihat api. Kemudian beliau pun minta izin kepada istri dan anaknya untuk mendatangi api tersebut. Setelah sampai beliau melihat sebuah sinar yang sangat terang. Pada saat itulah adanya pertanda dari Allah SWT, bahwa Nabi Musa a. s. menerima wahyu pertama dan diangkat menjadi nabi atau rasul, sedangkan kitab Taurat turun ketika beliau meninggalkan kaumnya, Bani Israil, selama 40 hari ke Bukit Tursina atau Sinai.
b. Isi Pokok Kitab Taurat
1. Kitab Kejadian; berisi kisah kejadian alam semesta, penciptaan Nabi Adam a.s dan Hawa, turunnnya Nabi Adam dan Hawa ke bumu, serta kisah Nabi Yusuf a.s.
2. Kitab Keluaran; berisi tentang keluarga Bani Israil dari penindasan Fir’aun di Mesir di bawah pimpinan Nabi Musa a.s.
3. Kitab Imamat; berisi himpunan syari’at dalam agama Yahudi.
4. Kitab Bilangan; berisi cacah jiwa turunan dua belas suku bangsa Israil pada masa Nabi Musa a.s.
5. Kitab Ulangan; berisi ulangan kisah dikeluarkannya Bani Isra’il dari tanah Mesir dan himpunan syari’at.
2. Kitab Zabur
Zabur adalah nama kitab suci yang diberikan kepada Nabi Dawud a.s.
Kitab Zabur merupakan ajaran yang berisi lima jenis nyanyian, yaitu :
a. Nyanyian kebaktian untuk memuji Tuhan.
b. Nyanyian perorangan sebagai ucapan syukur kepada Tuhan.
c. Ratapan-ratapan jamaah.
d. Ratapan dan doa individu.
e. Nyanyian untuk raja.
3. Kitab Injil
Injil adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. Kitab ini berisi tentang ajaran kepada umat Nabi Isa a.s. untuk menjauhi kerakusan dan ketamakan duniawi. Kitab Injil sekarang berbeda dengan Injil asli yang diturunkan Allah kepada Nabi Isa a.s. Dalam bentuk sekarang ada sejumlah pengikut Nabi Isa yang memasukkan karangannya ke dalam kitab Injil. Sehingga kitab Injil diberi nama sesuai dengan pengarangnya yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yahya.

4. Kitab Al-Qur’an
a. Pengertian dan Nama-nama Al-Qur’an
Al-Qur’an menurut bahasa artinya bacaan, sedangkan menurut istilah yaitu firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Al-Qur’an mempunyai tujuan untuk menyempurnakan kitab-kitab terdahulu (Taurat, Zabur, dan Injil)
Al-Quran juga mempunyai nama yang cukup banyak. Diantaranya yaitu :
1. Al- Kitab (Kitab)
2. Al- Furqan (Pembeda)
3. Az-Zikr (Peringatan)
4. Al-Huda (Petunjuk)
5. An-Nur (Cahaya)
6. Al-Bayyinah (Keterangan)
b. Hikmah dan Fungsi Diturunkannya Al-Quran
Hikmah diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk menuntun manusia ke jalan yang benar agar selamat hidup di dunia dan akhirat.
Kitab suci diturunkan oleh Allah kepada rasul-rasul-Nya berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman hidup manusia.
Kedudukan Al-Qur’an terhadap kitab-kitab suci yang lain adalah sebagai penyempurna. Dimana kedudukan Al-Qur’an terhadap kitab-kitab yang lain adalah sebagai berikut :
1. Membenarkan isi kitab sebelumnya, yakni Taurat, Zabur, Dan Injil. Yakni membenarkan tentang ajaran mengesakan Allah SWT.
2. Menjadi batu ujian, yakni apabila apa yang tersebut di kitab-kitab terdahulu sesuai dengan Al-Qur’an itu adalah benar. Tapi sebaliknya apabila yang disebut itu tidak sesuai dengan Al-Qur’an itu adalah salah.
c. Pokok-pokok Kandungan Al-Qur’an
1. Akidah ; yakni mengajarkan kepercayaan yang terdapat dalam rukun iman.
2. Ibadah; yakni mengajarkan tentang cara-cara beribadah kepada Allah.
3. Muamalah; yakni mengajarkan hubungan antar manusia, baik dalam keluarga, tetangga, maupun masyarakat.
4. Akhlak karimah; yakni mengajarkan tentang budi pekerti yang mulia, baik dengan anggota keluarga dan masyarakat secara luas maupun dengan Allah sebagai penciptanya.
5. Tarikh; yakni menceritakan sejarah umat terdahulu untuk diambil pelajaran bagi umat sesudahnya.
6. Syari’at; yakni mengajarkan tentang peraturan perundang-undangan secara menyeluruh yang berkaitan dengan ibadah, akidah, dan muamalah.
d. Kelebihan Al-Quran dibandingkan Kitab Suci yang lain
1. Segi Keaslian Al-Qur’an
Al-Qur’an tidak mengalami perubahan sedikit pun, baik itu tulisan maupun isi kandungannya sampai akhir kehidupan dunia ini. Keaslian Al-Qur’an telah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya dalam surat al-Hijr ayat 9 “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an , dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”
2. Segi Isi Al-Qur’an
a. Dalam bidang ibadah, Al-Qur’an antara lain menjelaskan salat, zakat, puasa dan haji yang dinamakan dengan ibadah mahdah, yakni ibadah yang sudah ada aturan-aturannya secara rinci dalam agama.
b. Dalam bidang akidah, Al-Qur’an menegaskan bahwa satu-satunya sembahan manusia yang hak adalah Allah SWT.
c. Dalam bidang muamalah, Al-Qur’an menegaskan bahwa gotong-royong yang dibenarkan dalam Isalam adalah gotong-royong dalam hal kebaikan dan ketakwaan, bukan dalam hal dosa dan permusuhan.
d. Dalam bidang akhlak karimah, Al-Qur’an memberikan bimbingan kepada manusia agar memiliki akhlak karimah.
e. Dalam bidang hukum, Al-Qur’an mengakui dan menghargai hak setiap manusia.
3. Segi Susunan Bahasanya
Al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab, tetapi sangat berbeda dengan bahasa Arab pada umumnya. Keindahan gaya bahasa Al-Qur’an hanya dapat dirasakan oleh orang yang paham terhadap sastra Arab. Pada masa Abu Bakar as-Siddiq, muncul orang murtad yang mengaku sebagai nabi yang ingin membuat tandingan terhadap Al-Qur’an, tetapi tandingan yang mereka buat tidak ada nilainya sama sekali dibanding dengan Al-Qur’an.
4. Segi Misi yang diemban
Kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an berlaku hanya sementara dan hanya untuk umat tertentu(temporer dan local). Sedangkan Al-Qur’an berlaku untuk selama-lamanya dan untuk semua manusia(abadi dan universal).
D. Fungsi Kitab-Kitab Allah WST.
1. Sebagai Petunjuk Hidup
Pada hakikatnya , semua kitab suci Allah mempunyai fungsi yang sama, yakni sebagai petunjuk hidup manusia.Dimana telah ditegaskan dalam firman-Nya, yaitu
Dalam surat al-Isra’ ayat 2
“Dan Kami berikan kepada Musa, Kitab (Taurat) dan Kami jadikannya petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman-Nya),” Jangan kamu mengambil (pelindung) selain Aku”
Dalam surat al-Baqarah ayat 185
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia……”
2. Sebagai Hakim dalam Penyelesaian Persoalan
Semua umat para nabi terdahulu wajib menggunakan hukum kitab sucinya, sesuai kedudukan kitab suci itu sendiri.Sebagai seorang muslim, wajib menggunakan hukum Al-Qur’an sebagai solusi dalam menyelesaikan persoalan hidup yang dihadapi.
E. Perilaku yang Mencerminkan Beriman kepada Kitab-kitab Allah SWT
1. Memiliki rasa hormat dan menghargai kitab suci sebagai kitab yang memiliki kedudukan di atas segala kitab yang lain.
2. Berusaha menjaga kesucian kitab suci dan membelanya apabila ada pihak lain yang meremehkannya.
3. Mau mempelajari dengan sungguh-sungguh petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya, baik dengan membaca sendiri maupun menghadiri majelis taklim.
Bab II : Akhlak Terpuji kepada Diri Sendiri
A. Tawakal
1. Pengertian Tawakal
Kata tawakal berasal dari bahasa Arab (Tawakkala-yatawakkalu-tawakkulan), yang berarti berserah diri, mewakilkan. Secara istilah, tawakal adalah berserah diri kepada Allah atau menyerahkan suatu urusan kepada kebijakan Allah yang mengatur segala-galanya.
2. Perintah Bertawakal
Tawakal kepada Allah termasuk perkara yang diwajibkan dalam Islam. Allah berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 159, yang artinya “ …Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah, Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal”. Dan dalam surat al-Maidah ayat 23 yang artinya “…dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang yang beriman.
3. Bentuk-bentuk Bertawakal
a. Rajin belajar dan tawakal dengan berdoa kepada Allah akan menghasilkan kemudahan dalam mengerjakan soal .
b. Ayah dan Ibu Ahmad adalah petani kecil. Ia sangat mendambakan agar Ahmad kelak menjadi anak saleh yang cerdas. Sebagai muslim dan muslimat yang taat beragama, setiap hari mereka selalu berdoa dan bertawakal kepada Allah semoga keluarganya hidup tentram di bawah ridho Allah.
4. Dampak Positif Tawakal
a. Memperoleh kepuasan batin karena keberhasilan usahanya mendapat ridho Allah.
b. Memperoleh ketenangan jiwa karena dekat dengan Allah yang mengatur segala-galanya. Mendapatkan keteguhan hati.
5. Membiasakan Diri Berperilaku Tawakal
Manusia harus sadar dirinya lemah, terbukti sering mengalami kegagalan. Keberhasilan usaha manusia ada pada kuasa dan kehendak Allah semata-mata. Oleh sebab itu, manusia harus mau bertawakal kepada Allah setelah melakukan usaha secara sungguh-sungguh. Orang yang tawakal berarti menunggu keberhasilan usahanya. Oleh sebab itu, pada waktu tawakal hendaknya memperbanyak doa kepada Allah agar usahanya berhasil baik.
B. Ikhtiar
1. Pengertian Ikhtiar
Kata ikhtiar berasal dari bahasa Arab ( ikhtara-yakhtaru-ikhtiyaaran) yang berarti memilih. Ikhtiar diartikan berusaha karena pada hakikatnya orang yang berusaha berarti memilih.
2. Perintah untuk Berikhtiar
Dalil-dalil yang mewajibkan kita berikhtiar, antara lain :
a. Surat al-Jumu’ah ayat 10
Yang artinya :”Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”.
b. H.R. al-Bukhori nomor 1378 dari Zubair bin Awwam r.a
Yang artinya : “Sungguh, jika sekiranya salah seorang diantara kamu membawa talinya(untuk mencari kayu bakar), kemudian ia kembali dengan membawa seikat kayu di atas punggungnya, lalu ia jual sehingga Allah mencukupi kebutuhannya(dengan hasil itu) adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia, baik mereka(yang diminta) member atau menolaknya.

3. Bentuk-bentuk Ikhtiar
a. Giat bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.
b. Rajin berlatih dan belajar agar bisa meraih apa yang diinginkannya.
4. Dampak Positif Ikhtiar
a. Merasa batinnya puas karena dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.
b. Terhormat dalam pandangan Allah dan sesame manusia karena sikapnya.
c. Dapat berlaku hemat dalam membelanjakan hartanya
5. Membiasakan Diri Berikhtiar
a. Giat dan bersemangat dalam melakukan suatu usaha.
b. Tekun dalam melaksanakan tugas, Pandai-pandai memanfaatkan waktu.
c. Tidak mudah putus asa, selalu berusaha memajukan usahanya.
C. Sabar
1. Pengertian Sabar
Sabarberarti tahan menderita sesuatu, tidak lekas marah, tidak lekas patah hati, dan tidak lekas putus asa.
2. Macam-macam Sabar
Iman al-Gazali membagi kesabaran menjadi tiga macam, yaitu :
a. Sabar dalam ketaatan, yaitu melaksanakan tugas atau kewajiban dengan ikhlas.
b. Sabar dalam menghadapi musibah, yaitu tabah atau kuat hati saat menerima cobaan hidup.
c. Sabar dari maksiat, yaitu rela meninggalkan perbuatan maksiat dan tidak menyesal atau iri apabila melihat orang lain dapat bersenang-senang dalam maksiat.
3. Perintah untuk Bersabar
a. Sabar dalam Ketaatan, dalam firman Allah, surat Ali-Imran ayat 200
b. Sabar dalam Musibah, dalam Firman Allah surat al-Baqarah ayat 155-156
c. Sabar dari Maksiat, dalam firman Allah surat an-Nahl ayat 126-127
4. Bentuk-bentuk atau Contoh Sikap Sabar
a. Bersabar dalam hal belajar untuk meraih cita-cita dan harapan
b. Sabar ketika diejek oleh teman-teman, karena kesabaran akan membawa hasil yang positif.
5. Dampak Positif Sikap Sabar
a. Memiliki emosi yang stabil
b. Memiliki harapan akan masuk ke surge sesuai janji Allah da;am surat al-Baqarah ayat 155
c. Berhasil mengembalikan persaudaraan yang hamper rusak.

6. Membiasakan Diri Bersikap Sabar
a. Selalu ingat bahwa marah tidak dapat menyelesaikan masalah
b. Memperbanyak bergaul dengan teman-teman yang baik, berakhlak mulia
c. Membatasi diri dan bersikap-hati-hati dalam bergaul dengan teman yang berwatak keras dan kasar.
D. Syukur
1. Pengertian Syukur
Syukur berasal dari bahasa Arab yang berarti berterima kasih. Menurut istilah, bersyukur adalah berterima kasih kepada Allah atas karunia yang dianugerahkan kepada dirinya.
2. Perintah Bersyukur
Mensyukuri nikmat Allah adalah kewajiban setiap muslim dan muslimat. Dalil-dalil yang mewajibkan bersyukur, diantaranya :
 Surat al-Baqarah ayat 152
 Surat an-Nahl ayat 114
 Surat al-Ankabut ayat 17
3. Bentuk-bentuk Bersyukur
a. Menyisihkan sebagian harta kita untuk diserahkan ke baitul mal
b. Menyisihkan waktunya untuk membantu orang yang belum bisa membaca Al-Quran
4. Dampak Positif Bersyukur
a. Memperoleh kepuasan batin karena dapat menaati salah satu kewajiban hamba terhadap Allah
b. Terhindar dari sifat tamak
c. Mendapat jaminan tambahan nikmat Allah
5. Membiasakan Diri Bersyukur
a. Menerima pemberian orang tua dengan senang hati
b. Memanfaatkan uang untuk membeli hal-hal yang bermanfaat
c. Tidak boros dalam menggunakan uang
E. Qonaah
1. Pengertian Qonaah
Kata qonaah berasal dari bahasa Arab yang berarti rela, suka menerima yang dibagikan kepadanya. Adapun secara istilah, qonaah adalah rela menerima kenyataan hidup yang dialami,tidak berkeluh kesah, tidak pula mengangan-angan kesenangan yang diterima orang lain.
2. Perintah untuk Bersifat Qonaah
Dalil tentang wajibnya memiliki sifat qonaah, antara lain :
Dalam surat an-Nisa’ ayat 32 , dimana ayat ini berisi tentang larangan bersikap iri terhadap karunia yang diterima orang lain, sedangkan sikap iri berarti tidak suka melihat orang lain mendapatkan kesenangan.
3. Bentuk-bentuk Qonaah
a. Sudah cukup merasa senang walaupun ke sekolah dengan berjalan kaki.
b. Merasa cukup dengan kondisi yang pas-pasan,asalkan mampu menyekolahkan anaknya .
4. Dampak Positif Qonaah
a. Terhindar dari sifat tamak
b. Dapat merasakan ketenteraman hidup karena merasa cukup atas karunia Allah yang dianugerahkan kepada dirinya
c. Mendapat jaminan tambahan nikmat dari Allah dan terhindar dari ancaman siksa yang berat
5. Membiasakan Diri Bersifat Qonaah
a. Sering memperhatikan orang-orang yang lebih miskin daripada kita
b. Tidak sering memerhatikan orang yang lebih kaya agar kita tidak merasa kurang. Dan Membiasakan diri berlaku hemat
Bab III : Akhlak Tercela kepada Diri Sendiri
A. Ananiah
1. Pengertian Ananiah
Kata ananiah berasal dari bahasa Arab yang artinya aku. Secara istilah, ananiah berarti sikap keakuan, sikap mementingkan diri sendiri, kurang memerhatikan orang lain.
2. Bentuk-bentuk Ananiah
a. Selalu ingin menang dalam pembicaraan bersama teman
b. Kurang menghargai pendapat orang lain, walaupun benar
c. Menonjolkan kemampuan dirinya di hadapan sesame manusia
d. Susah menerima saran dan kritik dari orang lain
3. Larangan Bersikap Ananiah
Islam melarang umatnya bersikap ananiah dan mendidik umatnya agar pandai-pandai menghormati orang lain sebagaimana wajarnya. Diantaranya yaitu :
 H.R.Muslim dari Aisyah, yang artinya : “Rasulullah saw…. Menyuruh kita agar menghormati manusia(orang lain) sesuai dengan kedudukannya”.
 H.R.at-Tirmizi nomor 1945 dari Anas bin Malik, yang artinya : “Tidaklah seorang anak muda yang memuliakan orang tua karena ketuaannya, melainkan Allah akan mengadakan baginya orang yang akan memuliakan dia setelah tuanya”.
4. Dampak Negatif Ananiah
a. Tidak disukai dalam pergaulan karena dia meremehkan orang lain
b. Menurunkan martabatnya sehingga lambat laun tidak disukai orang
c. Terisolir dari pergaulan masyarakat lingkungannya
5. Menghindari Sikap Ananiah
a. Mengendalikan diri untuk tidak selalu menang dalam pembicaraan
b. Tidak menganggap bahwa pendapatnya sendiri yang paling benar
c. Belajar menghargai orang lain sebagaimana dirinya ingin dihargai
B. Putus Asa
1. Pengertian Putus Asa
Putus asa berasal habis harapan, tidak ada harapan lagi. Seseorang dikatakan putus asa apabila tidak lagi mempunyai harapan tentang sesuatu yang semula hendak dicapai.
2. Bentuk-bentuk Putus Asa
a. Bermalas-malasan setelah mengalami kegagalan dalam suatu usaha
b. Tidak bersemangat untuk meneruskan usahanya yang gagal
c. Tampak murung dan tidak memiliki gairah untuk berusaha lagi
d. Mudah terpancing emosinya
3. Larangan Berputus Asa
Islam mendidik umatnya agar tidak putus asa dari rahmat Allah. Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 87 yang artinya : “…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang kafir”.
4. Dampak Negatif Putus Asa
a. Merugikan diri sendiri
b. Susah untuk mencapai kemajuan
c. Telah terkena sifat-sifat kafir karena putus asa dari rahmat Allah
5. MenghindarKAN Diri dari Putus Asa
a. Merenungi kegagalan yang dialami orang sehingga dapat memperoleh perbandingan dari pengalaman pahit orang lain
b. Selalu yakin bahwa Allah akan member jalan keluar atas persoalan yang dihadapi apabila dirinya dekat dengan Allah swt.
C. Gadab
1. Pengertian Gadab
Gadab berasal dari bahasa Arab yanga artinya merasa(perasaan) sangat tidak senang dan panas(karena dihina, diperlakukan kurang baik) dan sebagainya.
2. Bentuk-bentuk Gadab
a. Pandangan mata yang tajam, dengan mata memerah dan jarang berkedip
b. Wajah cemberut dan mudah terpancing emosinya
c. Susah diajak berbicara baik-baik
d. Terkadang melontarkan kata-kata kasar yang tidak enak didengar
3. Larangan Gadab
Gadab atau marah termasuk sikap yang kurang terpuji. Adapun dalil-dalil yang melarang sifat gadab, diantaranya :
 Surat Ali-Imran ayat 133-134
 H.R. al-Bukhari nomor 5651 dari Abu Hurairah
Yang artinya : “Sesungguhnya seorang lelaki berkata(meminta nasihat Rasulullah saw) “Ya Rasulullah, nasihatilah aku! Sabdanya,”Janganlah engkau marah!”Lalu beliau mengulanginya beberapa kali, dan sabdanya,”Janganlah engakau marah!”.
4. Dampak Negatif Gadab
a. Bagi Pelakunya Sendiri
1) Tidak dapat berfikir secara tenang dalam menghadapi persoalan
2) Mudah terkena tekanan batin
3) Susah menerima kebenaran dan saran
b. Bagi Orang Lain
1) Tidak dapat diajak berkomunikasi secara baik
2) Menimbulkan kekhawatiran apabila melakukan hal-hal yang tidak diinginkan
5. Perilaku Menghindari Gadab
a. Menyadari dengan sepenuh hati bahwa setiap orang pasti berbuat salah
b. Menyadari bahwa dirinya juga pernah berbuat salah kepada orang lain
c. Marah tidak dapat menyelesaikan masalah secara baik
d. Marah tidak disukai dalam pergaulan
D. Tamak
1. Pengertian Tamak
Kata tamak berasal dari bahasa Arab yang berarti loba, tamak, dan rakus. Secara istilah, tamak berarti terlampau besar nafsunya terhadap keduniaan.
2. Bentuk-bentuk (Ciri-ciri) Tamak
a. Giat melakukan sesuatu apabila diperkirakan akan memperoleh hasil
b. Enggan melakukan sesuatu yang memerlukan biaya
c. Enggan mengeluarkan harta yang dimiliki untuk agama dan kemanusiaan
3. Larangan Memiliki Sifat Tamak
Islam mendidik umatnya agar tidak tamak terhadap keduniaan. Larangan bersifat tamak terungkap dalam firman Allah dalam surat al-Hadid ayat 20, ayat itu menjelaskan bahwa hidup di dunia hanyalah seperti orang yang asyik dalam permainan, berbangga-bangga kekayan dan anak, sehingga ayat ini berisi tentang larangan secara halus agar manusia tidak terlalu tamak terhadap keduniaan.
4. Dampak Negatif Tamak
a. Mudah terjerumus ke dalam kehidupan yang sesat karena keduniaan
b. Tercela dalam pandangan sesame manusia, karena orang yang tamak cenderung bakhil
c. Jauh dari petunjuk agama karena waktunya habis untuk memikirkan harta
5. Menghindarkan Diri dari Sifat Tamak
a. Sering memperhatikan kehidupan orang di bawahnya agar dapat mensyukuri nikmat Allah
b. Mengurangi perhatiannya terhadap orang yang diatasnya agar tidak terpengaruh olehnya.
E. Takabur
1. Pengertian Takabur
Kata takabur berasal dari bahasa Arab yang berarti sombong, merasa dirinya benar. Takabur adalah sikap yang amat tercela, baik dalam pandangan Allah maupun sesame manusia.
2. Benruk-bentuk Takabur
a. Berlagak seakan dirinya sendiri yang paling pandai dan paling benar
b. Mudah terpancing emosinya
c. Tidak bersedia dikritik atau diberi saran
d. Tidak mau menerima kebenaran yang datang dari orang lain
3. Larangan Bersikap Takabur
Dalil-dalil yang menunjukkan larangan takabur, diantaranya :
 Surat Al-Isra’ ayat 37, yang artinya :”Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung”.
4. Dampak Negatif Takabur
a. Menimbulkan rasa tidak senang kepada pihak lain karena diremehkan
b. Orang lain merasa tidak dihormati
c. Memperbanyak lawan dan mengurangi teman


5. Menghindarkan Diri dari Sifat Takabur
a. Selalu menyadari bahwa ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah hanya ditentikan oleh kualitas takwanya
b. Memperbanyak bergaul dengan orang-orang saleh dan tawaduk

Menurut hasil tela’ah kami, pada semester I kelas VIII dalam penjelasan materinya sudah baik, akan tetapi terdapat kekurangan penjelasan dalam Bab I.

b. Semester II Kelas VIII
Bab IV : Iman kepada Rasul-rasul Allah swt.
A. Pengertian dan Pentingnya Beriman Kepada Rasul-Rasul Allah swt.
Rasul Allah adalah manusia pilihan Allah swt. yang diberi amanah untuk menyampaikan wahyu atau membimbing manusia agar hidupnya berada pada jalan yang benar. Dengan demikian, para rasul adalah manusia seperti kita juga.
Sebagai manusia, rasul memiliki sifat-sifat seperti yang dimiliki manusia lainnya, misalnya makan,minum, bekerja, berkeluarga dan bermasyarakat.
B. Bukti/Dalil tentang Kebenaran Adanya Rasul-Rasul Allah swt.
Adapun bukti atau dalil tentang adanya rasul-rasul Allah swt. Antara lain :
Pada firman Allah Q.S. Yunus : 47 yang artinya: ”Tiap-tiap umat mempunyai rasul. Maka apabila rasul mereka telah datang, diberlakukanlah hukum bagi mereka dengan adil dan (sedikitpun) tidak dizalimi”.
Pada ayat diatas dijelaskan bahwa rasul berkewajiban menegakkan hukum agama (dalam menyelesaikan perkara manusia) secara adil, tidak ada yang dirugikan.
Serta dalam firman Allah Q.S. an-Nahl : 36 yang artinya : “dan sungguh, kami telah mengutus seorang rasul untuk tipa umat (untuk menyerukan ), “sembahlah Allah dan jauhilah Tagut,” kemudian diantara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam dalam kesesatan”.
Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap rasul yang diutus kepada suatu umat bertugas mengajak manusia untuk menyembah Allah dan menjauhi sembahan selain Allah.
C. Nama-Nama Rasul Allah swt.
Dalam hadist berikut diriwayatkan tentang jumlah rasul.
Abi Zar bertanya, “Ya Rasulallah! Berapakah jumlah para nabi?”
Beliau menjawab, “ Seratus dua puluh empat ribu. Yang termasuk rasul dari mereka itu sebanyak tiga ratus lima belas, suatu jumlah yang besar.” (H.R. Ahmad No. 21257)
Rasul Allah sejumlah tiga ratus lima belas orang. Adapun nama-nama di dalam Al-Qur’an ada dua puluh lima :
1. Nabi Adam a.s 7. Nabi Ibrahim a.s 13. Nabi Zulkifli a.s 19. Nabi Ilyas a.s
2. Nabi Idris a.s 8. Nabi Ismail a.s 14. Nabi Syu’aib a.s 20. Nabi Alyasa a.s
3. Nabi Nuh a.s 9. Nabi Ishak a.s 15. Nabi Musa a.s 21. Nabi Yunus a.s
4. Nabi Hud a.s 10. Nabi Yakub a.s 16. Nabi Harun a.s 22. Nabi Zakaria a.s
5. Nabi Lut a.s 11. Nabi Yusuf a.s 17. Nabi Dawud a.s 23. Nabi Yahya a.s
6. Nabi Saleh a.s 12. Nabi Ayyub a.s 18.Nabi Sulaiman a.s 24. Nabi Isa a.s
25. Nabi Muhammad saw.

D. Sifat-Sifat Rasul-rasul Allah swt.
1. Sifat wajib Rasul
Yang dimaksud sifat wajib rasul ialah sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh para rasul. Adapun sifat wajib rasul adalah sebagai berikut:
a. Sidiq (Benar)
Rasul selalu benar apabila berbicara dan benar pula dalam perbuatannya. Sepanjang sejarah manusia, tak seorang rasul pun yang berdusta, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.
b. Amanah (Dapat dipercaya)
Karena kejujuran yang dimiliki para rasul, orang menaruh kepercayaan kepadanya.
c. Tabligh ( Melaksanakan Tugas)
Setiap rasul melaksanakan tugasnya secara baik walaupun kaumnya menentang secara terang-terangan.
d. Fatanah (Cerdas)
Sesungguhnya para rasul bukan golongan kaum terpelajar, tetapi mereka memiliki kecerdasan yang tinggi dalam menghadapi musuh-musuh.
2. Sifat mustahil bagi Rasul
Yang dimaksud sifat mustahil bagi ara rasul adalah sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh rasul. Adapun sifat mustahil rasul sebagai berikut:
a. Kazib (dusta)
Semua rasul adalah manusia yang dipilih Allah swt. Sebagai utusan Allah swt., mereka selalu memperoleh bimbingan dari Allah swt. sehingga terhindar dari sifat tercela. setiap rasul benar ucapannya dan benar pula perbuatanna. Sifat dusta hanya dimiliki oleh manusia yang ingin mementingkan dirinya sendiri, sedangkan rasul mementingkan umatnya.
b. Khiyanah (Tidak Dapat Dipercaya)
Sepanjang sejarah belum pernah ada seorang rasul khianat kepada umatnya, demikian juga terhadap amanah yang diterima dari Allah swt.
c. Kitman (Tidak Menyampaikan Wahyu)
Tugas rasul didunia adalah menyampaikan wahyu Allah swt. kepadaumat manusia sebagai pedoman hidup. Dengan penuh semangat dan rasa tanggung jawab, para rasul melaksanakan tugas walaupun harus menanggung resiko.
d. Baladah (Bodoh)
Seorang rasul mempunyai tugas yang berat. Rasul tidak mungkin seorang yang bodoh. Jika rasul bodoh, ia tidak dapat mengemban amanah Allah swt. Jadi mustahil rasul memiliki sifat bodoh.
3. Sifat Jaiz Rasul
Yang dimaksud sifat jaiz rasul ialah sifat yang boleh ada pada diri rasul dan boleh pula tidak ada padanya. Sifat jaiz rasul sama dengan sifat yang dimiliki manusia pada umumnya, misalnya: makan, minum, beruah tangga, dan bermasyarakat.
E. Perilaku yang mencerminkan beriman kepada Rasul-rasul Allah swt
1. Membiasakan diri berlaku jujur
2. Berusaha untuk dapat menyampaikan amanah
3. Memiliki etos kerja yang baik
4. Berusaha memiliki kepekaan dalam menghadapi persoalan
F. Hikmah beriman kepada rasul-rasul Allah
1. Jiwa menjadi bersih karena ajaran taihid yang dibahah rasul
2. Memperoleh pelajaran tentang kitab-kitab Allah
3. Memperoleh ajaran yang dibawah oleh Rasulullah
Bab V : Mukjizat dan Kejadian Luar Biasa
A. Pengertian Mukjizat
Menurut bahasa, mukjizat berarti sesuatu yang melemahkan atau mengalahkan. Menurut istilah mukijizat berarti sesuatu yang luar bisasa yang terjadi pada diri nabi atau rasul Allah dalam rangka membuktikan bahwa dirinya dalah nabi atau rasul Allah swt. yang tidak dapat ditiru oleh siapapun.
Lazimnya, nabi atau rasul menampakkan mukijizatnya hanya pada saat-saat yang dibutuhkan, misalnya saat membela diri atau menjawab tantangan orang-orang kafir.
B. Macam-Macam Mikjizat yang Dimiliki para Rasul
Mukjizat dibagi menjadi dua macam, antara lain:
1. Mukjizat hisiyah
Mukjizat hisiyah ialah mukjizat yang dapat dilihat, didengar, dirasakan, dan dipegang. Mukjizat hisiyah ditujukan kepada orang biasa yang kurang mampu menggunakan akal pikirannya secara baik.
2. Mukjizat Maknawiyah
Mukjizat maknawiyah ialah mukjizat yang tidak dapat dilihat, didengar, dirasakan, dicium, dan dipegang. Mukjizat maknawiyah hanya dapat dimengerti dan dikenal oleh orang yang berpikiran sehat, berbudi luhur, dan berperasaan halus.
C. Mukjizat Nabi Ibrahim a.s, Nabi Musa a.s dan Nabi Muhammad saw
1. Mukjizat Nabi Ibrahim a.s
Raja Namrut memerintahkan rakyatnya untuk membakar Nabi Ibrahim akan tetapi Nabi Ibrahim terselamatkan atas izin Allah dari kobaran api yang membakar Nabi Ibrahim.
2. Mukjizat Nabi Musa a.s
Untuk menghadapi Raja Fir’aun yang zalim, Nabi Musa a.s mendapat dua macam mukjizat, diantaranya yaitu sebuah tongkat yang dapat berubah menjadi seekor ular dan dapat membela air laut merah menjadi dua bagian, dimana pada saat itu Nabi Musa a.s mendapat tantangan berat dari Raja Fir’aun untuk beradu sihir. Dan mukjizat yang kedua yaitu cahaya terang yang keluar dari kedua tangan beliau.
3. Mukjizat Nabi Nabi Muhammad saw
a. Mukjizat Rasulullah saw yang berupa sabda
1) Akan hancurnya kerajaan romawi
2) Lamanya jabatan khalifah sesudah beliau wafat
3) Akan dibukanya Negara Mesir
b. Mukjizat Rasulullah saw yang berupa perbuatan
1) Rasulullah saw. Membelah bulan
2) Tentang terbenamnya kaki kuda suraqah saat mengejar Nabi Muhammad saw.
3) Nabi Muhammad saw memerah air susu kambing Ummu Ma’bad
D. Karamah, Maunah, Irhas
Selain mukjizat, ada pula kejadian-kejadian luar biasa. Kejadian luar biasa tersebut diberikan Allah swt. kepada orang-orang yang dikehendaki.
Adapun kejadian luar biasa tersebut antara lain;
1. Karamah
Menurut bahasa karamah berarti kemuliaan, keluhuran, dan anugerah. Menurut ulama sufi, karamah berarti keadaan luar biasa yang diberikan Allah swt. kepada wali-Nya. Wali ialah orang yang beriman, bertakwa, dan beramal shaleh kepada Allah swt.
a. Kejadian yang dialami Nabi Sulaiman a.s
Ketika Nabi Sulaiman a.s sedang berhadapan dengan para tentaranya yang terdiri atas manusia, hewan, dan jin. Sesuai firman Allah Q.S. an-Naml/27:40.
b. Kejadian yang dialami maryam binti imran
Nabi Zakariyah a.s menemukan makanan setiap kali hadir di mihrab Maryam binti Imran.
2. Maunah
Maunah berarti pertolongan. Maunah diberikan oleh Allah swt. kepada siapapun yang dikehendaki-Nya, baik kepada nabi, wali maupun manusia biasa. Dimana Nabi Muhammad selalu selamat dari bahaya maut, baik ketika beliau masi di Mekah maupun setelah hijrah ke Madinah.
3. Irhas
Irhas ialah kejadian luar biasa yang ada pada diri calon nabi atau rasul ketika masih kecil.Contohnya yaitu pada peristiwa ajaib yang terjadi pada diri Nabi Isa a.s ketika beliau masih bayi dalam buaian ibunya, Maryam. Peristiwa ajaib itu adalah beliau dapat berbicara kepada orang-orang yang melecehkan ibunya.
E. Perbedaan antara Karamah , Maunah dan Irhas
1. Karamah dianugerahkan kepada wali
2. Maunah diberikan kepada siapapun dan bersifat umum untuk semua manusia
3. Irhas dianugerahkan kepada calon nabi atau rasul Allah swt.
Bab VI : Akhlak Terpuji kepada Sesama Manusia
A. Husnuzan
1. Pengertian dan Pentingnya husnuzan
Husnuzan berarti prasangka baik, menduga seseorang berbuat baik. Lawan kata husnuzan ialah suuzan, yakni berprasangka buruk terhadap seseorang.
2. Hukum Husnuzan
Husnuzan kepada Allah dan rasul hukumnya wajib, sedangkan kepada sesama manusia hukumnya mubah atau jaiz (boleh dilakukan).
3. Kewajiban Bersikap Hati-Hati terhadap Zan
Islam mendidik umatnya agar bersikap hati-hati terhadap Zan (prasangka).
Sebagaimana Allah swt. Berfirman “ Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), Karena sebagian dari prasangka itu dosa..(Q.S. al-hujurat : 12).”
Ayat di atas secara tegas mewajibkan kita untuk bersikap hati-hati dalam zan. Adapun prasangka yang tergolong perbuatan dosa ialah suuzan. Berprasangka buruk berarti mencurigai orang lain telah berbuat yang tidak baik, padahal itu belum tentu benar. Orang yang mencurigai seseorang (telah berbuat buruk) pasti bersikap kurang bersahabat dengan yang dicurigai. Dengan demikian, hubungan persaudaraan dia dengan orang yang dicurigai menjadi jauh.
4. Dampak Positif Husnuzan
a. Memperoleh kepercayaan dari orang yang menduga dirinya telah berbuat baik
b. Memperkuat hubungan persaudaraan antara keduanya
5. Membiasakan Berperilaku Husnuzan
a. Tidak mudah menerima suatu berita yang tidak jelas
b. Berusaha untuk sering bertemu dengan semua orang
B. Tawaduk
1. Pengertian dan Pentingnya Tawaduk
Tawaduk berarti rendah hati. Orang yang tawaduk adalah orang yang merendahkan diri dalam pergaulan, tidak menampakkan kemampuan yang dimiliki. Lawan kata tawaduk ialah takabur.
2. Perintah Bersikap Tawaduk
Dalam Q.S. al-Isra’ ayat 24 yang mewajibkan tawaduk kepada kedua orang tua atas dasar rasa kasih sayang. Serta dalam Q.S.asy-Syu’ara ayat 215 dan dalam Q.S.Luqman ayat 19.
3. Benrtuk-Bentuk Perilaku Tawaduk
a. Menghormati orang yang lebih tua atau yang lebih pandai daripada dirinya
b. Sayang kepada yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya
4. Dampak Positif Perilaku Tawaduk
a. Mempererat hubungan persaudaraan antara dirinya dan orang lain
b. Mengangkat derajat dirinya sendiri dalam pandangan Allah maupun sesama manusia.
5. Membiasakan Diri Berperilaku Tawaduk
a. Berusaha untuk mengendalikan diri
b. Melatih diri untuk dapat menghargai kemampuan orang lain
C. Tasamuh
1. Pengertian dan Pentingnya Memiliki Sikap Tasamuh
Tasamuh berarti sikap tenggang rasa, saling menghormati, saling menghargai sesama manusia. Pada hakikatnya, sikap seperti ini telah dimiliki oleh manusia sejak masih usia anak-anak, namun perlu dibimbing dan diarahkan. Tasamuh disebut juga toleran. Sikap tasamuh sangat diperlukan dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat. Bersikap tasamuh berarti memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil haknya sebagaimana mestinya.
2. Perintah untuk Bersikap Tasamuh dan Bentuk-Bentuk Perilaku Tasamuh
Dalam firman Allah Q.S. al-Kafirun ayat 6 yang maksudnya adalah masing-masing pihak bebas melaksanakan ajaran agama yang diyakini. Adapun bentuk-bentuknya :
a. Tidak mengganggu ketenangan tetangga
b. Tidak melarang tetangga apabila ingin menanam pohon dibatas kebunnya
c. Menyukai sesuatu untuk tetangganya, sebagaimana ia suka untuk dirinya sendiri.
3. Dampak positif Tasamuh
a. Memuaskan batin orang lain
b. Eratnya hubungan baik dengan orang lain
4. Membiasakan Diri Bersikap Tasamuh
a. Berusaha untuk menghormati orang lain
b. Berusaha menghargai kelebihan yang dimiliki orang lain
c. Tidak selalu melihat kekurangan orang lain
D. Taawun
1. Pengertian dan Pentingnya Taawun
Kata taawun berasal dari bahasa arab yang berarti tolong menolong. Pada hakikatnya, naluri hidup bertaawun telah dimiliki setiap manusia sejak masih kecil. Sikap ini perlu mendapatkan bimbingan secara terus-menerus dari orang dewasa.
Manusia adalah mahluk yang lemah, tak mampu mencukupi kebutuhannya sendiritanpa bantuan pihak lain. Agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia perlu mengadakan kerja sama,tolong-menolong dalam berbagai hal. Dengan adanya sikap taawu, masing-masing pihak dapat terpenuhi kebutuhannya.
2. Perintah untuk Taawun dan Bentuk-Bentuk Taawun
Dalam firman Allah Q.S. al-Maidah ayat 2 mengajarkan tentang tolong-menolong dalam hal kebaikan. Adapun bentuk-bentuknya yaitu :
a. Meringankan beban hidup, menutupi aib, dan memberi bantuan seseorang.
b. Mengunjungi pada saat sakit atau menerima suatu musibah.
3. Dampak Positif Taawun
a. Terpenuhinya kebutuhan hidup berkat kebersamaan
b. Memperingan tugas berat
c. Terwujudnya persatuan dan kesatuan
4. Membiasakan Diri Taawun dalam Kehidupan
a. Menyadari bahwa kondisi manusia lemah sehingga membutuhkan bantuan orang lain
b. Membiasakan diri rela berkorban
c. Mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan dirinya sendiri
Bab VII : Akhlak Tercela Kepada Sesama Manusia
A. Hasad
1. Pengertian Hasad
Kata hasad berasal dari bahasa arab yang berarti iri hati, dengki. Iri berarti merasa tidak senang atau cemburu melihat orang lain beruntung atau mendapatkan suatu kesenangan.
Apabila rasa iri tidak dapa dikendalikan lagi, muncullah perbuatan yang amat buruk, yakni dengki. Dengan demikian, dengki merupakan akibat dari sikap iri.
2. Larangan Bersifat Hasad
Dalam firman Allah Q.S.an-Nisa’ ayat 32 printah untuk tidak boleh iri terhadap orang yang kaya.
3. Bentuk-bentuk Perbuatan Hasad
a. Seseorang yang sangat berambisi untuk mencapai peringkat pertama, tapi ia gagal memperolehnya dan ia kecewa dan iri kepada temannya yang mendapat peringkat pertama. Kemudian orang yang iri tersebut mengambil rapot si juara pertama dan membuangnya ke tong sampah.
b. Melihat warung pak yono laris tetapi warung pak toha sepi pak toha iri akan kelarisan warung pak yono, karena irinnya pak toha menaroh kotoran diwarung pak yono agar warung pak yono tidak laku.

4. Dampak Negatif Perbuatan Hasad
a. Bagi Pelakunya Sendiri
1) Merusak pahala amal baik yang dilakukan sebelumnya.
2) Menyiksa batinnya sendiri karena semakin banyak orang yang mendapatkan kesenangan semakin gusar hatinya.
3) Tercela dakam pandangan Allah swt. maupun sesama manusia.
b. Bagi Orang Lain
Hasad yang dilakukan pada seseorang akan menimbulkan kekcewaan. Hati yang kecewa akan mempengaruhiraut wajah (cemberut) sehingga itu akan menggangu hubungan persaudaraan.
5. Perilaku Menghindari Hasad
a. Rajin mendengarkan nasihat-nasihat keagamaan
b. Rajin mendatangi majelis-majelis ilmu, terutama pengajian
c. Memperbanyak bergaul dengan orang shaleh dan mengurangi bergaul dengan orang talih
d. Meltih diri untuk menerima kenyataan hidup yang dialami.
B. Dendam
1. Pengertian Dendam
Dendam berarti keinginan yang keras yang terkandung dalam hati untuk membalas kejahatan. Membalas suatu kejahatan dengan kejahatan disebut balas dendam. Orang yang selalu ingin membalas kejahatan disebut pendendam.
2. Bentuk-Bentuk Dendam
Dilihat dari kadarnya, dendam ada tiga tingkatan. Antara lain:
a. Pembalasan yang lebih ringan
b. Pembalasan yang seimbang
c. Pembalasan yang melebihi
3. Akibat Buruk Dendam
Semakin seseorang menyimpang sifat dendam maka semakin menambah rumitnya urusan atau masalah yang ia hadapi
4. Anjuran untuk Bersabar, Tidak Dendam
Dalam firman Allah Q.S. an- Nahl ayat 126 dan Q.S. asy-Syura ayat 40 dimana ayat ini menerangkan untuk bersabar diri dan tidak mendendam.
5. Perilaku Menghindari Dendam
a. Melatih diri bersabar terhadap sesuatu yang mengecewakan hati.
b. Menyadari sepenuhnya bahwa setiap manusia berpeluang untuk berbuat jahat.
c. Menyadari bahwa dirinya sendiri suatu saat mungkin juga berbuat jahat sebagaimana orang lain berbuat jahat.
C. Gibah dan Fitnah
1. Pengertian Gibah dan Fitnah
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita dengar orang yang membicarakan kejelekan orang lain dengan tujuan untuk menjatuhkan nama baiknya. Apabila kejelekan yang dibicarakan tersebut memang dilakukan orangnya, maka pembicaraan itu disebut gibah. Apabila kejelekan yang dibicarakan itu tidak benar, berarti itu disebut fitnah.
2. Bentuk-Bentuk Gibah dan Fitnah
Gibah dan fitnah dapa dilakukan oleh dua orang atau lebih,mungkin dilakukan sekali ataupun berkali-kali. Jika dilihat dari caranya, gibah dan fitnah dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi dua orang atau lebih, dapat pula dilakukan secara terbuka oleh banyak orang.
3. Larangan Gibah dan Memfitnah
Dalam firman Allah Q.S.al-Hujurat ayat 12 ayat yang berisi larangan agar kita tidak menggunjingkan seseorang.
4. Dampak Negatif Gibah dan Fitnah
a. Gibah
1) Menjatuhkan nama baik orang yang digunjing dalam pandangan masyarakat karena masyarakat telah menilai dia sebagai orang yang jelek (walaupun belum tentu).
2) Rusaknya hubungan persaudaraan antara yang digunjing dan masyarakat lingkungannya.
3) Menmbulkan pertikaian apabila orang yang digunjing mengerti dan tidak mampu menahan emosinya.
b. Fitnah
1) Rusaknya kehidupan kehidupan bermasyarakat karena adanya kecurigaan antara yang satu terhadap lainnya.
2) Pecahnya persatuan masyarakat yang dapat memicu timbulnya kelompok-kelompok yang mendukung maupun yang menentang. Demikian buruknya fitnah sehingga Allah menyatakan bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
5. Perilaku Menghindari Gibah dan Fitnah
a. Menyadari sepenuhnya bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan.
b. Membiasakan untuk mawas diri, melihat kesalahan sendiri di masa lalu.
c. Mengingat-ingat kebaikan yang telah dilakukan orang lain.

D. Namimah
1. Pengertian Namimah
Namimah berarti mengadu domba, yakni menceritakan sikap atau perbuatan seseorang (yang belum tentu benar) kepada orang lain dengan maksud agar terjadi perselisihan antara keduanya.
2. Bentuk-Bentuk Namimah
Namimah bisa berawal dari rasa iri karena melihat seseorang (yang difitnah) memperoleh kesenangan dan keuntungan. Karena besarnya rasa iri, kemudian mencari jalan untuk menjelek-jelekkannya kepada orang lain. Namimah sangat erat hubungannya dengan fitnah. Lazimnya orang yang suka memfitnah, juga suka mengadu domba.
3. Akibat Buruk Namimah
a. Bagi Pelakunya Sendiri
1) Rasa tidak tenang karena adanya kekhawatiran aka terbongkar kejahatannya .
2) Terancam tidak akan masuk ke jannah.
b. Bagi Orang Lain
1) Munculnya rasa benci antara kedua belah pihak yang diadu domba.
2) Rusaknya hubungan persaudaraan antara bdua pihak yang diadu domba.
3) Terjadinya pertikaian antara kedua belah pihak jika masing-masing tek mampu mengendalikan dirinya.
4. Larangan Namimah
Dalam firman Allah Q.S. al-Hujurat ayat 6 yang memerintahkan kita agar tidak mudah memercayai suatu berita yang belum jelas kebenarannya.
5. Perilaku Menghindari Namimah
a. Tidak terlampau mudah menerima suatu berita apabila tidak jelas kebenarannya.
b. Mengadakan tabayun (kejelasan suatu berita) apabila mendengar berita dari seseorang, terutama orang yang belum jelas baik kepribadiannya.
c. Berusaha menghentikan atau mengalihkan pembicaraan yang cenderung menjelek-jelekkan sesorang.
Menurut hasil tela’ah kelompok kami, pada semester II kelas VIII pada bab VII sudah baik, akan tetapi terdapat kekurangan dalam penjelasan pada materi tentang akibat buruk sikap dendam.
3. Penjelasan Materi Akidah Akhlak MTs Kelas IX
a. Semester I Kelas IX
Bab I : Iman Kepada Hari Akhir
A. Pengertian Hari Akhir
Yaitu peristiwa hancurnya alam semesta.
B. Hari Akhir menurut Al-Qur’an dan Hadist
Dalam surat Al-Hajj ayat 7
“dan sungguh, (hari) kianat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya, dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapapun yang di dalam kubur”.
C. Hari Akhir menurut Ilmu Pengetahuan
Para pakar ilmu pengetahuan mengakui bahwa matahari merupakan sumber kehidupan untuk semua makhluk dipermukaan bumi. Metahari berupa bola api raksasa yang memancarkan sinar dan panas ke seluruh planet, termasuk bumi. Bola api raksasa itu berputar terus, setiap detik matahari kehilangan beratnya sebesar 4.000.000 karena kehilanganberat terus menerus matahari akan habis atau padam. Para pakar ilmu antariksa menyatakan apabila kiamat disebabkan oleh padamnya matahari, kiamat akan terjadi kurang lebih 15 miliyar tahun lagi.
D. Tanda-Tanda akan Datangnya Hari Kiamat
a. Tanda-Tanda Kecil
1. Pembantu melahirkan anak majikannya.
2. Meluasnya perbuatan maksiat
3. Ilmu agama tidak dianggap penting lagi.
b. Tanda-Tanda Besar
1. Matahari terbit dari arah barat.
2. Kelurnya dajjal.
3. Keluarnya hewan yang aneh.
E. Alam Ghaib yang Berhubungan dengan Hari Akhir
1. Alam Barzah, yaitu alam kubur, alam yang dilalui roh manusia sejak meninggal dunia sampai terjadinya Yaumus Sa’ah.
2. Yaumul Ba’as, yatu hari bangkitnya manusia dari alam kubur.
3. Yaumul Hasyr, yaitu hari berkumpulnya manusia di padang Mahsyar.
4. Yaumul Hisab, yaitu hari perhitungan amal.
5. Yaumul Mizan, yaitu hari pertimbangan amal.
6. Surga, yaitu tempat yang penuh nikmat pada haru akhir.
7. Neraka, yaitu tempat yang penuh derita dan siksa di hari akhir.
F. Fungsi Iman Kepada Hari Akhir
1. Menyadarkan manusia bahwa kehidupan dihari akhir adalah tujuan setiap manusia yang hidup di bumi.
2. Mendiring manusia agar selalu berbuat baik.
G. Perilaku yang Mencerminkan Keimanan Terhadap Hari Akhir
1. Memperbanyak amaln baik dalam rangka mencari ridlo Allah SWT.
2. Rajin beribadah.menjaga tali silaturrahmi.
Bab II : Akhlak Terouji Kepada Diri Sendiri
A. Berilmu
1. Pengertian Ilmu dan Kebodohan
Kata ilmu berasal dari bahsa arab yaitu ‘ilmun artinya kepandaian tentang sesuatu, lawan katanya yaitu Jahlun yang artinya kebodohan.
seseorang dikatakan berilmu apabila memiliki kepandaian sesuatu.
Seseoarng dikatakan bodoh apabila tidak mengetahui dalam berbagai hal.
2. Pentingnya Memiliki Ilmu
Rasulullah bersabda:
“barang siapa menginginkan kebahagiaan dunia, wajib baginya mempunyai ilmu. Barang siapa menginginkan akhirat, wajib baginya mempunyai ilmu. Barang siapa menginginkan kebahagiaan keduanya, wajib baginya mempunyai ilmu.”
3. Perintah Mencari Ilmu
Perintah menuntut ilmu telah ditegaskan Allah SWT dalam wahyu yang diturunkan pertama kali yaitu Q.S Al-Alaq 1-5. Ayat tersebut secara tegas menyuruh kita untuk membaca (belajar).
4. Nilai-Nilai Positif Ilmu
a) Bagi diri sendiri
- Dapat melaksanakan ajaran agama secara benar.
- Memperoleh pahala disisi Allah SWT.
b) Bagi orang lain
- Dapat membantu orang lain dalam menyelesaikan masalah.
c) Perilaku orang berilmu
- Semangat dalam menuntut ilmu
- Rajin mendatangi majlis ilmu

B. Kerja Keras
1. Pengertian dan perlunya sikap kerja keras.
Kerja keras berarti sungguh-sungguh, bersemangat tinggi dalam mengerjakan sesuatu.
2. Perintah untuk Kerja Keras
Dalam Q.S Jumu’ah: 10
“apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu dibumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu neruntung”.
3. Bentuk-Bentuk (contoh) Sikap Kerja Keras
a. Belajar sungguh-sungguh agar cita-cita tercapai dengan maksimal.
4. Nilai-Nilai Positif (keuntungan)memiliki sikap kerja keras
a. Terpuji dalam pandangan Allah
b. Terpuji dalam pandangan secara manusia
5. Membiasakan diri bersikap kerja keras
a. Islam memuji sikap kerja keras dan mencela minta-minta.
b. Selalu menyadari bahwa hasil yang diperoleh dari jerih payahnya sendiri lebih mulia dari pada menerima pemberian orang lain.
C. Kreatif, Produktif, dan Inovatif
1. Pengertia kreatif, produktif dan inovatif
a. Kreatif yaitu banyak akal
b. Produktif yaitu banyak mendatangkan hasil
c. Inovatif yaitu bersifat pembaruan
2. Perlunya memiliki sifat kreatif, produktif dan inovatif
Zaman semakin berkembang, persaingan hisup semakin ketat, sebagai manusia kita dituntut untuk menjadi pribadi yang kreatif, produktif dan inovatif agar kita dapat bertahan hidup.
3. Nilai-nilai positif dimiliki sifat kreatif, produktif dan inovatif
d. Dapat mengikuti perkembangan zaman
e. Kepuasan batin
f. Kebutuhan hidup dapat tercukupi
4. Membiasakan diri bersikap kreaif, produktif dan inovatif
g. Berusaha mengembangkan kemampuan yang dimiliki
h. Memperhatikan perkembangan lmu pengetahuan dan teknoligi
Menurut hasil tela’ah kami, pada semester I kelas IX, dalam penjelasan materinya sudah baik, akan tetapi terdapat kekurangan penjelasan dalam Bab II pada materi kreatif, produktif dan inovatif.
b. Semester II Kelas IX
Bab III : Iman Kepada Qada dan Qadar
A. Pengertian Iman kepada Qada dan Qadar
Iman artinya percaya, qadha artinya putusan Allahtentang suatu perkara, sedangkan qadar yaitu aturan yang diciptakan Allah untukperkara tersebut.
1. Arti Qadha dan Qadar menurut Al-Qur’an.
Allah berfirman dalam Q.Sal-Ahzab:36 yang artinya “dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasulnyatelah menetapkan suatu ketetapan, aka nada pilihan (yang lain)bagi mereka tentang urusan mereka….)
2. Kewajiban Beriman kepada Qadha dan Qadar
Setiap muslim wajib beriman kepada Qadha dan Qadar. Pengingkaran terhadap adanya qadha dan qadarberarti kafir.
3. Contoh Peristiwa yang Berhubungan dengan Qadha dan Qadar
Allah SWT menetapkan harus ada kehidupan di dunia ini. Ketetapan ini disebut qadha-Nya. Untuk mewujudkan kehebdak-Nya, Allah menciptakan matahari sebagai sumber energy untuk sarana kehidupan. Penciptaan matahari ini disebut qadar.
B. Mengembangkan Sifat Positifterhadap Qadha dab Qadar
1. Ikhtiar yaitu berusaha
2. Tawakkal yaitu berserah diri
3. Bersikap tawadhuk kepada kebesaran Allah
4. Tabah hati dalam menghadapimusibah
C. Dampak Positif Orang yang Beriman kepada Qadha dan Qadar
1. Berjiwa qona’ah
2. Berani menghadapi persoalan hidup karena yakinsenua yang dialami adalah ujian dari Alkah.
3. Memiliki jiwa yang tenang.
D. Perilaku yang Mencerminkan Keimanan kepada Qadha dan Qadar
1. Melatih diri agar selalu mensyukuri nikmat
2. Melatih diri untuk sabar dan tabah dalam menghadapi ujian Allah SWT.
Bab IV : Akhlak Karimah DALAM Pergaulan Remaja
A. Akhlak Karimah dalam Pergaulan Remaja
1. Pengertian Akhlak karimah
Akhlak Karimah ialah segala sikap, ucapan dan perbuatan yang baik sesuai ajaran islam.
2. Pentingnya Akhlak Karimah dalam Pergauln Remaja
Akhlak karimah ibarat pakaian penutup aurat. Orang yang tak memiliki akhlak seperti orang gila yang berkeliaran di jalan tanpa pakaian sedikitpun. Oleh sebab itu orang yang ingin terhormat dalam pandangan Allah dan sesame manusia hendaknya memiliki akhlak karimah.
3. Perintah untuk Memiliki Akhlak Karimah
a. Perintah untuk hidup tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan seperti dalam Q.S al-Maidah:5.
b. Perintah untuk berbuat ihsan kepada orang tua seperti dalam Q.S Luqman:31.
B. Contoh Akhlak Karimah dalam Pergaulan Remaja
1. Taaruf dan Tafahum
a. Pengertian Taaruf dan Tafahum
Ta’aruf yaitu saling mengenal. Sedangkan Tafahum yaitu saling memahami.
b. Perintah untuk Mengadakan Ta’aruf dan Tafahum.
Manusia diciptakan Allah untuk saling mengenal dan memahami, seperti terkandung dalam Q.S Al-Hujarat:13.
c. Penerapan Ta’aruf dan Tafahum
a. Dapat saling mengenal pribadi sendiri maupun orang lain
b. Saling memahami antar teman
d. Dampak Positif Ta’aruf dan Tafahu.
menambah banyak teman dan terwujudnya kerukunan hidup sesama remaja.
2. Ta’awun dan Tasamuh
a. Pengertian ta’awun dan tasamuh
Ta’awun adalah saling menolong. Sedangkan tasamuh adalah saling berbuat baik.
b. Perintah ta’awun dan tasamuh .
Dalam Q.S al-Maidah:2
c. Contoh penerapan ta’awun dan tasamuh.
Saling meringankan beban hidup dan mengunjungi teman yang sedang sakit.
d. Dampak positif ta’awun dan tasamuh
Terwujudnya kesatuan dan persatuan generasi muda dan tercapainya ketentraman batin.


3. Jujur dan Adil
a. Pengertian, Jujur berarti lurus hati. Sedangkan Adil berarti tidak memihak.
b. Perintahn untuk jujur dan adil dalam Q.S An-Nahl:90.
c. Manfaat jujur dan adil.
Menimbulkan perasaan puas dan terwujudnya kehidupan yang tentram.
4. Amanah dan Menepati janji
a. Amanah yaitu orang yang dapat dipercaya, sedangkan menepati janji berarti berbuat sesuatu sesuai dengan janji yang telah diucapkan.
b. Perintah amanah dan menepati janji terdapat dalam Q.S An-Nisa’:58 dan Q.S. Al-Anfal:27
c. Dampak positif amanah dan menepati janji.
Menumbuhkan kepuasan batin bagi diri sendiri dan orang yang member amanah.
Mendapat pahala dari Allah.
d. Dampak negatif khianat dan ingkar janji.
Menurunkan martabat dirinya dalam pandangan orang lain dan rusaknya hubungan persaudaraan.
C. Perilaku Terpuji (Akhlak Karimah) dalam Kehidupan Remaja Sehari-hari
1. Selalu luwes dalam pergaulan
2. Ikut aktif dan mendorong setiap bentuk kerja sama
3. Berusaha untuk bersikap jujur dan adil dalam segala hal
4. Berusaha menjaga amanah dengan ikhlas dan berusaha menepati janji.

Menurut hasil tela’ah kami, pada semester II kelas IX, pada Bab IV penjelasan materinya kurang begitu jelas pada materi jujur dan adil tentang contoh penerapannya.








BAB III
ANALISIS
Setelah kami menela’ah dan menjelaskan materi Akidah Akhlak MTs, ternyata masih ada beberapa hal yang masih perlu disesuaikan dengan materi ajar yang menurut kami sudah baik, namun ada beberapa hal yang perlu diperjelas lagi.
Untuk itu, kami mencoba menganalisis materi Akidah Akhlak MTs sebagai berikut:
1. Hasil Tela’ah Penjelasan Materi Akidah Akhlak MTs
a. Pada Kelas VII Madrasah Tsanawiyah
1) Semester I Kelas VII, menurut hasil tela’ah kelompok kami pada semester I kelas VII terdapat ketidak sinambungan dalam penjelasan antara Bab III semester I dan Bab VI semester II. Dimana pada Bab III semester I dengan materi akhlak terpuji kepada Allah swt. Sebaiknya dijelaskan pada Bab V agar runtut dalam penjelasan materi tentang akhlak kepada Allah swt. Kemudian dilanjutkan Bab VI semester II yaitu dengan materi akhlak tercela kepada Allah swt. Hal ini kami lakukan agar siswa lebih mudah dalam menerima penjelasan dan bisa membedakan penjelasan tentang akhlak terpuji kepada Allah swt. dan akhlak tercela kepada Allah swt. dengan mudah dan jelas.
2) Semester II Kelas VII, menurut hasil tela’ah kelompok kami pada semester II kelas VII terdapat kurangnya penjelasan pada Bab IV semester II, dimana pada bab itu menerangkan tentang sepuluh asmaul husna, padahal pada tingkat MI sudah perna dijelaskan tentang asmaul husna. Menurut kami alangkah baiknya jika pada taraf MTs dijelaskan lebih jelas tentang 99 asmaul husna agar dalam penjelasan materi ini bisa memberikan penjelasan yang jelas tentang asmaul husna.
b. Pada Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah
1) Semester I Kelas VIII, menurut hasil tela’ah kelompok kami pada semester I kelas VIII terdapat kurangnya penjelasan pada Bab I semester I yaitu dengan materi beriman kepada kitab-kitab Allah swt. Dimana pada bab ini tidak ada penjelasan tentang hikmah beriman kepada kitab-kitab Allah swt. Padahal pada Bab IV semester II terdapat materi tentang hikmah beriman kepada Rasul-rasul Allah swt. Alangkah baiknya jika pada Bab I diberi penjelasan tentang hikmah beriman kepada kitab-kitab Allah swt. Supaya siswa lebih jelas dalam menerima materi pembelajaran. Pada Bab I pula terdapat kurangnya penjelasan pada materi macam-macam kitab Allah swt. Dimana pada kitab Zabur, Injil dan Al-Quran penjelasannya kurang dari segi sejarah turunnya kitab tersebut, padahal pada kitab Taurat diterangkan dengan jelas tentang sejarah turunnya kitab Taurat. Alangkah baiknya jika pada kitab Zabur, Injil dan Al-qur’an juga diberi penjelasan tentang sejarah turunnya kitab tersebut agar siswa lebih jelas dalam menerima materi.
2) Semester II Kelas VIII, menurut hasil tela’ah kelompok kami pada semester II kelas VIII terdapat kurangnya penjelasan pada Bab VII semester II pada materi akhlak tercela kepada sesama manusia, dimana pada materi dendam penjelasannya kurang jelas, alangkah baiknya bila ditambah penjelasan tentang akibat buruk dendam bagi diri sendiri dan akibat buruk dendam bagi orang lain. Agar siswa mampu memahami tentang akibat buruk sikap dendam bagi diri sendiri dan orang lain.
c. Pada Kelas IX Madsrasah Tsanawiyah
1) Semester I Kelas IX, menurut hasil tela’ah kelompok kami pada semester I kelas IX terdapat kekurangan dalam penjelasan pada Bab II semester I pada materi kreatif, produktif dan inovatif, hendaknya dalam penjelasannya lebih di perjelas lagi dengan membuat point tersendiri agar penjelasannya lebih jelas lagi untuk dipelajari, karena dalam buku ini penjelasannya terlalu singkat.
2) Semester II Kelas IX, menurut hasil tela’ah kelompok kami pada semester II kelas IX, terdapat kekurangan dalam penjelasan pada Bab IV semester II dimana pada Bab akhlak karimah dalam pergaulan remaja dalam materi jujur dan adil terdapat kekurangan dalam penjelasan, dimana pada materi taaruf dan tafahum serta materi taawun dan tasamuh terdapat contoh penerapannya sedangkan pada materi jujur dan adil tidak ada penjelasan tentang contoh penerapan jujur dan adil serta pada materi amanah dan menepati janji juga tidak ada contoh penerapannya. Alangkah baiknya jika pada materi jujur dan adil serta amanah dan menepati janji diberi penjelasan tentang contoh penerapannya.
2. Aspek-aspek yang terkandung didalamnya :
a. Aspek Metodologi
Menurut Dr. Ahmad Tafsir, metode adalah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pengertian cara yang paling tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu. Dalam penyampaian materi akidah akhlak ini, banyak sekali metode yang dapat digunakan, namun tidak semua metode dapat diterapkan pada tiap materi yang diajarkan. Seorang guru harus pandai dalam memilih metode yang akan digunakan, sehingga siswa tidak merasa jenuh dengan materi yang ada. Dari hasil tela’ah kami, menurut kami metode yang sesuai yaitu metode ceramah, suri tauladan dan tanya jawab. Dimana pada metode ceramah seorang guru dapat menerangkan materi pembelajarannya dengan cara berceramah, contohnya guru menerangkan tentang materi tentang beriman kepada kitab-kitab Allah, setelah guru menerangkan materi pembelajarannya dengan cara ceramah guru bisa juga langsung menggunakan metode Tanya jawab pada proses pembelajarannya dimana siswa diberi pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut materi tersebut, atau sebaliknya siswa juga bisa bertanya kepada guru tentang materi yang belum ia pahami.
b. Aspek Psikologi
Menurut Wilhelm Wund, Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia seperti perasaan panca indra, pikiran merasa dan kehendak. Dalam hal ini, akidah akhlak mempunyai peran dalam perkembangan akhlak siswa dalam dirinya. Dimana dengan adanya nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam materi akidah akhlak seperti sifat-sifat terpuji kepada Allha , setidaknya dapat berpengaruh pada siswa seperti mempunyai sifat yang ikhlas, ta’at, bekerja keras, kreatif, produktif, dan inovatif.
c. Aspek Sosial
Dalam aspek ini, materi tentang akhlak karimah dalam pergaulan remaja bisa menjadikan siswa dapat berinteraksi sosial dengan siapa saja, baik itu dengan keluarga, teman sebaya maupun dengan masyarakat sekitatnya. Dengan materi akhlak karimah dalam pergaulan seorang siswa diharapkan mampuh bersosialisasi dengan baik sesuai dengan tuntunan agama.
d. Aspek Pendidikan
Dalam aspek ini, dengan materi akhlak terpuji kepada diri sendiri, seorang siswa dapat mengambil suatu pelajaran, dimana sebagai seorang siswa harus berilmu untuk mencapai pendidikan yang diharapkan serta perlunya kerja keras untuk mencapai cita-cita yang diharapkan. Dan dengan adanya kreatifitas, produktifitas serta inovatif seorang siswa dapat mencapai pendidikan yang berakhlakul karimah.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Tela’ah Penjelasan Materi Akidah Akhlak MTs adalah penyelidikan mengenai beberapa materi tentang kesulitan-kesulitan yang mungkin ada pada materi yang dikaji, dengan menjelaskan tentang bahan yang disampaikan yaitu yang mengenai suatu kepercayaan atau keyakinan yang berupa budi pekerti atau kelakuan baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah pada lembaga pendidikan yang memberikan pendidikan dan pengajaran tingkat menengah dan menjadikan mata pelajaran agama islam sebagai mata pelajaran dasar.
2. Pada penjelasan materi Akidah Akhlak MTs sudah baik, namun ada beberapa sub bab yang perlu diperbaiki dan ada sub bab yang penjelasannya perlu ditambah lagi agar siswa lebih jelas memahami materi ajar.
3. Materi Akidah Akhlak perlu diajarkan pada tingkat MI maupunMTs, karena dengan demikian siswa akan mengerti tentang pentingnya akidah akhlak bagi kehidupannya.
4. Esensi pelajaran Akidah Akhlak berpengaruh di berbagai aspek penting bagi siswa.
B. Saran
1. Guru juga sangat berperan aktif dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, guru juga harus menguasai bahan ajar yang akan disampaikan dan penggunaan metode yang tepat dalam proses pembelajaran.
2. Di harapkan bagi peserta didik dapat menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa, berilmu, kreatif, serta berakhlakul karimah yang baik sesuai tuntunan Agama Islam.
C. Kata Penutup
Alhamdulillah dengan segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi karena berkat rahmat, taufiq dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tela’ah Penjelasan Materi Akidah Akhlak MTs.
Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dengan segala kemampuan, namun penulis yakin hasilnya masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran selalu penulis harapkan khususnya kepada para pembaca.
Akhirnya penulis berdo’a semoga tela’ah penjelasan materi akidah akhlak MTs ini dapat membawa manfaat dan semoga Allah swt selalu menunjukkan kepada kita jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang diberi nikmat, bukan jalan orang-orang yang tersesat. Amin Ya Rabbal Alamin.
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. 2007.
2. T. Ibrahim dan H. Darsono. Membangun Akidah dan Akhlak 1 untuk Kelas VII Madrasah Tsanawiyah. Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 2009.
3. T. Ibrahim dan H. Darsono. Membangun Akidah dan Akhlak 1 untuk Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah. Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 2009.
4. T. Ibrahim dan H. Darsono. Membangun Akidah dan Akhlak 1 untuk Kelas IX Madrasah Tsanawiyah. Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 2009.
5. Nur Khoiri, M. Ag. Metodologi Pembelajaran PAI .Jepara: INISNU. 2011.
6. Drs. Abu Ahmad dan Drs. M. Umar M. A. Psikologi Umum Edisi Revisi. Semarang. 1992.

Kamis, 19 Mei 2011

Metodologi pembelajaran PAI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses pendidikan merupakan usaha untuk mempengaruhi, mengubah dan membentuk kepribadian dan tingkah laku sehingga sesuai dengan tujuan hidup yang dicita-citakan.
Agar mempermudah dan memperlancar proses pembelajaran yang ada, diperlukan suatu metode penngajaran, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan maksimal. Metode mengajar merupakan bagian perangkat alat dan cara dalam pelaksanaan suatu strategi belajar mengajar untuk mencapai tujuan-tujuan belajar.
Pada setiap mata pelajaran, metode yang digunakan bias bermacam-macam, sesuai dengan matri pembelajaran yang ada. Untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam juga bias digunakan banyak metode dalam penyampaiannya. Diantaranya yang akan dibahas di sini adalah metode pemecahan masalah, metode proyek, metode cerita, metode latihan, metode praktik, dan metode suri tauladan.
B. Rumusan Masalah
Melihat dari latar belakang masalah diatas, maka rumusan makalah yang akan dipaparkan dalam makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan metode pemecahan masalah, metode latihan, metode proyek, metode cerita, metode praktik, metode suri tauladan?
2. Metode apa sajakah yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran PAI kelas VIII semester 1 dan 2?
3. Bagaimana contoh penerapan metode praktik pada materi hukum bacaaan Qalqalah dan Ra ?



C. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian metode pemecahan masalah, metode latihan, metode proyek, metode cerita, metode praktik, metode suri tauladan.
2. Untuk mengetahui metode apa sajakah yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran PAI kelas VIII semester 1 dan 2.
3. Agar dapat penerapkan metode praktik pada materi hukum bacaaan Qalqalah dan Ra .
4. Manfaat penulisan makalah
Manfaat yang dapat kita ambil dari makalah ini adalah:
 Manfaat Teoritis :
Dapat mengetahui tentang pengertian metode pemecahan masalah, metode latihan, metode proyek, metode cerita, metode praktik, metode suri tauladan. Dan untuk mengetahui metode apa sajakah yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran PAI kelas VIII semester 1 dan 2. Serta Agar dapat penerapkan metode praktik pada materi hukum bacaaan Qalqalah dan Ra .
 Manfaat Praktis :
1. Manfaat untuk guru
• Mengetahui berbagai macam metode pembelajaran sehingga bi memilih dari memilih dari metode-metode tersebut untuk selanjutnya diaplikkasikan dalam proses pembelajaran
• Dapat menggunakan metode yang tepat dalam proses belajar mengajar.
2. Manfaat untuk mahasiswa
• Bisa dijadikan pelajaran dan bekal, agar kelak jika menjadi guru, dapat memilih metode yang tepat dalam pembelajaran.


3. Manfaat untuk siswa
• Dengan adanya penggunaan metode yang tepat, maka siswa akan dengan mudah dalam proses pembelajaran.
• Siswa tidak akan jenuh karena metode yang monoton
4. Manfaat untuk institusi
• Dengan adanya penggunaan metode pembelajaran yang tepat oleh para guru, maka akan menjadikan Institusi itu lebih berkualitas dan lebih berprestasi.

1. Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini penulis susun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
2. Rumusan Masalah
3. Tujuan Penulisan
4. Manfaat Penulisan
5. Sistematika penulisan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB III ANALISIS
A. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Materi dan Metode Pembelajaran
B. Kegiatan Pembelajaran
BAB IV PENUTUP
1. Kesimpulan
2. saran

BAB II
KAJIAN TEORI
Kelompok 2 akan mengkaji tentang pendekatan pembelajaran dengan menggunakan metode-metode sebagai berikut :
1. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving Methode)
a. Pengertian
Problem Solving adalah pemecahan masalah, problem solving digunakan sebagai metode dalam proses pembelajaran yang bertujuan untuk memecahkan suatu permasalahan dengan bantuan proses berfikir.
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
b. Langkah-langkah Metode Problem Solving
Langkah-langkah dalam pelaksanaan Metode Problem Solving, diantaranya yaitu :
1) Menetapkan masalah atau materi yang mengandung problem yang dapat dipecahkan.
2) Membuat rumusan yang jelas tentang permasalahan yang akan dipecahkan.
3) Mencari landasan teori yang digunakan sebagai dasar pemecahan masalah.
4) Mencari sebuah rumusan pertanyaan yang memancing munculnya permasalahan.
5) Mencari alternative pemecahan masalah yang paling tepat dan sesuai dengan pokok permasalahan.
Bisa disimpulkan bahwa, metode pemecahan masalah (problem solving) yaitu penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi dalam pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
c. Keunggulan dan Kelemahan Metode Problem Solving, diantaranya sebagai berikut
Keunggulan metode problem solving,sebagai berikut :
1) Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2) Berfikir dan bertindak kreatif.
3) Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis.
4) Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
5) Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6) Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
7) Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan metode problem solving, sebagai berikut :
1) Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misalnya terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya tidak dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
2) Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.



2. Metode Latihan (Drelling Methode)
a. Pengertian
Menurut Dr. Zakiah Darojat penggunaan istilah latihan sering disamakan artinya dengan istilah ulangan. Latihan bermaksud agar pengetahuan dan kecakapan tetentu dapat menjadi milik anak didik dan dikuasai sepenuhnya, sedangkan ulangan hanyalah untuk sekedar mengukur sejauh mana dia telah menyerap pelajaran tersebut. Drill merupakan suatu cara mengajar dengan memberikan latihan -latihan terhadap apa yang telah dipelajari siswa sehingga memperoleh suatu keterampilan tertentu.
b. Kegunaan Drill
1) Kecakapan motoris, misalnya : menggunakan alat-alat (music, olahraga, menari, pertukangan dan sebagainya).
2) Kecakapan mental, misalnya : Menghafal, menjumlah, mengalikan, membagi, dan sebagainya.
c. Kelebihan dan Kelemahan Metode Drill
Kelebihan metode drill antara lain :
1) Pengertian siswa lebih luas melalui latihan berulang-ulang.
2) Siswa siap menggunakan keterampilannya karena sudah dibiasakan.
3) Dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.
Adapun Kelemahan dalam metode drill yaitu :
1) Siswa cenderung belajar secara mekanis.
2) Dapat menyebabkan kebosanan.
3) Mematikan kreasi siswa.
4) Menimbulkan verbalisme.

d. Langkah-langkah metode drill (latihan) ;
1) Harus diusahakan latihan tersebut jangan sampai membosankan anak didik.
2) Latihan betul-betul diatur sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian anak didik.
3) Agar anak didik tidak ragu, maka anak didik lebih dahulu diberikan pengertian dasar tentang materi yang akan diberikan.

3. Metode Proyek (Proyek Methode)
a. Pengertian
Menurut Abdurrahman Shaleh metode proyek adalah suatu cara mengajar yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menggunakan berbagai aspek dalam kehidupan sehari-hari sebagai tema bahan pelajarannya, agar siswa tertarik untuk belajar.
Sedangkan menurut Roestiyah (1994: 81) metode proyek berarti rencana, suatu problem atau kesulitan, dan bentuk pengajaran dimana murid mengelola sendiri.
Menurut J. Mursell (Sugimal, 2006: 13) metode proyek mempunyai empat aspek dalam pelaksanaannya:
1. Menentukan tujuan.
2. Merencanakan.
3. Melaksanakan.
4. Menilai.
Keempat aspek itu terdapat dalam kegiatan siswa guna mencapai tujuannya. Siswa dapat memilih proyek sebagai bagian dari persyaratan-persyaratan atau sebagai pekerjaan pengayaan dalam suatu pelajaran.
Metode proyek itu sendiri memungkinkan penyaluran minat siswa sehingga siswa lebih ter dorong untuk belajar. Dengan metode proyek, siswa dilatih menelaah dan memandang suatu materi pelajaran dalam konteks yang lebih luas.
Penugasan (proyek) merupakan tugas yang menyenangkan sekaligus menantang, karena dalam melaksanakan proyek tersebut siswa perlu menuangkan segala kemampuan yang dimilikinya serta pengalaman belajar yang dapat menunjang pelaksanaan proyek tersebut. Dengan mengerjakan proyek, pengetahuan siswa akan meningkat. Selain itu, kreativitas siswa akan berkembang.
Dalam melaksanakan proyek siswa secara berkelompok dan bekerjasama dengan rekan sekelompoknya. Dengan demikian, hubungan sosial dan rasa solidaritas dengan sesama siswa dapat terlatih.
Pelaksanaan pembelajaran dengan metode proyek akan menghasilkan suatu hasil proyek yang dapat diamati secara langsung (nyata). Siswa akan melaporkan penemuannya dengan tertulis, lisan atau dalam beberapa bentuk penyajian lain di depan kelas, kelompok belajar atau guru. Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk sangat kreatif, selain itu, dengan mempresentasikan laporan hasil proyek, dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi.
Metode proyek membawa perubahan esensial dalam kegiatan siswa. Belajar dengan baik tidak tercapai dengan cara penyajian yang bagaimanapun baiknya. Belajar dengan hasil baik hanya tercapai dengan membangkitkan kemauan dan kegiatan siswa untuk belajar.
b. Langkah-langkah Metode Proyek
Menurut Abdurrahman Shaleh, langkah-langkah metode proyek antara lain;
1) Mempersiapkan situasi belajar mengajar.
2) Memilih dan menetapkan tujuan.
3) Membuat rencana kerja.
4) Pelaksanaan.
5) Penilaian.
6) Pencatatan.
Sedangkan menurut Ahmadi (1997) langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode proyek sebagai berikut:
1) Penyelidikan (exploration)
Guru mengajukan pertanyaan lisan, memberi keterangan singkat serta mengetes para pelajar mengenai pengetahuan mereka tentang mata pelajaran yang akan dipelajari.
2) Penyajian bahan baru (presentation)
Dengan metode ceramah, guru memberikan garis besar tentang bahan pelajaran.
3) Asimilasi/pengumpulan keterangan atau data
Para pelajar mencari informasi, keterangan atau fakta-fakta untuk mengisi pokok-pokok yang penting. Dalam langkah ini pelajar mencari data dari sumber-sumber unit (resource unit = sumber yang berisi berita, fakta, informasi dan sebagainya tentang unit yang sedang dipelajari).
4) Mengorganisasikan data (organization)
Dalam langkah ini, pelajar dibawah pimpinan guru aktif mengorganisasikan data, fakta dan informasi, missal menggolongkan data, mengolah data untuk mengambil kesimpulan. Daya berpikir dan daya menganalisis memainkan peran penting dalam langkah ini.
5) Mengungkapkan kembali (recitation)
Para pelajar mempertanggungjawabkan atau menyajikan hasil yang diperolehnya. Laporan pertanggungjawaban ini dapat dilakukan dengan lisan maupun tertulis atau keduanya. Metode ini memantapkan pengetahuan yang diperoleh anak didik. Menyalurkan minat dan melatih anak didik menelaah suatu materi pelajaran dengan wawasan yang lebih luas.

c. Kelebihan dan Kekurangan pada Metode Proyek
 Kelebihan metode proyek, antara lain ;
1) Dapat merombak pola pikir anak didik dari yang sempit menjadi lebih luas dan menyeluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.
2) Melalui metode ini, anak didik dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan terpadu, yang diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
3) Dapat menumbuhkan sikap sosial dan kerja sama yang baik
4) Anak-anak belajar bersungguh-sungguh dalam bekerja bersama.
5) Anak-anak bertanggung jawab penuh pada pekerjaannya
 Kekurangan Metode Proyek, antara lain ;
1) Memerlukan perencanaan yang matang
2) Bila proyek diberikan terlalu banyak, akan berakibat membosankan bagi siswa.
3) Organisasi bahan pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus dari guru, sedangkan para guru belum siap untuk ini.
4) Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan anak didik, cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan.
5) Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.
4. Metode Cerita (Narativieng Methode) atau Kisah
a. Pengertian
Menurut Prof. Pupuh Fathurrohman, dan M. Sabri Sutikno (2009:62) Al-Qur’an dan Hadits banyak meredaksikan kisah untuk menyampaikan pesan-pesannya. Seperti kisah malaikat, para Nabi, umat terkemuka pada zaman dahulu dan sebagaimana. Dalam kisah itu tersimpan nilai-nilai pedagogis religious yang memungkinkan anak didik mampu meresapinya.
Sedangkan menurut Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,(2002:160) metode kisah mengandung arti suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menceritakan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal, yang menuturkan perbuatan, pengalaman atau penderitaan orang lain baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja. Metode kisah yang disampaikan merupakan salah satu metode pendidikan yang mashur dan terbaik, sebab kisah itu mampu menyentuh jiwa jika didasarkan oleh ketulusan hati yang mendalam.
Dalam medote bercerita baik guru maupun siswa dapat berperan sebagai penutur. Guru dapat menugaskan salah seorang siswa atau lebih untuk menceritakan suatu peristiwa atau topik.
b. Kelebihan dan Kelemahan
Kelebihan metode cerita adalah sebagai berikut;
1) Dapat mengasah daya imajinasi dan daya pikir.
2) Media efektif untuk menanam berbagai nilai dan etika serta menumbuhkan rasa simpati.
3) Menumbuhkan minat baca pada anak.
4) Dapat mengembangkan kosa kata.
Kelemahan metode cerita, sebagai berikut;
1) Sangat diperlukan daya rangsangan imajinasi/menyajikan secara menarik.
2) Banyak dongeng yang mengandung kisah teladan yang buruk.
3) Muatan-muatan pada serita harus dipertimbangkan dengan kondisi psiokologis, jangan samapai terjadi kesalah pahaman dari serita tersebut.

5. Metode Praktik (Practising Methode)
Menurut Pupuh Fathurrohman dimaksudkan supaya mendidik dengan memberikan materi pendidikan baik menggunakan alat atau benda, seperti diperagakan, dengan harapan anak didik menjadi jelas dan mudah sekaligus dapat mempraktekkan materi yang dimaksud.
Metode ini bersifat untuk mengembangkan ketrampilan peserta belajar (ketrampilan mental maupun fisik/teknis). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktek didalam situasi yang sesungguhnya.
Misalnya: sebelum melakukan praktek penerbangan, seorang siswa sekolah penerbangan melakukan simulasi penerbangan terlebih dahulu (belum benar-benar terbang). Situasi yang dihadapi dalam simulasi ini harus dibuat seperti benar-benar merupakan keadaan yang sebenarnya (replikasi kenyataan).
Contoh lainnya yaitu seorang guru menggunakan alat yang berupa tongkat sebagai alat praktik. Dimana langkah-langkahnya sebagai berikut :
 Guru menyiapkan sebuah tongkat.
 Menyajikan materi pokok.
 Siswa membaca materi lengkap pada wacana.
 Guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang mendapatkan tongkat menjawab pertanyaan dari guru.
 Kemudian tongkat diberikan kepada siswa lain dan guru memberikan pertanyaan lagi dan seterusnya
 Guru memberikan bimbingan, kesimpulan-refleksi dan evaluasi.
Dalam metode ini siswa menggunakan pembelajaran SAVI dimana pembelajaran ini menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki siswa. Dimana SAVI merupakan kependekan dari :
 Somatic yang bermakna getaran tubuh(hands-on, aktivitas fisik) dimana belajar dengan mengalami dan melakukan.
 Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melalui mendengar, menyimak, berbicara,dll.
 Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar,membaca,dll.
 Intellectualy yang bermakna bahwa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir(minds-on) belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan dll.
6. Metode Suri Tauladan (Good Example Methode)
Menurut Prof. Pupuh Fathurrohman metode yang dapat diartikan sebagai “Keteladanan yang baik”. Dengan adanya teladan yang baik itu, maka akan menumbuhkan hasrat bagi orang lain untuk meniru atau mengikutinya, karena memang pada dasarnya dengan adanya contoh ucapan, perbuatan dan contoh tingkah laku yang baik dalam hal apapun, maka hal itu merupakan suatu amaliyah yang paling penting dan paling berkesan, baik bagi pendidikan anak, maupun dalam kehidupan dan pergaulan manusia sehari-hari.
Metode ini merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya, hal ini sudah dibuktikan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai hasilnya apapun yang diajarkan dapat diterima dengan segera dari dalam keluarga dan oleh masyarakat pengikutnya, karena ucapannya menembus ke hati mereka. Segala yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam kehidupannya merupakan cerminan kandungan Al-Qur’an secara utuh, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab : 21 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
Beberapa perilaku Nabi Muhammad SAW yang menjadi “Uswah Hasanah” antara lain :
 Kesederhanaan Nabi Muhammad SAW.
 Kedermawanan Nabi Muhammad SAW.
 Tertawa Nabi Muhammad SAW.
 Senda Gurau Nabi Muhammad SAW.
 Pegaulan Nabi Muhammad SAW.















BAB III
ANALISIS

A. SK, KD, Materi dan Metode Pembelajaran

Pendidikan Agama Islam Kelas VIII Semester 1
No Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Metode Pembelajaran
1. Menerapkan hokum bacaan Qalqalah dan Ra 1. Menjelaskan hokum bacaan Qalqalah dan Ra
2. Menerapkan hokum bacaan Qalqalah dan Ra dalam surah-surah Al Qur’an dengn benar Hukum bacaan Qalqalah dan Ra
a. Pengertian dan macam-macam Qalqalah
b. Hokum bacaan Ra
c. Menerapkan hokum bacaan Qalqalah dan Ra dalam surah-surah Al Qur’an
 Ceramah
 Praktik
 Tanya jawab
 latihan
2. Meningkatkan keimanan kepada kitab-kitab Allah 1. Menjelaskan pengertian beriman kepada kitab-kitab Allah
2. Menyebutkan nama kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para Rasul
3. Menampilkan sikap mencintai Al Qur’an sebagai kitab Allah Iman kepada kitab-kitab Allah
a. Pengertian iman kepada kitab-kitab Allah
b. Nama-nama kitab Allah dan Rasul yang menerimanya
c. Al Qur’an sebagai kitab suci umat Islam
d. Fungsi beriman kepada kitab-kitab Allah
e. Sikap mencintai Al Qur’an sebagai kitab Allah
 Ceamah
 Tanya jawab
 Latihan
3. Menbiasakan perilaku terpuji 1. Menjelaskan pengertian zuhud dan tawakal
2. Menampilkan contoh perilaku zuhud dan tawakal
3. Membiasakan perilaku zuhud dan tawakal dalam kehidupan sehari-hari Zuhud dan tawakal
a. Pengertian zuhud
b. Contoh perilaku zuhud
c. Pengertian tawakal
d. Contoh perilaku tawakal
 Ceramah
 Suri tauladan
 Tanya jawab
 Latihan
4. Menghindari perilaku tercela 1. Menjelaskan pengertian ananiah, gadab, hasad, gibah, dan namimah
2. Menyebutkan contoh-contoh perilaku ananiah, gadab, hasad, gibah, dan namimah
3. Menghindari perilaku ananiah, gadab, hasad, gibah, dan namimah dalam kehidupan sehari-hari Perilaku tercela
a. Ananiah
b. Gadab
c. Hasad
d. Gibah
e. namimah
 ceramah
 suri tauladan
 tanya jawab
 latihan
5. Mengenal tata cara shalat sunah 1. menjelaskan ketentuan shalat sunah rawatib
2. mempraktikkan shalat sunah rawatib Shalat sunah rawatib
a. ketentuan shalat sunah rawatib
b. mempraktikkan shalat sunah rawatib  ceramah
 praktik
 tanya jawab
 latihan
6. Memahami macam-macam sujud 1. menjelaskan pengertian sujud syukur, sujud sahwi, dan sujud tilawah
2. menjelaskan tata cara sujud syukur, sujud syahwi dan sujud tilawah
3. mempraktikkan sujud syukur, sujud sahwi, dan sujud tilawah Macam-macam sujud
a. sujud syukur
b. sujud sahwi
c. sujud tilawah
d. hikmah sujud syukur, sahwi dan tilawah  ceramah
 praktik
 tanya jawab
 latihan
7. Memahami tata cara puasa 1. menjelaskan ketentuan puasa wajib
2. mempraktikkan puasa wajib
3. menjelaskan ketentuan puasa sunah senin-kamis, syawal dan arafah
4. mempraktikkan puasa sunah senin-kamis, syawal dan arafah Puasa wajib dan puasa sunah
a. puasa wajib
1) pengertian puasa wajib
2) syarat wajib dan syarat sah puasa
3) rukun puasa
4) macam-macam puasa wajib
5) mempraktikkan puasa wajib
b. orang yang diperbolehkan tidak berpuasa
c. fungsi puasa dalam kehidupan
d. puasa sunah
e. waktu-waktu yang diperbolehkan dan diharamkan berpuasa  ceramah
 tanya jawab
 latihan
8. Memahami zakat 1. menjelaskan pengertian zakat fitrah dan zakat mal
2. membedakan zakat fitrah dan zakat mal
3. menjelaskan orang yang berhak menerima zakat fitarh dan zakat mal
4. mempraktikkan pelaksanaan zakat fitrah dan zakat mal Zakat fitrah dan zakat mal
a. pengertian, hokum, syarat, dan manfaat zakat fitrah
b. pengertian, hokum, syarat, dan rukun zakat mal
c. mempraktikkan pelaksanaan zakat fitrah dan zakat mal
d. orang yang berhak menerima zakat
e. manfaat zakat dalam kehidupan  problem solving
 latihan
 praktik
9. memahami sejarah Nabi Muhammad SAW 1. menceritakan sejarah Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat melalui kegiatan ekonomi dan perdagangan
2. meneladani perjuangan Nabi dan para sahabat di Madinah Sejarah Nabi Muhammad SAW
a. sejarah Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat melalui kegiatan ekonomi dan perdagangan
b. meneladani perjuangan Nabi dan para sahabat di Madinah  cerita
 suri tauladan
 latihan



Pendidikan Agama Islam Kelas VIII Semester 2
No. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Metode Pembelajaran
10. Menerapkan hukum bacaan mad dan waqaf 1. menjelaskan hokum bacaan mad dan waqaf
2. menunjukkan hokum bacaan mad dan waqafdalam bacaan surat-surat Al Qur’an
3. mempraktikkan bacaan mad dan waqaf dalam bacaan surah-surah Al Qur’an Hokum bacaan mad dan waqaf
a. hokum bacaan mad dan macam-macamnya
b. hokum bacaan waqaf dan macam-macamnya  praktik
 latihan
11. Meningkatkan keimanan kepada rasul Allah 1. menjelaskan pengertian beriman kepada rasul Allah
2. menyebutkan nama dan sifat-sifat rasul Allah
3. meneladani sifat-sifat rasulullah Iman kepada rasul Allah
a. pengertian iman kepada rasul Allah
b. nama-nama rasul Allah dan sifat-sifatnya
c. tugas nabi dan rasul Allah
d. perbedaan antara rasul ulul azmi dengan rasul Allah lainnya
e. fungsi beriman kepada rasul Allah  cerita
 suri tauladan
 latihan
12. Membiasakan perilaku terpuji 1. menjelaskan adab makan dan minum
2. menampilkan contoh adab makan dan minum
3. mempraktikkan adab makan dan minum dalam kehidupan sehari-hari Adab makan dan minum
a. adab makan dan minum
b. contoh adab makan dan minum
c. mempraktikkan adab makan dan minum dalam kehidupan sehari  suri tauladan
 praktik
 latihan
13. Menghindari perilaku tercela 1. menjelaskan pengertian perilaku dendam dan munafik
2. menjelaskan ciri-ciri pendendam dan munafik
3. menghindari perilaku pendendam dan munafik dalam kehidupan sehari-hari Perilaku dendam dan munafik
a. perilaku dendam
1) pengertian dendam
2) cirri-ciri pendendam
3) akibat negative dari sifat dendam
4) menghindari perilaku perilaku pendendam dalam kehidupan sehari-hari
b. perilaku munafik
1) pengertian dendam
2) cirri-ciri pendendam
3) akibat negative dari sifat dendam
4) menghindari perilaku perilaku pendendam dalam kehidupan sehari-hari
 suri tauladan
 praktik
 latihan
14. Memahami hukum Islam tentang hewan sebagai sumber bahan makanan 1. menjelaskan hewan-hewan yang halal dan haram dimakan
2. menghindari makanan yang bersumberdari binatang yang diharamkan Binatang halal dan haram
a. binatang yang dihalalkan
b. binatang yang diharamkan
c. manfaat binatang yang dihalalkan
d. menghindari makanan yang bersumber dari binatang yang diharamkan  praktik
 latihan
 proyek
15. Memahami sejarah dakwah Islam 1. menceritakan sejarah pertumbuhan ilmu pengetahuan Islam sampai masa Abbasiyah
2. menyebutkan tokoh ilmuan muslimdan perannya sampai masa Daulah Abbasiyah Ilmu pengetahuan pada masa daulah Abbasiyah
a. ilmu pengetahuan pada masa Rasulullah SAW. Khulafaur rasyidin dan daulah umayyah
b. sejarah pertumbuhan ilmu pengetahuan Islam pada masa Abbasiyah
c. tokoh ilmuan muslim dan perannya dibidang ilmu pengetahuan sampai masa daulah abbasiyah  cerita
 suri tauladan
 latihan
Sumber:
- Buku Paket Pendidikan Agama Islam untuk SMP kelas VIII, karangan Multahim, dkk., (Jakarta: Yudhistira, 2007) sesuai standar isi 2006.
- Model Silabus dan RPP mata pelajaran Pendidikan Agama Islam SMP/MTS, oleh Badan Standar Nasional Pendidikan, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2006).
B. Kegiatan Pembelajaran
1. Dalam materi “Hukum Bacaan Qalqalah dan Ra”, pemakalah menerapkan metode ceramah, praktik dan latihan. Dimana materi yang dibahas membutuhkan penjelasan mengenai pengertian, macam-macam, hukum bacaan dan cara membaca Qalqalah dan Ra pada Al Qur’an. Peserta didik diajak mempraktikkan bacaan qalqalah dan ra, lalu diadakan latihan agar siswa bias menyebutkan tentang pengertian, macam-macam qalqalah serta bacaan ra dan penerapan hokum bacaan pada Al qur’an.
2. Pada materi “Iman kepada Kitab-kitab Allah”, pemakalah menerapkan metode ceramah, tanya jawab dan latihan. Pendidik menjelaskan pengertian iman kepada kitab-kitab Allah, nama kitab-kitab Allah dan Rasul yang menerimanya, Al Qur’an sebagai kitab suci umat Islam, fungsi beriman kepada kitab-kitab Allah, dan sikap mencintai Al Qur’an sebagai kitab Allah. Lalu diadakan tanya jawab, agar peserta didik dapat mengungkapkan apa yang belum diketahui dan apa yang ingin diketahui. Setelah itu diadakan latihan agar siswa dapat menyebutkan tentang ketentuan yang ada pada materi.
3. Pada materi “Zuhud dan Tawakal”, pemakalah menerapkan metode ceramah, suri tauladan, tanya jawab dan latihan. Pendidik menjelaskan pengertian zuhud dan tawakal, dan menampilkan contoh perilaku tersebut. Dan bias digunakan pendekatan CTL, karena sebisa mungkin peserta didik mampu membiasakan perilaku zuhud dan tawakal dalam kehidupan sehari-hari. Lalu diadakn tanya jawab, agar pendidik mengetahui kemampuan/kepahaman peserta didik secara langsung mana yang aktif dan mana yang tidak. Seteelah itu diadakan latihan yaitu pertanyaan secara tertulis diberikan kepada peserta didik.
4. Pada materi “Perilaku Tercela” yaitu ananiyah, gadab, gibah, hasad dan namimah, pemakalah menerapkan metode ceramah, suri tauladan, tanya jawab, dan latihan. Pendidik menjelaskan pengertian dari ananiyah, gadab, gibah, hasad dan namimah, dan menampilkan contoh perilaku tersebut. Pendidik juga mengajak untuk menghindari perilaku tercela tersebut dengan pendekatan CTL yaitu peserta didik mampu menghidari perilaku tercela itu dalam kehidupan sehari-hari. Lalu diadakan tanya jawab, agar peserta didik mampu mengungkapkan apa yang belum diketahui dan apa yang ingin diketahui. Setelah itu diadakan latihan agar siswa dapat menyebutkan tentang pengertian, contoh-contoh dan cara menghindari perilaku tercela tersebut.
5. Pada materi “Shalat Sunah Rawatib”, pemakalah menerapkan metode ceramah, praktik dan latihan. Pendidik menjelaskan ketentuan shalat sunah rawatib dan juga bagaimana cara mempraktikkannya, peserta didik diajak mempraktikkannya di kelas dan dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan pendekatan CTL. Lalu diadakan latihan-latihan agar peserta didik dapat menyebutkan pengertian dan pelaksanaan dari shalat sunah rawatib.
6. Pada meteri “ Macam-macam Sujud”, pemakalah menerapkan metode ceramah, praktik, tanya jawab, dan latihan. Pendidik menjelaskan pengertian, tata cara, dan hikmah sujud syukur, sujud tilawah dan sujud sahwi. Peserta didik diajak mempraktikkannya di kelas dan juga dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan pendekatan CTL. Lalu diadakan tanya jawab, agar peserta didik mampu mengungkapkan apa yang belum diketahui dan apa yang ingin diketahui. Setelah itu diadakan latihan agar siswa dapat menyebutkan tentang pengertian, tata cara, dan hikmah sujud syukur, sujud tilawah dan sujud sahwi.
7. Pada materi “ Puasa Wajib dan Puasa Sunnah”, pemakalah menerapkan metode ceramah, tanya jawab dan latihan. Pendidik menjelaskan ketentuan puasa wajib, orang yang diperbolehkan tidak berpuasa, fungsi puasa dalam kehidupan, ketentuan puasa sunah dan waktu-waktu yang diperbolehkan dan diharamkan berpuasa. Peserta didik diajak mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan pendekatan CTL. Lalu diadakan tanya jawab, agar peserta didik mampu mengungkapkan apa yang belum diketahui dan apa yang ingin diketahui. Setelah itu diadakan latihan agar siswa dapat menyebutkan tentang Pendidik menjelaskan ketentuan puasa wajib, orang yang diperbolehkan tidak berpuasa, fungsi puasa dalam kehidupan, ketentuan puasa sunah dan waktu-waktu yang diperbolehkan dan diharamkanberpuasa.
8. Pada materi ke 8 tentang memahami zakat, kita bisa menggunakan 3 metode pembelajaran. Diantara yaitu :
Metode latihan; dimana dengan metode ini siswa diajarkan untuk mengetahui tentang pengertian zakat fitrah dan zakat mal, siswa dapat membedakan zakat fitrah dan zakat mal serta menjelaskan tentang orang yang berhak menerima zakat fitrah dan zakat mal.
Metode praktik ; dimana dengan metode ini siswa diajarkan untuk bisa mempraktikkan tentang zakat fitrah dan zakat mal.
Metode problem Solving ; dimana metode ini merupakan metode untuk memecahkan suatu masalah, dimana dalam materi zakat banyak sekali masalah-masalah yang terjadi.
9. Pada materi ke 9 tentang memahami sejarah Nabi Muhammad SA, kita bisa menggunakan 3 metode pembelajaran. Diantaranya yaitu :
Metode cerita; dimana metode ini mengajarkan siswa dengan cara bercerita tentang sejarah Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat melalui kegiatan ekonomi dan perdagangan.
Metode Suri tauladan; dimana metode ini mengajarkan siswa agar bisa meneladani perjuangan Nabi dan para sahabat di Madinah.
Metode Latihan; dimana metode ini mengajarkan anak untuk melatih dirinya, agar pengetahuannya dan kecakapannya tentang sejarah Nabi Muhammad dan suri tauladannya semakin bertambah.
10. Pada materi ke 10 tentang menerapkan hukum bacaan mad dan waqaf, dimana kita bisa menggunakan 2 metode dalam proses pembelajaran, diantaranya yaitu :
Metode latihan; dimana siswa dilatih untuk mengetahui tentang hukum bacaan mad dan waqaf, serta siswa dilatih agar bisa menunjukkan hukum bacaan mad dan waqaf dalam bacaan surat-surat Al Qur’an.
Metode praktik; dengan metode praktik siswa diajarkan untuk bisa mempraktikkan bacaan mad dan waqaf dalam bacaan surah-surah Al Qur’an.
11. Pada materi ke 11 tentang meningkatkan keimanan kepada rasul Allah, dimana metode yang bisa diterapkan yaitu:
Metode cerita; dimana metode ini menceritakan tentang keimanan kepada rasul Allah,nama-nama rasul dan tugasnya serta fungsi beriman kepada rasul Allah.
Metode Latihan; dimana siswa dilatih untuk mengetahui tentang pengertian iman kepada rasul Allah serta siswa dilatih agar bisa membedakan antara rasul ulul azmi dengan rasul Allah lainnya.
Metode suri tauladan; dimana metode ini mengajarkan siswa untuk mencontoh teladan dari rasulullah.
12. Pada materi ke 12 tentang membiasakan perilaku terpuji, metode yang dapat digunakan antara lain:
Metode latihan; dimana siswa dilatih agar bisa mengetahui tentang adab makan dan minum.
Metode praktik; dimana siswa diajarkan agar bisa mempraktikkan adab makan dan minum dalam kelas dan kehidupan sehari-hari.
Metode suri tauladan; dimana siswa tidak hanya mencontoh teladan yang baik, tetapi siswa juga harus bisa member contoh atau teladan yang baik kepada semua orang.
13. Pada materi ke 13 tentang menghindari perilaku tercela, metode yang dapat digunakan diantaranya :
Metode latihan; dimana metode ini melatih siswa untuk bisa mengetahui tentang pengertian perilaku dendam dan munafik, serta agar siswa lebih paham tentang ciri-ciri pendendam dan munafik.
Metode praktik; dimana metode ini mengajarkan siswa agar bisa mempraktekkan tentang menghindari perilaku pendendam dan munafik dalam kehidupan sehari-hari.
Metode suri tauladan; dimana metode ini mengajarkan siswa agar bisa mengambil teladan dari materi ini dan siswa dapat menghindari perilaku pendendam dan munafik dalam kehidupan sehari-hari.
14. Pada materi ke 14 tentang memahami hukum Islam tentang hewan sebagai sumber bahan makanan, kita bisa menggunakan metode pembelajaran sebagai berikut :
Metode latihan; dimana metode ini untuk melatih siswa supaya bisa menjelaskan hewan-hewan yang halal dan haram dimakan. Dan siswa dilatih untuk menghindari makanan yang bersumber dari binatang yang diharamkan.
Metode Praktik; dengan metode ini siswa diharapkan bisa mempraktekkan dalam kehidupannya sehari-hari tentang makanan yang halal dan haram.
Metode proyek; dimana metode ini memberi banyak kesempatan kepada siswa untuk menggunakan berbagai aspek dalam kehidupan sehari-hari sebagai tema bahan pembelajaran.Dimana dengan menggunakan metode ini siswa bisa menyelesaikan masalah tentang hewan yang halal dan hewan yang haram untuk dikonsumsi oleh manusia serta baik bagi tubuhnya.
15. Pada materi ke 15 tentang memahami sejarah dakwah Islam, kita bisa menggunakan metode pembelajaran sebagai berikut :
Metode cerita; dimana metode ini menceritakan kepada siswa tentang sejarah pertumbuhan ilmu pengetahuan Islam sampai masa Abbasiyah. Serta menceritakan tentang tokoh ilmuan muslim dan perannya sampai masa Daulah Abbasiyah.
Metode latihan; dimana metode ini melatih siswa agar mengetahui tentang sejarah pertumbuhan ilmu pengetahuan Islam sampai masa Abbasiyah. Dan agar siswa juga bisa mengetahui tentang tokoh ilmuan muslim dan perannya sampai masa Daulah Abbasiyah.
Metode suri tauladan; dimana metode ini mengajarkan siswa agar bisa mengambil contoh atau teladan dari tokoh-tokoh muslim yang berperan dalam ilmu pengetahuan Islam.




B. Contoh penerapan metode praktik pada materi hukum Qalqalah dan Ra

1. Contoh Materi ;
Hukum bacaan Qalqalah dan Ra
a. Pengertian Qalqalah
Qalqalah menurut bahasa artinya memantul. Adapun menutut ilmu tajwid qalqalah berarti huruf yang dibaca dengan gerakan suara yang memantul, sehingga terdengar suara membalik dengan bunyi rangkap, baik karena berharakat sukun maupun di waqafkan.
Huruf qalqalah ada 5, yaitu :
Contoh :
(Qulhuwallahuahadun) dibaca
(Qul huwallahu ahadd).
b. Macam-macam Qalqalah
1) Qalqalah Kubra
Yaitu : salah satu huruf qalqalah yang matinya tidak asli, tetapi karena di waqafkan/dihentikan, maka cara membacanya harus terang dan memantul. Contoh : diwaqafkan dibaca
2) Qalqalah Sughra
Yaitu : apabila salah satu huruf qalqalah yang bersukun/matinya asli, maka cara membacanya harus terang dan memantul.
Contoh : dibaca
c. Hukum Bacaan Ra
Hokum bacaan Ra ada 2, yaitu : Ra Tafkhim ( Ra yang di baca tebal ) dan Tarqiq ( Ra yang di baca tipis ).
1) Ra di baca Tafkhim
• Apabila Ra berkharokat fatkhah atau dummah.
Contoh : di baca
di baca
• Apabila huruf Ra berkharokat sukun dan huruf sebelumnya berkharokat fatkhah atau dummah.
Contoh : di baca
di baca
• Apabila ada Ra sukun/mati dan huruf sebelumnya berkharokat kasroh ( yaitu : kasroh yang terdapat pada hamzah wasol ).
Contoh : di baca
• Apabila Ra sukun di dahului huruf berkharokat kasroh dan sesudak Ra terdapat huruf Isti’la ( )
Contoh : di baca
2) Ra di baca Tarqiq
• Apabila Ra berkharokat kasroh atau kasrohtain.
Contoh : di baca
di baca
• Apabila Ra sukun di dahului oleh huruf berkharokat kasroh
Contoh : di baca
• Apabila Ra berkharokat dummah atau dummahtain dan huruf sebelumya berupa Ya sukun dan Ra tersebut di waqofkan/berhenti.
Contoh : di baca

Contoh Soal ;
1. pelajari dan pahami kembali pengertian tentang qalqalah dan ra dengan seksama!
2. bukalah surat al-‘adiyat ayat 1- 11 kemudian bacalah dengan fasih sesuai makhorijul hurufnya
3. apabila kamu menemui kesulitan bertanyalah pada guru atau teman yang lebih mengetahui
4. tentukankanlah hokum bacaan qalqalah dan ra yang terdapat pada surat al-‘adiyat tersebut kedalam table berikut ini:
No. lafal Hokum bacaan keterangan
1. Qalqalah sughra Huruf qalqalah ( ) mati asli
2.
3.
4.
5.






1. Contoh Langkah-langkah Pembelajaran ;
1. Pendahuluan :
 Memberikan salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmalah serta mengecek siswa yang tidak masuk (absensi).
 Menyampaikan kompetensi dari materi yang akan diajarkan.
 Menjelaskan tujuan yang ingin dicapai dari materi yang akan diajarkan.
2. Kegiatan inti :
 Guru menyiapakan materi yang akan dipelajari, kemudian siswa membaca materi tersebut dengan seksama.
 Kemudian guru menunjuk salah seorang siswa untuk mempraktekkan hokum bacaan qalqalah dan ra
 Dan jika dalam praktik siswa yng ditunjuk terdapat kesalahan dalam mempraktekkan, guru bertugas untuk membenarkannya.

3. Kegiatan Penutup :
 Mengadakan tanya jawab tentang hokum qalqalah dan ra
 Guru merangkum materi yang baru saja di praktikkan.
 Menutup pelajaran dengan membaca hamdalah dan salam.

Menurut pemakalah, berdasarkan Buku Paket Pendidikan Agama Islam untuk SMP kelas VIII, karangan Multahim, dkk , prosentase antara materi pembelajaran dengan SK dan KD yaitu 100%, karena sudah sesuai/tidak ada pertentangan ataupun kerancuan hubungan antara keduanya. Dimana ketentuan pada SK dan KD tersebut tertera pula pada ketentuan ditiap materi pembelajaran.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
 Pengertian metode pemecahan masalah, metode latihan, metode proyek, metode cerita, metode praktik, metode suri tauladan
1. Problem Solving adalah pemecahan masalah, problem solving digunakan sebagai metode dalam proses pembelajaran yang bertujuan untuk memecahkan suatu permasalahan dengan bantuan proses berfikir.
2. Menurut Dr. Zakiah Darojat penggunaan istilah latihan sering disamakan artinya dengan istilah ulangan. Latihan bermaksud agar pengetahuan dan kecakapan tetentu dapat menjadi milik anak didik dan dikuasai sepenuhnya, sedangkan ulangan hanyalah untuk sekedar mengukur sejauh mana dia telah menyerap pelajaran tersebut.
3. Menurut Abdurrahman Shaleh metode proyek adalah suatu cara mengajar yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menggunakan berbagai aspek dalam kehidupan sehari-hari sebagai tema bahan pelajarannya, agar siswa tertarik untuk belajar.
4. menurut Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam,(2002:160) metode kisah mengandung arti suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menceritakan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal, yang menuturkan perbuatan, pengalaman atau penderitaan orang lain baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja.
5. Menurut Pupuh Fathurrohman dimaksudkan supaya mendidik dengan memberikan materi pendidikan baik menggunakan alat atau benda, seperti diperagakan, dengan harapan anak didik menjadi jelas dan mudah sekaligus dapat mempraktekkan materi yang dimaksud.
6. Menurut Pupuh Fathurrohman metode suri tauladan yang dapat diartikan sebagai “Keteladanan yang baik”. Dengan adanya teladan yang baik itu, maka akan menumbuhkan hasrat bagi orang lain untuk meniru atau mengikutinya.
 Metode yang tepat untuk digunakan dalam pembelajaran PAI kelas VIII semester 1 dan 2
1. Materi hukum bacaan qalqalah dan ra, menggunakan metode ceramah, praktik, tanya jawab dan latihan.
2. Materi Iman kepada kitab-kitab Allah, menggunakan metode ceramah, tanya jawab, latihan.
3. Materi zuhud dan tawakal, menggunakan metode ceramah, suri tauladan, tanya jawab dan latihan.
4. Materi perilaku tercela, menggunakan metode ceramah suri tauladan, tanya jawab dan latihan.
5. Materi tentang sholat sunnah rowatib, menggunakan metode ceramah, praktik, tanya jawab dan latihan.
6. Materi tentang macam-macam sujud, menggunakan metode ceramah, praktik, tanya jawab, latihan.
7. Materi tentang puasa wajib dan puasa sunnah, menggunakan metode ceramah, tanya jawab, latihan.
8. Materi tentang zakat fitrah dan zakat mal, menggunakan metode problem solving, latihan, praktik.
9. Materi tentang sejarah Nabi Muhammad SAW, menggunakan metode cerita, suri tauladan, dan latihan.
10. Materi tentang hokum bacaan mad dan waqof, menggunakan metode praktik, latihan.
11. Materi tentang iman kepada Allah SAW, menggunakan metode cerita, suri tauladan, dan latihan.
12. Materi tentang adab makan dan minum, menggunakan metode suri tauladan, praktik dan latihan.


13. Materi tentang perilaku dendam dan munafik, menggunakan metode suri tauladan, praktik, dan latihan.
14. Materi tentang binatang haram dan haram, menggunakan metode praktik, latihan dan proyek.
15. Materi tentang ilmu pengetahuan pada masa daulah abasiyah, menggunakan metode cerita, suri tauladan, dan latihan.
 Contoh penerapan metode praktik pada materi hokum qalqalah dan ra
Contoh Langkah-langkah Pembelajaran ;
1. Pendahuluan :
 Memberikan salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmalah serta mengecek siswa yang tidak masuk (absensi).
 Menyampaikan kompetensi dari materi yang akan diajarkan.
 Menjelaskan tujuan yang ingin dicapai dari materi yang akan diajarkan.
2. Kegiatan inti :
 Guru menyiapakan materi yang akan dipelajari, kemudian siswa membaca materi tersebut dengan seksama.
 Kemudian guru menunjuk salah seorang siswa untuk mempraktekkan hokum bacaan qalqalah dan ra.
 Dan jika dalam praktik siswa yng ditunjuk terdapat kesalahan dalam mempraktekkan, guru bertugas untuk membenarkannya.

3. Kegiatan Penutup :
 Mengadakan tanya jawab tentang hokum bacaan qalqalah dan ra
 Guru merangkum materi yang baru saja di praktikkan.
 Menutup pelajaran dengan membaca hamdalah dan salam.





B. Saran
1. Hendaknya kita para mahasiswa fakultas tarbiyah, bisa mengetahui dan memahami macam-macam metode pembelajaran, sehingga nantinya saat menjadi pendidik tidak mengalami kesulitan yang berlebihan dalam proses pembelajaran.
2. Dalam upaya meningkatkan pendidikan, hendaknya metode-metode pembelajaran yang ada bisa diaplikasikan dengan tepat sesuai materi yang diajarkan, agar tercapai hasil pembelajaran yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
1. Badan Standar Nasional Pendidikan. Model Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Jakarta: Departemen pendidikan nasional. 2006.
2. Fathurrohman, Pupuh; dan M. Sabri Sutikno. Strategi Belajar Mengajar melalui Penanaman. Bandung:PT. Refika Aditama. 2009.
3. http://bandipuppet.blogspot.com/2009/03/pembelajaran-dengan-metode-proyek.html
4. http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/metode-latihan-drill.html
5. http://mala.student.umm.ac.id/
6. http://nadhirin.blogspot.com/2008/08/metode-pembelajaran-efektif.html
7. http://www.docstoc.com/docs/70951291/PENDEKATAN-DAN-METODE- PENDIDIKAN-ISLAM
8. http://www.mizan-poenya.co.cc/2011/02/metode-kisah-cerita-dalam-pendidikan.html
9. Khoiri, Nur. Metodologi Pembelajaran PAI. Jepara: INISNU. 2011.
10. Multahim; dkk.. Pendidikan Agama Islam Penuntun Akhlak. Jakarta: Yudhistira. 2007.
11. Semiawan, Conny; dkk.. Pendekatan Ketrampilan Proses. Jakarta: PT. Gramedia. 1992.

Senin, 25 April 2011

Peran Supervisor dalam Pembinaan Sikap Guru

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional, pemerintah khususnya melalui Depdiknas terus menerus berupaya melakukan berbagai perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan kita. Salah satu upaya yang sudah dan sedang dilakukan, yaitu berkaitan dengan faktor guru. Lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada dasarnya merupakan kebijakan pemerintah yang didalamnya memuat usaha pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia. Michael G. Fullan yang dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan bahwa “educational change depends on what teachers do and think…”. Pendapat tersebut mengisyaratkan bahwa perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan sangat bergantung pada “what teachers do and think “. atau dengan kata lain bergantung pada penguasaan kompetensi guru.

Jika kita amati lebih jauh tentang realita kompetensi guru saat ini agaknya masih beragam. Sudarwan Danim (2002) mengungkapkan bahwa salah satu ciri krisis pendidikan di Indonesia adalah guru belum mampu menunjukkan kinerja (work performance) yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja guru belum sepenuhnya ditopang oleh derajat penguasaan kompetensi yang memadai, oleh karena itu perlu adanya upaya yang komprehensif guna meningkatkan kompetensi guru.

Secara umum supervisi pendidikan merupakan proses pemberian bantuan untuk peningkatan mutu pendidikan, untuk itu supervisi dapat dilakukan dari Kepala Sekolah kepada Guru, dari Pengawas kepada Kepala Sekolah & Guru, dari Guru kepada Guru, dan dari Kepala Sekolah kepada Kepala Sekolah.

Supervisi biasanya juga diikuti pengawasan yang berarti pembinaan. Pembinaan ini dapat dalam bidang akademik dan administratif. Berkaitan dengan hal tersebut, maka hakikat supervisi adalah proses pemberian layanan bantuan profesional kepada guru untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas mengelola proses belajar mengajar bagi siswa. Pengembangan profesionalisme guru adalah proses belajar yang terus menerus pada berbagai tingkatan. Program Pengembangan Profesionalisme Guru yang berkualitas dapat meningkatkan kemampuan guru untuk mewujudkan visi dan tujuan sekolah. Dengan demikian fungsi supervisi adalah salah satu mekanisme untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dalam upaya mewujudkan proses belajar peserta didik yang lebih baik melalui cara mengajar yang lebih baik pula.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas maka dapat dijadikan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Jelaskan peran supervisor dalam pembinaan sikap guru ?
2. Jelaskan peran supervisor dalam memecahkan masalah keluh kesah guru, kesejahteraan, kepuasan kerja, dan kinerja guru dalam PMB ?
3. Jelaskan cara mempraktekkan peran supervisi dalam pembinaan guru bermasalah ?

C. Tujuan Penulisan
1. Dapat mengetahui peran supervisor dalam pembinaan sikap guru.
2. Dapat mengetahui peran supervisor dalam memecahkan masalah keluh kesah guru, kesejahteraan, kepuasan kerja, dan kinerja guru dalam PMB.
3. Dapat mengetahui cara mempraktekkan peran supervisi dalam pembinaan guru bermasalah.

D. Manfaat Penulisan
1. Mahasiswa dapat mengetahui peran supervisor dalam pembinaan sikap guru.
2. Mahasiswa dapat mengetahui peran supervisor dalam memecahkan masalah keluh kesah guru, kesejahteraan, kepuasan kerja, dan kinerja guru dalam PMB.
3. Mahasiswa dapat mengetahui cara mempraktekkan peran supervisi dalam pembinaan guru bermasalah.




BAB II
PEMBAHASAN

A. Peran Supervisor Dalam Pembinaan Sikap Guru
Supervisi adalah aktivitas menentukan kondisi atau syarat-syarat yang esensial yang akan menjamin tercapainya tujuan-tujuan pendidikan .Melihat definisi tersebut maka tugas supervisor berarti bahwa dia hendaknya pandai meneliti dan menentukan syarat-syarat mana sajakah yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya, sehingga tujuan-tujuan pendidikan disekolah itu semaksimal mungkin dapat tercapai.
Menurut Lovell and Willes (1983: 11) supervisor , yaitu “A supervisor is person formally designated by the organization as supervisor to improve curriculum and instruction in order to improve the quality of learning student”. Pendapat ini dapat diartikan bahwa supervisor adalah pejabat formal yang ditunjuk oleh organisasi pengawas dalam rangka pengembangan kurikulum dan memberi pengarahan akan kebutuhan pengembangan kualitas belajar siswa.
Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan oleh seorang supervisor terhadap guru dalam rangka melaksanakan, mengoreksi, memperbaiki dan membina proses belajar mengajar bersama guru. Diantaranya adalah :
1. Pendekatan Humanistik
Pendekatan humanistik yaitu : pendekatan yang timbul dari keyakinan bahwa guru tidak dapat diperlakukan sebagai alat semata-mata untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar. Dalam proses pembinaan, guru mengalami pengembangan secara terus menerus, dan program supervise harus dirancang untuk mengikuti pola perkembangan itu.
Tugas supervisor adalah membimbing sehingga semakin lama guru, semakin dapat berdiri sendiri dan dapat berkembang dalam jabatannya dengan usaha sendiri. Supervisor harus percaya bahwa guru mampu melakukan analisis dan memecahkan masalah yang dihadapinya dalam tugas mengajarnya.


2. Pendekatan Kompetensi
Pendakatan ini mempunyai makna bahwa guru harus mempunyai kompetensi tertentu untuk melaksanakan tugasnya. Guru yang tidak memenuhi kompetensi itu tidak akan produktif.
Tugas supervisor adalah menciptakan lingkungan yang sangat tersruktur sehingga secara bertahap guru dapat menguasahi kompetensi yang dituntut dalam mengajar. Situasi yang tersruktur ini antara lain, meliputi adanya : Definisi tentang tujuan kegiatan supervise yang dilaksanakan untuk tiap kegiatan, penilaian kemampuan mula guru dengan segala pirantinya, program supervise yang di lakukan dengan segala rencana terinci tentang pelaksanaannya dan monitoring kemajuan guru dan penilaian untuk mengetahui apakah program itu berhasil atau tidak.
3. Pendekatan klinis
Pendekatan klinis adalah suatu proses tatap muka antara supervisor dengan guru yang membicarakan hal mengajar dan yang ada hubungannya dengan itu. Pembicaraan ini bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru dan sekaligus untuk perbaikan proses pengajaran. Untuk itu supervisor diharapkan untuk mengajarkan berbagai ketrampilan kepada guru yang meliputi antara lain: a) ketrampilan mengamati dan memahami proses pengajaran secara analitis, b) ketrampilan menganalisis proses pengajaran secara rasional berdasarkan bukti-bukti pengamatan yang jelas dan tepat, c) ketrampilan dalam pembaharuan kurikulum, pelaksanaan serta percobaannya dan d) ketrampilan dalam mengajar.
4. Pendekatan professional
Pendekatan keempat dalam supervisi adalah pendekatan professional. Kata professional menunjukkan pada fungsi utama guru yang melaksanakan pengajaran secara professional.
Asumsi dasar pendekatan ini adalah bahwa karena tugas utama profesi guru itu adalah mengajar, maka sasaran supervisi juga harus mengarahkan pada hal-hal yang menyangkut tugas mengajar itu, dan bukan tugas guru yang sifatnya administratif.
Dalam lingkup sekolah maka yang dapat dikatakan sebagai supervisor yaitu kepala sekolah. Karena kepala sekolah sebagai administrator terdepan dan jelas berkaitan dengan guru khususnya dalam kegiatan proses pembelajaran. Selain itu wakil kepala sekolah, maupun kepala sumber belajar juga bisa membimbing guru-guru lain untuk membantu peningkatan kompetensinya profesionalnya.
Menurut Piet. A Sahertian (2000: 25), peran seorang supervisor yaitu membantu (Assisting), dorongan (Supporting), dan mengikutsertakan (Sharing).
Berkaitan dengan peran sebagai supervisor maka Menurut Piet A. Sahertian dan Frans Mataheru (1982: 24), peran kepala sekolah yaitu membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan, membantu guru dalam menggunakan sumber-sumber, metode dan alat pelajaran, membantu guru dalam memenuhi kebutuhan dan membimbing pengalaman belajar siswa, membantu guru menilai kemajuan-kemajuan dan hasil pekerjaan siswa, membantu guru untuk lebih bisa bersosialisasi dengan masyarakat, serta membantu reaksi mental dan moral kerja guru dalam rangka pertumbuhan pribadi dan jabatan mereka.
Hendiyat Soetopo (1985: 55), menyebutkan bahwa kepala sekolah mempunyai beberapa peran penting yaitu sebagai berikut.
a. Peran pembimbingan yaitu membimbing guru agar dapat memahami secara lebih jelas masalah atau persoalan-persoalan dan kebutuhan murid serta membantu guru dalam mengatasi persoalan, memberikan bimbingan yang bijaksana terhadap guru baru dengan sifat materinya.
b. Peran memberi bantuan yaitu membantu guru dalam mengatasi kesukaran dalam mengajar, membantu guru memperoleh kecakapan mengajar yang sesuai dengan sifat materinya, membantu guru memperkaya pengalaman belajar sehingga suasana pengajaran bisa menggembirakan anak didik, dan membantu guru mengerti makna dari alat-alat pelajaran.
c. Peran memberikan layanan yaitu memberi pelayanan kepada guru agar dapat menggunakan seluruh kemampuannya dalam melaksanakan tugas.
d. Peran pembinaan yaitu membina moral kelompok, menumbuhkan moral yang tinggi dalam pelaksanaan tugas.
Pendapat tersebut menunjukkan adanya aktifitas supervisi antara kepala sekolah dan guru yang meliputi kegiatan pembimbingan, bantuan, layanan, serta pembinaan yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan guru dalam proses pembelajaran.


Menurut Made Pidarta (1999: 101-102), tanggungjawab supervisor yaitu sebagai berikut.
a. Mengorganisasi dan membina guru, diantaranya yaitu memotivasi guru, membangun hubungan yang harmonis dengan guru, mengembangkan profesi guru, memberi fasilitas dan kesempatan bagi guru agar kinerjanya meningkat.
b. Mempertahankan dan mengembangkan kurikulum, yaitu berkaitan dengan proses pembelajaran oleh guru diantaranya bagaimana menciptakan pembelajaran yang kondusif, mengembangkan program belajar, materi dan alat bantu belajar bersama guru, serta menilai pendidikan beserta hasilnya.
c. Meningkatkan aktifitas penunjang kurikulum, yaitu melakukan penelitian bersama guru serta menilai mengadakan humas.
Pendapat tersebut mengandung pengertian bahwa peran kepala sekolah sebagai supervisor meliputi hal-hal yang berkaitan dengan upaya peningkatan profesi dan kinerja guru, peningkatan kualitas proses pembelajaran, pengembangan kurikulum serta yang unsur-unsur yang menunjang peningkatan proses pembelajaran.
B. Peran Supervisor dalam Memecahkan Masalah Keluh Kesah Guru, Kesejahteraan, Kepuasan Kerja, Kinerja Guru dalam PBM.
a. Peran Supervisor dalam Memecahkan Masalah Keluh Kesah Guru
Dalam usaha menyempurnakan pengajaran di sekolah, memang dituntut sejumlah waktu dan pikiran dari para guru bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang bersangkutan. Sejauh mana seorang guru dapat menyediakan waktu dan usaha untuk keperluan tiu, tidak hanya bergantung pada kerajinan dan ambisi profesionalnya, tetapi ditentukan juga oleh kesehatan dan energi yang ada padanya. Faktor-faktor tadi menjadikan masalah yang harus dihadapi dan dipertimbangkan oleh seorang supervisor.
Dimana seorang supervisor yang baik adalah orang yang mampu melihat fungsi-fungsinya sebagai seorang pemimpin dan konsultan yang tugasnya membantu para guru, bukan sebagai orang yang memaksakan metode-mrtode yang telah diberikan dari atasan. Seorang supervisor harus sadar betapa pentingnya arti hubungan manusia yang perlu diterapkannya dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
b. Peran Supervisor dalam Kesejahteraan Guru
Secara hakiki sejahtera tidak dapat diukur, sejahtera berarti terpenuhi semua kebutuhan lahir maupun batin, sandang, pangan dan papan.
Peningkatan kesejahteraan dapat berupa kesejahteraan ekstrinsik dan intrinsik. Kesejahteraan ekstrinsik terkait dengan gaji yang layak yang minimal dapat memenuhi kebutuhan fisik (faali/fisiologis) yang menurut Maslow sebagaimana dikutip Robins meliputi: rasa lapar, haus, perlindungan (pakaian, perumahan), seks, dan kebutuhan ragawi lainnya. Walaupun besarnya gaji diyakini sangat menentukan tingkat kesejahteraan, namun bukanlah satu-satunya. Seandainya kemampuan lembaga terbatas untuk memberikan gaji yang memadai, lembaga dapat melakukan cara-cara lain dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia lainnya sebagaimana dikemukakan Maslow.
Kebutuhan itu meliputi: jaminan keamanan (fisik dan emosional), sosial (kasih sayang, rasa memiliki, diterima-baik, dan persahabatan), perhargaan (penghargaan internal seperti harga diri, otonomi dan prestasi; dan faktor hormat eksternal seperti misalnya status, pengakuan dan perhatian), dan aktualisasi diri (dorongan untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi; mencakup pertumbuhan, mencapai potensialnya, dan pemenuhan-diri).
Kesejahteraan guru menjadi jantungnya pelayanan pendidikan, karena dengan system insentif yang wajar dan berkeadilan dapat diharapkan suatu komitmen guru untuk memberikan pelayanan optimal dan terbaik bagi masyarakat.
Sebagai seorang supervisor seharusnya mengambil keputusan untuk memperhatikan kesejahteraan guru, dengan cara memberikan insentif yang layak, perlu memberikan tunjangan khusus, sehingga mereka benar-benar memberikan perhatian penuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah masing-masing.
Sehingga mereka akan bekerja dengan baik, belajar dan mengajar dengan baik, dedikasi dan loyalitas tinggi apabila gaji yang mereka terima wajar dan berkeadilan .
c. Peran Supervisor dalam Kepuasan Kerja Guru
Proses pembelajaran merupakan tahap pelaksanaan yang telah direncanakan oleh guru. Dalam kegiatan ini kemampuan yang dituntut adalah keaktifan guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan rencana yang telah disusun. Dalam pelaksanan proses pembelajaran guru juga harus menganalisa apakah siswa sudah memahami materi pembelajaran yang diberikan, dan apakah metode dalam pembelajaran perlu diubah atau tidak, sehingga apa yang menjadi tujuan proses pembelajaran dapat tercapai.
Seorang supervisor harus memperlihatkan kepercayaannya atas apa yang dikerjakan oleh para guru karena para guru, pada umumnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai supervisi yang memberikan kesempatan-kesempatan kepada mereka untuk dapat menjalankan kemampuan/kepandaian dan kreasi/inovasi mereka sehingga tercipta iklim yang menstimulasi tumbuhnya inisiatif dan keaslian(originalitas) para guru.
Menurut Pidarta (1999) bahwa setiap guru adalah merupakan pribadi yang berkembang. Bila perkembangan ini dilayani, sudah tentu dapat lebih terarah dan mempercepat laju perkembangan itu sendiri, yang pada akhirnya memberikan kepuasan kepada guru-guru dalam bekerja di sekolah sehingga sebagai pekerja, guru harus berkemampuan yang meliputi unjuk kerja, penguasaan materi pelajaran, penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, penguasaan cara-cara menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk melaksanakan tugasnya.
d. Peran Supervisor pada Kinerja Guru dalam PBM
Keberhasilan seorang guru dalam kegiatan-kegiatan pengajaran sebagian besar bergantung pada tingkat orientasi dan penguasaan yang dimilikinya atas bidang-bidang materi subjek yang diajarkannya.
Guru dituntut memiliki kinerja yang mampu memberikan dan merealisasikan harapan dan keinginan semua pihak terutama masyarakat umum yang telah mempercayai sekolah dan guru dalam membina anak didik. Dalam meraih mutu pendidikan yang baik sangat dipengaruhi oleh kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya sehingga kinerja guru menjadi tuntutan penting untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Secara umum mutu pendidikan yang baik menjadi tolok ukur bagi keberhasilan kinerja yang ditunjukkan guru.
Guru sebagai pekerja harus berkemampuan yang meliputi penguasaan materi pelajaran, penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, penguasaan cara-cara menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk melaksanakan tugasnya, disamping itu guru harus merupakan pribadi yang berkembang dan bersifat dinamis. Hal ini sesuai dengan yang tertuang dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban :
(1) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis,
(2) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan
(3) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Harapan dalam Undang-Undang tersebut menunjukkan adanya perubahan paradigma pola mengajar guru yang pada mulanya sebagai sumber informasi bagi siswa dan selalu mendominasi kegiatan dalam kelas berubah menuju paradigma yang memposisikan guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran dan selalu terjadi interaksi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa dalam kelas. Kenyataan ini mengharuskan guru untuk selalu meningkatkan kemampuannya terutama memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
Seorang supervisor hendaknya membangkitkan dan memelihara kegairahan kerja guru untuk mencapai prestasi kerja yang semakin baik. Guru-guru didorong untuk mempraktikkan gagasan-gagasan baru yang dianggap baik bagi penyempurnaan proses pembelajaran, bekerjasama dengan guru (individu atau kelompok) untuk mewujudkan perubahan yang dikehendaki, merangsang lahirnya ide baru, dan menyediakan rangsangan yang memungkinkan usaha-usaha pembaruan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Dimana seorang supervisor harus memberikan kesempatan bagi para guru untuk turut serta dalam kegiatan-kegiatan kepemimpinan, baik didalam sekolah yang bersangkutan maupun dalam wadah Lingkar Kerja Bersama (LKB), serta belajar bagaimana memecahkan masalah masalah-masalah mereka sendiri dan belajar bagaimana mereka dapat saling
C. Cara Mempraktekkan Peran Supervisi dalam Pembinaan Guru Bermasalah
Sehubungan dengan peningkatan kualitas guru, ada baiknya kita kutip pendapat Mohamad Sobari ketika memberikan kata pengantar pada karya-karya Putu Wijaya pada buku Zig Zag (1996) bahwa sebuah kearifan hanya bisa dicapai lewat pergulatan hidup. Apa yang bisa kita tafsirkan dalam konteks guru? Tampaknya para guru kita belum banyak bergulat dalam meningkatkan kualitas dirinya selaku guru. Keikutsertaanya dalam seminar, lokakarya, pelatihan, lebih banyak karena sertifikatnya atau perintah atasan. Ternyata kegagalannya selalu dilimpahkan kepada orang lain, seperti siswa, orang tua, atasan, masyarakat walaupun ada benarnya.
Ada beberapa cara yang lazimnya dijalankan oleh seorang supervisor dalam membantu guru-guru yang bermasalah dalam berbagai kasus antara lain :
1. Membantu guru baru atau guru pengganti, dalam kasus ini supervisor perlu menyediakan dan membagikan semacam panduan ataupun handbook yang berisi :
a. Informasi tentang peraturan-peraturan setempat bagi para guru.
b. Informasi tentang prosedur-prosedur serta konvensi-konvensi di sekolah.
c. Informasi tentang masyarakat setempat, termasuk peta serta keterangan-keterangan tentang karakteristik-karakteristik yang bertalian dengan sekolah dan populasi muted.
d. Informasi tentang sumber-sumber yang tersedia di masyarakat yang dapat dimanfaatkan bagi proses belajar mengajar.
2. Membantu guru yang kurang efektif, dengan cara :
a. Supervisor bersama guru yang kurang efektif melakukan kunjungan kepada guru yang superior.
b. Guru yang memang superior sebaiknya diminta bantuannya untuk membina guru yang lemah.
c. Setelah mengkaji situasinya, biasanya dijumpai bahwa guru yang lemah sebenarnya lebih efektif mengajar murid-murid yang tingkat umurnya lebih muda, oleh karena itu sebaiknya ia dipindahkan untuk mengajar anak-anak yang lebih mudah.
d. Biasanya keefektifan guru dapat lebih ditingkatkan bila ia mengajarkan subjek yang lain. Oleh karena itu, ada baiknya disusun suatu penugasan baru bagi guru yang lemah.
e. Alternatif lain ialah ada baiknya guru yang lemah untuk sementara menjalani magang dahulu kepada guru yang superior.
3. Membantu guru yang superior
Guru-guru yang superior harus diperhatikan dan dikembangkan agar mereka dapat terus meningkat secara professional. Pada kenyataannya banyak guru yang superior yang keefektifannya menonjol, karena mereka telah menggunakan metode mengajar yang telah disesuaikan dengan kepribadian mereka masing-masing. Ini tidak berarti bahwa mereka akan berhasil pula bila memakai teknik-teknik lainnya. Sejalan dengan kenyataan itu, mereka perlu dikembangkan lebih lanjut secara optimal, yaitu dengan cara sebagai berikut :
a. Supervisor harus memberikan lebih banyak kebebasan kepada mereka, agar inisiatif mereka dapat tumbuh sepenuhnya.
b. Mereka perlu didorong untuk mencoban ide-ide baru dan agar mereka selalu mengikuti perkembangan tanpa disertai adanya tekanan-tekanan dari pihak supervisor.
c. Guru yang supervisor seharusnya jangan dijadikan key teacher secara otomatis sampai pada taraf kelebihannya itu benar-benar nyata dimata rekan-rekan sejawatnya.
4. Membantu guru yang mempunyai kelemahan dalam kepribadian
Kelemahan-kelemahan tersebut yaitu :
a. Kerusakan dalam suara dan bicara : tidak jelas, membentak-bentak, adanya nada yang mengecil atau parau ataupun dapat pula dalam bentuk kekurangan tenaga dan warna suara monoton, kalau berbicara terlalu cepat ataupun tidak mempunyai sifat humoris dalam gaya bicaranya.
b. Kekurangan dalam tampang (wajah) serta kepekaan terhadap orang lain, misalnya barpakaian secara berlebih-lebihan, raut wajah yang tidak pernah berubah dan bau badan.
c. Kekurangan-kekurangan dalam karakter ataupun adanya kelainan dalam kepribadian si guru, misalnya : mudah tersinggung, keseriusan yang berlebih-lebihan, tidak memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri.
Ada beberapa cara yang dapat ditempuh oleh supervisor dalam menangani guru-guru yang mempunyai kekurangan dalam kepribadian mereka antara lain :
1. Bagi guru yang mengalami gangguan dalam suara , supervisor dapat menggunakan tape recorder untuk merekam suara guru yang kemudian secara bijaksana dibahas bersama guru yang bersangkutan.
2. Kunjungan antar kelas dapat membantu menghilangkan kekurangan dalam kepribadian guru atau dengan memberikan sedikit demontrasi kepada guru.
3. Pada umumnya melalui pendiskusian kekurangan tersebut secara jujur dan objektif dengan guru yang bersangkutan akan lebih baik dalam usaha mengatasinya walaupun memang dirasakan amat menyakitkan bagi kedua belah pihak.



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
a. Peran Supervisor Dalam Pembinaan Sikap Guru :
Ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan oleh seorang supervisor terhadap guru dalam rangka melaksanakan, mengoreksi, memperbaiki dan membina proses belajar mengajar bersama guru. Diantaranya adalah :
1. Pendekatan Humanistik
2. Pendekatan Kompetensi
3. Pendekatan Klinis
4. Pendekatan Profesional
Hendiyat Soetopo (1985: 55), menyebutkan bahwa kepala sekolah mempunyai beberapa peran penting yaitu sebagai berikut.
a. Peran pembimbingan yaitu membimbing guru agar dapat memahami secara lebih jelas masalah atau persoalan-persoalan dan kebutuhan murid serta membantu guru dalam mengatasi persoalan, memberikan bimbingan yang bijaksana terhadap guru baru dengan sifat materinya.
b. Peran memberi bantuan yaitu membantu guru dalam mengatasi kesukaran dalam mengajar, membantu guru memperoleh kecakapan mengajar yang sesuai dengan sifat materinya, membantu guru memperkaya pengalaman belajar sehingga suasana pengajaran bisa menggembirakan anak didik, dan membantu guru mengerti makna dari alat-alat pelajaran.
c. Peran memberikan layanan yaitu memberi pelayanan kepada guru agar dapat menggunakan seluruh kemampuannya dalam melaksanakan tugas.
d. Peran pembinaan yaitu membina moral kelompok, menumbuhkan moral yang tinggi dalam pelaksanaan tugas.
Pendapat tersebut menunjukkan adanya aktifitas supervisi antara kepala sekolah dan guru yang meliputi kegiatan pembimbingan, bantuan, layanan, serta pembinaan yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan guru dalam proses pembelajaran.

b. Peran Supervisor dalam Memecahkan Masalah Keluh Kesah Guru, Kesejahteraan, Kepuasan Kerja, Kinerja Guru dalam PBM.
1. Peran Supervisor dalam Memecahkan Masalah Keluh Kesah Guru :
Dimana seorang supervisor yang baik adalah orang yang mampu melihat fungsi-fungsinya sebagai seorang pemimpin dan konsultan yang tugasnya membantu para guru, bukan sebagai orang yang memaksakan metode-mrtode yang telah diberikan dari atasan. Seorang supervisor harus sadar betapa pentingnya arti hubungan manusia yang perlu diterapkannya dalam melaksanakan tugas-tugasnya
2. Peran Supervisor dalam Kesejahteraan Guru :
Sebagai seorang supervisor seharusnya mengambil keputusan untuk memperhatikan kesejahteraan guru, dengan cara memberikan insentif yang layak, perlu memberikan tunjangan khusus, sehingga mereka benar-benar memberikan perhatian penuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah masing-masing.
3. Peran Supervisor dalam Kepuasan Kerja Guru :
Seorang supervisor harus memperlihatkan kepercayaannya atas apa yang dikerjakan oleh para guru karena para guru, pada umumnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai supervisi yang memberikan kesempatan-kesempatan kepada mereka untuk dapat menjalankan kemampuan/kepandaian dan kreasi/inovasi mereka sehingga tercipta iklim yang menstimulasi tumbuhnya inisiatif dan keaslian(originalitas) para guru.
4. Peran Supervisor pada Kinerja Guru dalam PBM :
Seorang supervisor hendaknya membangkitkan dan memelihara kegairahan kerja guru untuk mencapai prestasi kerja yang semakin baik. Guru-guru didorong untuk mempraktikkan gagasan-gagasan baru yang dianggap baik bagi penyempurnaan proses pembelajaran, bekerjasama dengan guru (individu atau kelompok) untuk mewujudkan perubahan yang dikehendaki, merangsang lahirnya ide baru, dan menyediakan rangsangan yang memungkinkan usaha-usaha pembaruan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya
c. Cara Mempraktekkan Peran Supervisi dalam Pembinaan Guru Bermasalah
1. Membantu guru baru atau guru pengganti, dalam kasus ini supervisor perlu menyediakan dan membagikan semacam panduan ataupun handbook.
2. Membantu guru yang kurang efektif
3. Membantu guru yang superior
4. Membantu guru yang mempunyai kelemahan dalam kepribadian
B. Saran
1. Sebagai mahasiswa seharusnya memahami akan peran supervisor dalam pembinaan guru.
2. sebagai mahasiswa, kita harus mengetahui peran supervisor dalam memecahkan masalah keluh kesah guru, kesejahteraan, kepuasan kerja, kinerja guru dalam pbm.
3. sebagai mahasiswa, kita harus dapat mengetahui cara mempraktekkan peran supervisi dalam pembinaan guru bermasalah.



DAFTAR PUSTAKA
1. Purwanto Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan.Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Cet 19. 2009.
2. Soetjipto dan Kosasi Raflis. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta. 2009.
3. Trimo, Soejono . Pengembangan Pendidikan. Bandung: Remaja Karya. 1986.
4. http:/Khalifatu Rabb-PENGEMBANGAN-PROFESIONALISME-GURU-DALAM-PEMBELAJARAN.html
5. http://www.docstoc.com/docs/21729917/Kesejahteraan-Guru
6. www.sdn-cijawura.sch.id/...guru...guru.../265-penilaian-kinerja-guru.html
7. http://gusppy.blogspot.com/2010/04/supervisi-pembelajaran.html
8. http://magsudinuny.wordpress.com/category/skripsiku.

Senin, 11 April 2011

RESUME

SIFAT-SIFAT UMUM AKTIVITAS MANUSIA

A. PERHATIAN
1. Pengertian :
a). Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertentu kepada suatu obyek.
b). Perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan.
2. Macam-macam perhatian
a. Atas dasar intensitasnya, yaitu banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas atau pengalaman batin, maka dibedakan menjadi :
1). Perhatian intensif
2). Perhatian tidak intensif
b. Atas dasar cara timbulnya, perhatian dibenadakan menjadi :
1). Perhatian spontan (perhatian tak-sekehendak, perhatian tak disengaja).
2). Perhatian sekehendak (perhatian disengaja, perhatian refleksi).
c. Atas dasar luasnya obyek yang dikenai perhatian, perhatian dibedakan menjadi :
1). Perhatian terpencar (distributive).
2). Perhatian terpusat (konsentratif).
3. Hal-hal yang menarik perhatian
a. Hal-hal yang keluar dari konteks (dari segi obyek).
b. Hal-hal yang berhubungan dengan pribadi obyek (dari segi subyek).

B. PENGAMATAN

1. Pengertian :
a. Pengamatan adalah sesuatu objek yang diamati dengan melihat, mendengar, dan seterusnya.
b. Pengamatan adalah pengenalan dunia rill dengan alat indera.
Adapun pengaturan dalam pengamatan adalah sebagai berikut :
a. Pengaturan menurut sudut pandangan ruang.
b. Pengaturan menurut sudut pandangan waktu.
c. Pengaturan menurut sudut pandangan Gestalt.
2. Penglibatan
Menurut objeknya masalah penglibatan digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Melihat bentuk, yaitu melihat objek yang berdimensi dua.
(1) Hubungan objek pokok dan latar belakang :
a. Objek pokok lebih berbentuk, latar belakang kurang berbentuk.
b. Objek pokok di depan, latar belakang di belakang.
c. Latar belakang cenderung untuk meluas di belakang objek pokok.
d. Batas-batas (contour) termasuk pada daerah objek pokok, bukan pada latar belakang.
e. Objek pokok lebih berkesan, lebih mudah diingat, lebih cenderung untuk punya arti.
(2) Hukum-hukum Gestalt penglihatan, sebagai berikut :
a. Hukum keterdekatan, artinya yang terdekat merupakan gestalt.
b. Hukum ketertutupan, artinya yang tertutup merupakan gestalt.
c. Hukum kesamaan, artinya yang sama merupakan gestalt.
(3) Peranan sikap batin subjek.
Jika suatu medan penglihatan yang belum jelas strukturnya maka mana yang merupakan gestalt itu tergantung kepada kita, dimana gestalt itu dapat di deretan menegak, deretan mendatar, deretan miring ke kiri, deretan miring ke kanan, tergantung kepada sikap batin kita (keinginan kita untuk menjadikan yang mana merupakan gestalt itu). Jadi makin kurang jelas struktur medan penglihatan makin pentinglah peranan sikap batin orang yang mengamati.
(4) Konstansi bentuk
Suatu objek yang dilihat dari berbagai sudut, sehingga bentuk perspektifnya berlainan pula, akan tetapi ketika dirasa (tahu, mengerti) bahwa bentuknya itu tetap dan satu saja.
2. Melihat Dalam, yaitu melihat objek berdimensi tiga.
Sebab-sebab terjadinya konstansi besar yaitu :
a. Objek-objek yang dihadapi tidak dilihat sebagai fenomen-fenomen yang berdiri sendiri, melainkan selalu dalam hubungan satu sama lain dalam konteks tertentu.
b. Prinsip proporsionalitas, yaitu bahwa proporsi atau perbandingan benda-benda satu terhadap yang lain serta terhadap tempatnya adalah sama.
3. Melihat Warna
1. Nilai efektif warna
Warna sangat mempengaruhi tingkah laku si penghuni rumah. Masing-masing warna mempunyai nada yang membentuk medan tingkah laku, memberi corak kepada perbuatan atau reaksi orang.
2. Nilai lambing warna
Warna itu melambangkan sesuatu yaitu :
a. Warna hitam melambangkan kegelapan, kesedihan
b. Putih melambangkan kesucian, cahaya
c. Merah melambangkan sifat-sifat ekspansif, dominant, vital, berani
d. Kuning melambangkan hal-hal atau benda-benda yang bersifat bercahaya, ringan, riang
e. Biru melambangkan sifat-sifat yang dalam tak terhingga, tenang, kesosialan
f. Hijau melambangkan keseimbangan, keselarasan, ketenangan, harapan
g. Dan lain sebagainya.
3. Pendengaran
Mendengar adalah menangkap bunyi-bunyi (suara) dengan indra pendengaran.
Bunyi dapat berfungsi 2 macam :
1. sebagai tanda (signal)
2. sebagai lambing
Bunyi berfungsi sebagai pendukung arti, karena itulah maka sebenarnya yang ditangkap atau didengar adalah artinya, bukan bunyi atau suaranya.
Bunyi atau suara dapat digolongkan atas dasar dua cara, yaitu :
(a). Berdasarkan atas keteraturan dapat kita bedakan antara :
1. gemerisik
2. nada
(b). Nada bias dibeda-bedakan atas dasar :
1. tinggi rendahnya, yang tergantung kepada besar kecilnya frekuensi.
2. Intensitasnya, yang tergantung kepada amplitudonya.
3. Timbrenya, yang tergantung kepada kombinasi bermacam-macam frekuensi dalam tinggi rendahnya suara.
4. Rabaan
Istilah raba mempunyai dua arti, yaitu :
a. Meraba, sebagai perbuatan aktif, yang meliputi juga indera keseimbangan atau kinestesi
b. Pengalaman raba secara pasif, yang meliputi pula beberapa indra, atau kemampuan lain, yaitu :
1. indera untuk sentuh dan tekanan
2. indera untuk mengamati panas
3. indera untuk mengamati dingin
4. indera untuk merasa sakit
5. indera untuk vibrasi
6. Pembauan (Penciuman)
Henning (1924) membedakan adanya enam macam bau utama (bau pokok) yaitu :
1. bau bunga (blumig)
2. bau akar (warzig)
3. bau buah (cruchig)
4. bau getah (barzig)
5. bau busuk (faulig)
6. bau sangit (brenzlich)
Swaatdeaker (Kohnstamm dkk,1955 :103) menggolongkan bau menjadi sembilan macam bau, yaitu :
1. bau etheris
2. bau aromatis
3. bau bunga
4. bau amber
5. bau bawang
6. bau sangit
7. bau kapril
8. bau tak sedap
9. bau memuaskan
6. Pencecapan
Empat macam rasa pokok, yaitu :
1. manis
2. asam
3. asin
4. pahit
7. Beberapa Masalah Praktis
a. Pengamatan merupakan pintu gerbang untuk masuknya pengaruh dari luar, baik pengaruh dunia fisis, pengalaman, maupun pendidikan.
Kedudukan fungsi pengamatan yang demikian sentral maka sudah sewajarnya apabila alat-alat pengamatan yaitu pancaindera.
Pokok-pokok usaha ini dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu :
1. Usaha yang bersifat preventif, yaitu penjagaan jangan sampai pencaindera menjadi cedera atau menjadi tidak normal berfungsinya.
2. Usaha-usaha yang bersifat korektif atau kuratif, yaitu usaha-usaha untuk memperbaiki atau menyembuhkan pancaindera yang kurang normal atau kurang sehat.
b. Terlebih-lebih bagi anak, peranan pancaindera dalam menerima pendidikan atau belajar itu boleh dikatakan bersifat menentukan.
Para ahli psikologi mengolong-golongkan manusia dalam menangkap dan meresapkan sesuatu sesuai modalitas pengamatan, maka ada lima tipe manusia, yaitu :
1. Tipe visual
2. Tipe auditif
3. Tipe taktil
4. Tipe gustatil
5. Tipe olfaktoris
c. Selama system sekolah serta pendidikan masih seperti yang kita kenal sekarang ini, maka di antara kelima modalitas pengamatan yang paling penting peranannya adalah penglihatan dan pendengaran.

C. TANGGAPAN DAN VARIASINYA
1. Pengertian Tanggapan
Tanggapan adalah bayangan yang tinggal dalam ingatan setelah kita melakukan pengamatan.
Menurut Linschoten, “menanggap adalah melakukan kembali sesuatu perbuatan atau melakukan sebelumnya sesuatu perbuatan tanpa hadirnya objek fungsi primer yang merupakan dasar dari modaslitas tanggapan itu”.
Tanggapan dibagi menjadi 3 macam, yaitu :
1. Tanggapan masa lampau atau tanggapan ingatan.
2. Tanggapan masa dating atau tanggapan mengantisipasikan.
3. Tanggapan masa kini atau tanggapan representative (tanggapan mengimajinasikan).
2. Bayangan Pengiring
Bayangan pengiring adalah bayangan yang timbul setelah kita melihat sesuatu warna.
Bayangan pengiring dibagi menjadi 2 macam :
1. Bayangan pengiring positif, yaitu bayangan pengiring yang sama dengan warna objeknya.
2. Bayangan pengiring negative, yaitu bayangan pengiring yang tak sama dengan warna objeknya.
3. Bayangan Eidetik
Bayangan eidetik adalah bayangan yang sangat jelas dan hidup, sehingga menyerupai pengamatan.
Urbanschnitsch dan E.Jaensch dan W.Jaensch, membedakan adanya dua macam tipe, yaitu :
1. Tipe tetancide atau Type T
2. Tipe basedoide atau Type B

D. FANTASI
1. Pengertian
Fantasi didefinisikan sebagai daya untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan-tanggapan yang sudah ada dan tanggapan baru itu tidak harus sesuai dengan benda-benda yang ada.
Fantasi itu dilukiskan sebagai fungsi yang memungkinkan manusia untuk berorientasi dalam alam imajiner melampaui dunia riil.
2. Klasifikasi
Fantasi dapat digolongkan menjadi dua macam,yaitu :
1. fantasi tak disadari, yaitu fantsi yang terjadi dengan tak disadari, jadi orang melampaui dunia riil dengan tak disengaja.
2. fantasi disadari, yaitu fantasi yang terjadinya dengan disengaja, dan ada usaha dari subjek untuk masuk ke dunia imajiner. Fantasi ini dapat digolongkan menjadi 2 macam :
- Fantasi secara aktif, yaitu dikendalikan oleh pikiran dan kemauan.
- Fantasi secara pasif, yaitu tidak dikendalikan jadi seolah-olah orangnya hanya pasif saja sebagai wadah tempat bermainnya tanggapan-tanggapan.
Fantasi yang disadari yang secara aktif itu masih dapat lagi dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1. Fantasi mencipta, yaitu fantasi yang mengadakan (menciptakan) tanggapan-tanggapan yang benar-benar baru.
2. Fantasi terpimpin, yaitu fantasi yang mengikuti gambaran angan-angan (buah fantasi) orang lain.
3. Nilai Praktis Fantasi
Nilai praktis fantasi antara lain :
a. Memungkinkan orang menempatkan diri dalam hidup kepribadian orang lain, dengan demikian maka dapat memahami sesame manusia.
b. Memungkinkan orang untuk menyelami sifat-sifat kemanusiaan pada umumnya.
c. Memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari ruang dan waktu, sehingga ia bias belajar geografi, sejarah dan sejenisnya.
d. Memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari kesukaran yang dihadapi, melupakan kegagalan-kegagalannya pada masa lampau.
e. Memungkinkan orang untuk menyelesaikan konflik riil secara imajiner, sehingga dapat mengurangi tegangan psikis dan menjaga keseimbangan batin.
f. Memungkinkan manusia untuk menciptakan sesuatu yang dikejar, membentuk masa depan yang ideal dan berusaha merealisasikannya.

E. INGATAN
1. Pengertian
Secara teori ada tiga aspek dalam berfungsinya ingatan itu, yaitu :
a. Mencamkan, yaitu menerima kesan-kesan
b. Menyiapkan kesan-kesan
c. Mereproduksikan kesan-kesan
Ingatan yang baik mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
1. Cepat atau mudahnya mencamkan
2. Setiah, yaitu yang dicamkan tidak berubah
3. Teguh, yaitu lama tak berubah
4. Luas dalam menyimpan
5. Siap atau sedia dalam memproduksikan kesan-kesan
2. Mencamkan
Menurut terjadinya, mencamkan itu dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
a. Mencamkan yang sekehendak, yaitu mencamkan dengan sengaja dan dikehendaki dengan sadar sungguh-sungguh mencamkan sesuatu.
b. Mencamkan yang tidak sekehendak, yaitu dengan tidak dikehendaki dan tidak disengaja memperoleh sesuatu pengetahuan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pencaman, antara lain :
a. Menyuarakan
b. Pembagian waktu belajar
c. Penggunaan metode belajar yang tepat
Tiga macam metode belajar antara lain :
1. Metode Ganzlearn (G), yaitu metode menghafal dengan mengulang berkali-kali dari permulaan sampai akhir.
2. Metode Teillern (T), yaitu metode menghafal sebagian demi sebagian. Masing-masing bagian itu dihafal.
3. Metode Vermittelendelern (V), yaitu metode menghafal bagian-bagian yang sukar dahulu, selanjutnya dipelajari dengan metode keseluruhan.
d. Mneumotechnik atau titian ingatan, yaitu dengan akal dicari jalan supaya bahan yang dihafal mudah dicamkan.Contoh :
1. POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling)
2. ANAITU (Alif, Nun, Ya, Ta)
e. Penggolongan secara rythmis (lagu, nadhom)
f. Penggolongan kesatuan dalam ruang(Ikhtisar, table)
g. Penggolongan menjadi kumpulan-kumpulan
3. Mengingat dan Lupa
Hal yang diingat adalah hal yang tidak dilupakan, dan hal yang dilupakan adalah hal yang tidak diingat (tak dapat diingat kembali)
Jika kita ingin mengingat bahan yang ingin kita ingat, haruslah terus-menerus kita ulangi dan untuk keperluan ini tentu saja kita harus membagi-bagi waktu belajar secara baik.
4. Reproduksi
Reproduksi adalah pengaktifan kembali hal-hal yang telah dicamkan. Dalam reproduksi ada dua bentuk, yaitu :
a. Mengingat kembali (recall)
b. Mengenal kembali (recognition)
Perbedaan antar mengingat kembali dan mengenal kembali antara lain :
a. Pada mengingat kembali tak ada objek yang dapat dipakai sebagai tumpuan atau pegangan dalam melakukan reproduksi .
b. Pada mengenal kembali ada sesuatu yang dapat dipakai sebagai tumpuan dalam melakukan reproduksi itu sebagai objek untuk mencocokkan.

5. Asosiasi
Asosiasi adalah hubungan antara tanggapan yang satu dengan tanggapan yang lainnya dalam jiwa.
Hukum-hukum dalam asosiasi, antara lain :
a. Hukum sama saat atau serentak, yaitu beberapa tanggapan yang dialami dalam waktu bersamaan cenderung untuk berasosiasi antara satu dengan lainnya.
b. Hukum berturutan, yaitu beberapa tanggapan yang dialami berturut-turut cenderung untuk berasosiasi antara satu dengan lainnya.
c. Hukum kesamaan atau kesesuaian, yaitu beberapa tanggapan yang bersesuaian cenderung untuk berasosiasi antara satu dengan lainnya.
d. Hukum berlawanan, yaitu tanggapan-tanggapan yang saling berlawanan akan berasosiasi satu sama lainnya.
e. Hukum sebab-akibat, yaitu tanggapan yang mempunyai hubungan sebab-akibat cenderung untuk berasosiasi satu sama lain.

F. BERFIKIR
1. Pengertian
1. Menurut ahli-ahli psikologi asosiasi, berfikir adalah kelangsungan tanggapan-tanggapan di mana subjek yang berfikir pasif.
2. Menurut Plato, berfikir adalah berbicara dalam hati (aktivitas ideasional). Pada pendapat yang terakhir ini dikemukakan dua kenyataan, yaitu :
a. Bahwa berfikir itu adalah aktivitas , jadi subjek yang berfikir aktif
b. Bahwa aktivitas itu sifatnya ideasional, jadi bukan sensoris dan bukan motoris.
Bisa ditarik kesimpulan bahwa berfikir adalah proses dinamis yang dapat dilukiskan menurut prosesnya. Yaitu : Pembentukan pengertian, Pembentukan pendapat, Penarikan kesimpulan.
2. Proses Berfikir
a. Pembentukan Pengertian
1. Menganalisis cirri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis
2. Membandingkan-bandingkan cirri-ciri tersebut untuk diketemukan cirri-ciri mana yang sama, mana yang tidak sama, mana yang selalu ada dan mana yang tidak selalu ada, mana yang hakiki dan mana yang tidak hakiki.
3. Mengabsraksikan, yaitu menyisihkan, membuang, cirri-cirinya yang tidak hakiki, mengkap cirri-ciri yang hakiki.
b. Pembentukan Pendapat
Membentuk pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebuh. Dimana pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat yang terdiei dari subjek (pengertian yang diterangkan) dan predikat (pengertian yang menerangkan).
Pendapat dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
1. Pendapat afirmatif atau positif, yaitu pendapat yang menyatakan yang secara tegas menyatakan keadaan sesuatu.
2. Pendapat negative, yaitu pendapat yang menidakkan yang secara tegas menerangkan tentang tidak adanya sesuatu sifat pada sesuatu hal.
3. Pendapat modalitas atau kebarangkalian, yaitu pendapat yang menerangkan kebarangkalian , kemungkinan-kemungkinan sesuatu sifat pada sesuatu hal.

c. Penarikan Kesimpulan atu Pembentukan Keputusan
Keputusan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada tiga macam keputusa, yaitu :
1. Keputusan Induktif, yaitu keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat khusus menuju ke satu pendapat umum.
2. Keputusan Deduktif, yaitu keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat umum menuju ke satu pendapat khusus.
3. Keputusan Analogi, yaitu keputusan yang diperoleh dengan jalan membandingkanatau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah ada.
3. Psikologi Pikir
a. Intisari Pendapat Mazhab Wurzburg, pokok-pokok pikiran yang dikemukakan dalam pidatonya yaitu :
1. Ada isi kesadaran yang tak berperaga.
2. Dalam proses berfikir aktivitas “AKU” memegang peranan penting.
3. Proses berfikir dikuasai oleh tendens determinasi yang ditimbulkan oleh Denkaufgabe (hal yang dipikirkan).
b. Intisari Pendapat Mazhab Koln
1. Hasil penelitian frohn mengenai berpikirnya anak bisu tuli memberikan kesimpulan bahwa anak bisu-tuli , anak terbelakang, dan anak kecil tak dapat melepaskan diri dari hal yang berperaga, tak dapat melakukan generalisasi.
2. Lapisan-lapisan kesadaran
a. Isi teori tersebut : ada tiga lapisan kesadaran, yaitu :
1. Tanggapan individu
2. Tanggapan Bagan
3. Tanggapan Abstrak
b. Peranan lapisan-lapisan kesadaran tersebut
Nilai teori tersebut bagi praktik pendidikan
d. Intisari Pendapat Mazhab Mannheim
Tujuannya yaitu menyusun teori berfikir yang benar-benar lepas dari asosiasi. Hal ini tidak berarti bahwa mazhab ini mengingkari adanya tanggapan dan asosiasi, asosiasi diakui adanya , tetapi tidak sebagai proses yang pokok dari pada berfikir.
Atas dasar hasil-hasil penelitian mazhab Mannheim itu Sels merumuskan pendapat tentang proses berfikir itu yang pokoknya demikian :
1. Berfikir itu berupah tujuan
2. Proses berfikir itu adalah proses melengkapkan kompleks
Sels memberikan tiga buah hokum mengenai perlengkapan kompleks itu yaitu :
a. Suatu bagan kompleks mempunyai tendens untuk memproduksi seluruh kompleks
b. Suatu bagan antisipasi suatu kompleks punya tendens untuk memproduksikan seluruh kompleks
c. Determinasi yang diarahkan kepada perlengkapan suatu kompleks yang telah diantisipasi secara vbagan menyebabkan adanya tendensi untuk melengkapi seluruh kompleks
3. Bagan Antisipasi
4. Berfikir adalah mempergunakan metode penyelesaian soal yang umumnya berlangsung tanpa mengetahuimetode penyelesaian itu.

G. PERASAAN
1. Pengertian
Perasaan adalah gejala psikis yang bersifat subjektif yang umumnya berhubungan dengan gejla-gejala mengenal, dan dialami dalam kualitas senang atau tidak senang dalam berbagai taraf.
2. Macam-macam Perasaan
a. Perasaan –perasaan jasmaniah (rendah) :
1. Perasaan Indriah (perasaan yang berhungan dengan pancaindera)
2. Perasaan Vital (perasaan yang berhungan dengan jasmani)
b. Perasaan-perasaan Rohaniah :
1. Perasaan Intelektual (kesanggupan pikiran dalam memecahkan masalah)
2. Perasaan Kesusilaan (Perasaan tentang baik- buruk)
3. Perasaan Keindahan (Perasaan tentang indah dan tidak indah)
4. Perasaan Sosial (Perasaan untuk bermasyarakat)
5. Perasaan harga diri (Perasaan harga diri yang positif dan negatif)
6. Perasaan Keagamaan (Perasaan yang bersangkutan dengan kepercayaan)

H. MOTIF-MOTIF
1. Pengertian
Motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai sesuatu tujuan.
2. Macam-macam Motif
a. Menurut Woodworth dan Marquis, motif dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
1. Kebutuhan-kebutuhan organic (Kebutuhan minum, makan, bernafas, seks, istirahat, berbuat)
2. Motif-motif darurat (menyelamatkan diri, membalas, memburu,ini timbul karena rangsangan dari luar.
3. Motif-motif objektif (melakukan eksplorasi, manipulasi, menaruh minat)
b. Penggolongan lain berdasarkan atas terbentuknya motif-motif, yaitu :
1. Motif-motif bawaan( motif yang dibawa sejak lahir)
2. Motif-motif yang dipelajari (motif-motif yang timbulnya karena dipelajari)
c. Berdasarkan atas jalarannya, dibagi menjadi dua macam motif, yaitu :
1. Motif Ekstrinsik, yaitu motif yang berfungsi karena adanya perangsang dari luar.
2. Motif Intrinsik, yaitu motif yang berfungsi tidak usah dirangsang dari luar.
d. Ahli-ahli yang menggolongkan motif berdasarkan isi atau persangkut pautan, yaitu :
1. Motif Jasmaniah (refleks, instink, otomatisme, nafsu, hasrat,dll)
2. Motif Rohaniah (kemauan)
a. Momen timbulnya alasan-alasan
b. Momen pilih, yaitu keadaan dimana ada alternative-alternatif yang mengakibatkan persaingan antara alasan-alasan.
c. Momen putusan
d. Momen terbentuknya kemauan.